Selasa, 07 Juli 2015

Kebawa Perasaan

Aku selalu berdoa semoga selalu dijaga Allah. Silakan bahagia dengan cara anda. Bila memang kita, pasti akan dipertemukan dengan cara yang indah.

Aku selalu berdoa semoga selalu diberi kemudahan oleh Allah. Biarkan dengan cara Allah kamu merajut apa itu bahagia.

Mungkin kita tak sedekat dulu tapi doaku jauh lebih mendekatkanku dengan apa yang terbaik untukku. Semoga kamu termasuk doa yang diaminkan oleh Allah.

Perhatianku bukan untuk menyapa mu setiap waktu, tetapi perhatianku hanya lewat isyarat dalam setiap sujudku.

Semangatku untukmu setiap saat, ketika kamu terlelap tidur dan aku terbangun di ⅓ malamku. Aku selipkan namamu agar Allah memberi kekuatanmu hari ini dan seterusnya.

Aku akan melanjutkan cintaku sesuai yang diperintahkan. Tidak perlu mengumbar. Cukup aku dan Allah yang tahu. Seberapa sering Allah mendengar namamu dalam setiap doaku.

Aku akan terus memantaskan dan mempersiapkan hati. Suatu saat akan ada hari penentuan untuk sebuah kesetiaan. Semoga aku selalu bisa menerima setiap keputusan dari-Nya. Yang terpenting aku selalu berdoa semoga kita selalu dijaga. Kuharap kamu pun begitu.

Maafkan jika aku bukan ratna yang kamu kenal dulu. Aku jauh lebih bisa menata diri bahkan hidupku untuk menuju ridho-Nya. Jika kita masih percaya doa adalah cara mencintai yang paling rahasia, silakan lakukan itu. Simpan rapat-rapat perasaan ini dan rindu yang memuncak. Biarkan Allah yang menjaga. Serahkan pada-Nya.

Aku tak pernah takut untuk kehilangan. Karena aku masih punya Allah yang jauh lebih setia. Aku percaya sangat percaya takdirnya akan membawa pelangi indah yang akan aku lihat bersama orang yang masih dirahasiakan. Semoga kamu.

Semoga kamu tak pernah lelah membaca setiap tulisanku. Karena ditulisan ini kamu akan tahu seberapa takut aku pada Allah dan seberapa kuat aku memperjuangkanmu dijalan-Nya. Kamu orang yang dewasa dan pintar, jangan pernah tinggalkan sholat dan luangkan waktumu untuk baca Al-Qur'an.

Selamat berbuka puasa ^_^

Ratna Dyah Dwi Islamiati| 07-07-15

Senin, 06 Juli 2015

Malu, Diam, dan Cinta

Daun merintih kedinginan tergoyangkan oleh angin. Untaian kata manis membentuk sholawat terucap syahdu dari bibir yang kerap kali khilaf berbuat dosa. Tangan sibuk memainkan jari telunjuk penuh ketegasan. Mata berkedip pada Tuhan mengisyaratkan suatu hal. Waktu memang mengajarkanku banyak hal. Usia sudah tidaklah muda. Banyak salah dan dosa sudahlah pasti. Menghidupi mampi dengan sebaik-baiknya. Berpedoman pada ajaran islam yang benar. Ingin menjadi perempuan yang sebaik-baiknya perempuan. Dengan rasa malu pada Rabbku selalu kepegang.

Perempuan yang mempunyai kelembuatan hati luar biasa. Memikul beban pikiran dengan senyuman. Kadang memang lemah sebagai manusia biasa. Semakin tahu tentang kecintaan Allah padaku, semakin takut untuk menduakan. Seakan malu dan menundukkan kepala, bahwa memang Engkau sebaik-baiknya Perencana. Waktu sudah menjadi sumpah Allah yang tertera dalam QS.Al-'ASR. Semakin takut untuk menyalahkan waktu dan membuang percuma waktu untuk memikirkan yang bukan kodratnya untuk dipikirkan. Sering kali terbuai oleh rangkaian kata yang dihaturkan lawan jenis, membuat kita lupa akan cinta yang lebih abadi yaitu dari-Nya.

Sering kali keliru dalam pemahaman mengenai cinta. Wanita muslimah akan merasa gelisah bila hatinya mencintai cinta selain Rabbnya. Sering kali menangis memberontakkan hati dan pikiran untuk berjalan sesuai kodratnya. Perasaan cinta memang manusiawi. Perasaan itu akan ada, memang ada dan selalu ada. Tinggal pilihan kita sebagi umat yang taat pada Allah, apa yang harus diperbuat dan dilakukan. Dan Allah Maha Pencemburu, ketika Dia tahu bahwa cinta yang lain telah mengambil separuh perhatian kita hanya untuknya.

Diamku berbeda dengan diam—diam pada umumnya. Diamku menjadi doa yang kekal karena-Nya. Seakan ada tembok penghalang dengan kekuatan doa yang luar biasa membentengi hati dari cinta yang belum halal. Sedemikianlah cinta mempersembahkan lautan kata yang luar biasa mempesona. Membujuk untuk terlena didalamnya. Tapi tidak untuk wanita muslimah. Cukup dalam diam dia berdoa pada Rabbnya. Memohon ampun atas rasa yang melebihi rasa pada-Nya. Semoga aku termasuk wanita yang malu atas semua sikap yang telah kulakukan pada-Nya. Biarkan, aku dan dirimu dibatasi oleh rasa cinta dan malu karena-Nya. Biarkan lantunan doaku yang selalu menguatkan.

Aku tak pernah memaksa menangkap buih yang terbang menghilang. Biarkan masa membawanya pergi kembali pada cinta yang suci. Diamku penuh dengan kekuatan untuk menguatkan. Sesungguhnya cinta yang tak halal tak pantas untuk dimiliki. Karena memang belum menjadi hak kita pribadi. Melantunkan kata mesra pada pasangan 'yang belum halal' hanya perbuatan yang mendekati zina, dan Allah tidak menyukainya. Bila memang kita dipisahkan, maka ini seuatu rahmat dari Allah, mungkin bisa jadi dia bukan orang yang tepat untukmu dan hanya datang untuk belajar atau mengajarkan. Masa akan menunjukkan kesetiaannya. Tidak ada yang sia-sia untuk dijalankan. Apalagi ini karena-Nya. Sengguh memang Allah Maha membolak-balikkan hati. Biarkan buih itu terbang menghilang bersama masanya.

Menyerahkan hati pada Allah memang menjadi kunci utama membuat hati tenang dan damai. Biarkan rasa ini terbungkus manis dalam doa. Aku punya pedoman yang harusku junjung tinggi dan aku pun tahu kamupun sama sepertiku. Biarkan tasbih menjadi teman ⅓ malamku. Biarkan sajadah menjadi pelengkap yang abadi untuk curahanku. Biarlah tangan menjadi penggerak yang paling kuat menghapus setiap linangan air mataku. Dan aku selalu menyisakan waktuku untuk mendoakanmu. Allah memang tahu yang terbaik untuk hambanya.

Meski porsimu hanya kecil dihati, dalam sujudku tak pernah lupa mendoakanmu. Meskipun cintaku tak mutlak, tetapi tetap utuh dan sempurna. Karena imanku mempunyai malu untuk menyempurnakankannya. Malu pada pemilik nafasku.

Allah mempunyai rencana luar biasa untuk setiap hambanya yang takwa pada-Nya. Allah sering menguji keimanan kita. Karena Allah memang sayang kita. Tetap berserah diri pada Allah. Bila memang dia pasti akan dia. Jangan pernah takut untuk melepas. Lepaskan, karena dia bukan sepenuhnya hakmu dan memang bukan hakmu. Karena belum ada ikatan halal yang menyatukan. Maka lepaskanlah.

Kadangkala Allah menghilangkan mentari kemudian dia menggantikannya dengan gurun. Allah hanya ingin kalian tahu hidup tak selamanya mulus tanpa rintangan. Bila harus mencari mentari sampai kamu lupa mencintai dirimu sendiri apalagi Rabbmu. Sungguh sia-sia hidupmu. Padahal Allah menggantikan yang lebih indah yaitu dengan pelangi warna-warni untuk dapat kau lihat. Supaya kita mengerti kehilangan tak selamanya menyakitkan.

Untuk kamu rahasia Allah. Cukuplah diriku tahu dirimu punya iman dan Agama. Silakah berjuang dengan cara yang indah dan sederhana lewat sujud dan doa.

Ratna Dyah Dwi Islamiati| 06-07-15

Sabtu, 04 Juli 2015

Bercermin

Layaknya bercermim dari cerita banyak orang. Merajut sesak ketika ikut didalamnya. Ternyata aku belum lebih baik dari mereka, dan mereka tidak seburuk yang kukira.

Kamu sering menemui wanita yang bersolek manis dengan pipi merona, bulu mata palsu, bibir merah merona, dan pakaian ketat mengikuti bentuk tubuhnya. Mungkin menurutmu dia lebih menarik. Tapi aku bukan wanita seperti itu. Aku hanya wanita dengan baju kurung yang panjang sampai mata kaki, dengan hijab yang menutupi leher dan dadaku, hanya nampak sederhana dan sangat sederhana. Itu yang selalu diajarkan Rabbku untuk mempercantikku. Sikap keibuan yang menjadi pusatku, dan aku tertarik untuk mendalaminya. Karena apa, sikap keibuan bisa mengalahkan wanita cantik dengan polesan yang dapat terhapus tissu basah. Wanita mahal untuk laki-laki yang mahal pula.

#tes#SelamatPagi

Ratna Dyah Dwi Islamiati|05-07-15

Rabu, 01 Juli 2015

Cinta Yang Selayaknya KuPerjungkan

Pagi ini seakan mendapat peringatan dari Allah. Sekiranya kemarin telah melakukan dosa yang sengaja maupun tidak sengaja. Hati yang tidak tenang akibat lalai terhadap Penciptaku. Ingin rasanya hanya terfokus mencintai Allah saja. Tetapi kadang hati menyulut nada menghantarkan untuk kembali merindukan seseorang. Maafkan hati yang sering kali melakukan hal-hal diluar kendaliku ya Rabb. Tentang cinta padanya, ternyata kurang benar dimataMu. Masih banyak kekeliruan yang menyelimuti dalam diam. Tentang cinta yang katanya dalam diam. Aku pun kurang mengerti harus ku bagaimanakan cinta yang selalu berkembang. Mungkin pilihan untuk mengembalikan pria terbaik kepadaMu pilihan yang tepat. Dia bukan milikku sepenuhnya. Dia masih milikMu ya Rabb, masih menjadi hak utuhmu. Biarkan diri ini memperbaiki diri sehingga pantas bersanding dengan orang yang telah Engkau takdirkan untukku.

Cinta dalam diam, bukan hanya sekadar diam melainkan terus membenahi diri. Bila cinta kepadamu semakin berkembang mungkin ini sebagian rencana yang telah dirajutkan Allah untukku. Tugasku hanya berjalan turus dalam ridho Allah. Aku serahkan urusan cintaku kepadaMu ya Rabb. Jika Engkau izinkan nama ini tetap ada dihatiku, jagalah dia :) Agar aku tidak terlena terhadap cinta yang belum Engkau halalkan untukku. Jika memang nama itu harus Engkau sirnakan berikan keikhlasan hati, bahwa memang Engkau masih menginginkan kita merajut cinta hanya berdua ya Rabb.

Biarkan doa menjadi sarana abadi untuk melukiskan. Semoga engkau adalah dia yang Dia takdirkan untuk hatinya menjadi tempatku bersandar. Sekarang biarkan aku berserah pada Tuhanku. Tujuanku hidup hanya ingin kembali dengan jalan yang disukai Allah. Cinta dalam diamku tidak memikirkannya saat jauh. Bila memang dia biarkan doa yang menghapus jarak antara kita. Biarkan aku terus memantaskan agar pantas untuk diperjungkan. Biarkan doa menjadi saksi abadi tentang perasaan yang telah dijaga Tuhan. Pada munajat penuh tangis pada-Nya. Sesungguhnya Allah penentu cinta yang abadi. Biarkan, dan biarkan Allah menjadi petunjukku untuk memilih cinta yang direstui-Nya.

Ya Allah, bantu aku menata hati ini dan buatlah semuanya menjadi netral. Bila memang harus engkau netralkan. Bila memang cinta tak sesuai harapan. Bantu aku menyiapkan diri jika memang  rencanaMu tidak sesuai dengan harapan. Agar aku bisa siap untuk terus bertaubat dijalanMu. Semoga ini bukan hanya wacana tanpa apresiasi yang nyata. Aku menulis bukan untuk membinasakan cinta. Aku hanya ingin berserah diri atas takdir yang telah dituliskan untukku.

Saat resah meminang saya, biarkan hati berkecambuk dengan Tuhanku. Dia adalah obat dari segala penyakit hati. Seakan rindu terhampar dan tergambar nyata dalam melodi semesta, yang telah apik membawa rindu sedekat ini. Hanya doalah yang mampu ku panjatkan, biarkan angin dan doa berbaur menjadi satu. Biarkan tersimpan manis sampai sang waktu mengizinkan untuk rasa bertukar rindu karena-Nya, dengan cara-Nya dan dalam kondisi yang telah dihalalkan-Nya.

Sesungguhnya aku takut atas murka Allah yang amat pedih. Pantas saja Allah murka terhadap orang yang berbuat zina dan yang mendekati zina. Nauzubillahhimindalik... Ya Allah, aku tidak ingin menjadi bahan bakar nerakaMu cuma gara-gara naluri cintaku terhadapnya yang membuatMu cemburu ya Rabb. Rindu ini memang tak sepatutnya melebihi rinduku pada-Mu. Aku sekarang mengerti apa yang harus aku lakukan. Biarkan ini menjadi rahasia antara Engkau dan aku. Terimakasih untuk peringatan menjadi wanita yang lebih anggun lagi. Semoga dapat mengispirasi banyak orang.

Bila ada seseorang yang berkata "Islam tu jangan yang islam banget lah, islam tu yang biasa-biasa saja". Enggak! Islam itu bukan biasa saja tetapi luar biasa. Semoga Allah memberi rahmat agar kita jauh lebih mendalami dan mencintai Allah. Untuk kamu pria yang baik. Maaf, jika pilihanku untuk mengembalikanmu pada Allah belum bisa diterima nalar. Biarkan Allah juga sama-sama membimbing kita dalam jalan-Nya.

Bukannya saya menolak cinta yang begitu indah. Tapi aku takut cintaku pada Allah terganggu hingga memberi ruang kepada cinta selain Allah. Kata-kata ini aku kutip dari sebuah sinopsis "Ku Tinggalkan dia karena Dia". Aku setuju dengan kata itu. Aku sungguh takut jika Allah cemburu dan sampai murka. Aku pun belum tau apakan namamu yang terlulis di lauh Mahfuzh. Apakah kamu yang akan mendampingi dan mendekatkan ku dalam surga Allah. Belum tentu. Hanya Allah yang mengetahui jawaban pasti dari pertanyaan ini. Hanya Allah yng tahu, bukan hatimu dan hatiku. Biarkan detak jantung ini resah akibat aku lalai terhadap perintahnya. Sepatutnya aku takut terharap balasan dari Allah atas dosa yang telah terbuat. Jangan sampai detak jantung ini resah akibat sesuatu hal yang diluar nalarku. Karena aku yang akan mempertanggungjawabkan atas apa yang telah dititipkan Allah untukku.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 02-07-15

Selasa, 30 Juni 2015

Menerka Walaupun Harus Menyapa

Pagi ini memasuki bulan juli. Menurutku juli ajaib, bisa ngerubah umurku. Udah hampir 18 tahun, horeee. Langit kelihatan cerah, bulan dan bintang menambah anggun penampilannya. Suasana hening melengkapi suasana menerung. Sebenarnya aku malas memikirkan soal ini. Aku pikir itu hanya hal yang biasa, tanpa perlu dikhawatirkan. Mimpi seakan tergesa untuk membuatnya menjadi nyata. Akupun kembali mengingat hal yang belum disepakati. Entah, mimpi hanya untuk menguatkan atau melemahkan, tapi buktinya aku masih takut untuk membayangkan. Barang kali ini hanya rasa takut untuk kehilangan.

Ingatan yang terlalu kuat untuk menampung berbagai kisah yang kini tersimpan. Mungkin itu alasan kenapa aku takut untuk menanyakan. Maaf, ini hanya hal bodoh yang membuat pikiran kalah terhadap keadaan. Mungkin kita hanya menyepakati sebagian hal, tanpa melihat berapa banyak hal yang belum kita sepakati. Aku tidak hanya menceritakan tentang diriku saja, ini tentang cerita seorang gadis perajut cinta. Aku bisa bahagia melalui banyak hal, hanya kadang sugesti membuatnya menjadi rumit.

Lelucon kadang membuat kita tahu bahwa hubungan tidak selamanya harus pacaran. Aku bukan tipe yang terlalu neko-neko. Aku lebih simpel dari penampilanku. Aku lebih suka menjadi orang yang baru untuk satu orang saja yang ditakdirkan untukku. Tidak ingin membawa semua kenangan dalam kehidupan sekarang, karena kenangan hanya singgah sementara dimasanya terdahulu. Biarkan kenangan tertinggal jauh tanpa harus menguliti seberapa luka yang membekas. Membuka lembaran penuh warna, tanpa harus membangkitkan luka.

Senyum kadang membawa luka. Air mata pun menghadirkan arti nyata. Tertawa tak selamanya tentang bahagia. Aku hanya ingin membawa senyum yang ikhlas walau luka tampak nyata. Aku mempunyai Tuhan yang Maha Menguatkan. Aku tak akan pernah melarikan diri dari cinta yang begitu nyata untukku. Yaitu dari Tuhanku. Jika aku sekarang merasakan cinta mungkin tak pernah melebihi cintaku pada-Mu. Itu alasan kenapa aku selalu ingin melihat orang-orang yang aku sayang hanya melihat senyumku tanpa harus melihat sedihku. Karena aku hanya ingin menjaga masalahku hanya dengan Tuhanku.

Lelucon juga kadang membuat orang lupa kalau bahagia tak selamanya tentang Jatuh Cinta. Aku hanya ingin membayangkan tanpa harus memikirkan. Hanya butuh menerka walau harus menyapa. Rasa rindu kerap kali menyapa dalam naungan kasih sayang dari-Nya. Sajadah yang tergelar indah menompang hamba-Nya yang ingin bercerita. Meresapi setiap tetesan air mata. Ya Allah, indahkan selalu rencanaMu untukku.

Langit tak selalu biru. Rumput pun tak selalu hijau. Hanya deretan kata yang menyimpan makna nyata. Hanya ingin didengarkan tanpa harus berkomentar. Kadang cukup menjadi pendengar yang baik untuk lawan bicaramu. Karena, sesungguhnya aku tau jawaban dari masalahku. Dan mendengarkan jauh lebih sulit dari pada mengomentari. Nasihat yang sering keluar dari mulut, entah ini hanya kata-kata belaka atau kalian juga merasakannya. Yang paling penting mendengarkan jauh lebih menenangkan. Air mengalir tak selamanya beraliran deras. Kadang tenang mengikuti alirannya, dan kadang pun deras seakan beradu kekuatan dengan alirannya.

Ini mungkin cerita yang terlalu lucu untuk dibaca. Tetapi kebanyakan dari kalian lupa, bahwa kenangan bukan untuk dihadirkan. Bukan untuk mengenang tetapi belajar menerima kenyataan. Cukup hanya mampir tanpa harus singgah.

Mengawetkan memang perlu perjuangan. Memaniskan memang perlu tambahan. Membuat pas kadang harus mengurangi dan menambahkan. Hidup harus seimbang, bukan hanya terus bermain drama tetapi ikut andillah menjadi sutradara. Karena bahagia kamu sendirilah yang membuatnya. Tetap libatkan Allah dalam berbagai urusanMu.

Selamat pagi juli. Bulan kelahiranku

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 01-07-15

Minggu, 28 Juni 2015

Impian Tak Mustahil Untuk Menjadi Nyata

Pikiran mungkin udah enggak dipenuhi jamur cinta. Hatipun juga tak seegois dulu. Tapi tetap mereka belum bisa berjalan selaras nan serasi. Ini mungkin sikap dewasa  yang ditunjukkan untuk tetap hidup bersama cinta. Buaian cinta yang kadang membutakan mata tak urung menjadi pelajaran yang memang patut untuk direnungkan. Seiring berjalannya jalan rasa itu tetap kokoh berdiri dengan argumen yang menguatkan, Ya untuk tetap diperjuangkan. Aku tidak akan mengejar dengan begitu capeknya berlarian, sampai akupun lupa untuk mencintai diriku sendiri. Cukup dengan merajut rindu menjadi kata sederhana yang penuh isyarat untuk Tuhanku. Biar rasa ini tersimpan manis, dan harapan kita dipertemukan dengan cara-Nya. Indah dan memang selalu indah.

Berkirim kabar lewat elektronik yang canggih bukan menjadi prioritas utamaku. Hanya doalah cara berkirim kabar yang paling nyaman dan rahasia. Aku selalu sejajarkan namamu diurutan orang-orang yang aku sayang. Biarkan rindu semakin berkembang, berlantun menjadi doa yang syahdu. Jika kamu tahu, aku selalu memelukmu, menenangkanmu, mengusap dengan penuh kasih sayang dalam doa yang memang paling ampuh untuk mengobati rindu yang terbengkalai. Antara sujud dan rukuk mempunyai makna tersendiri, kenapa dan mengapa aku harus melakukan itu. Itu bentuk baktiku terhadap Maha Segalanya. Dia sering menenangkanku ketika rindu sudah memuncak diubun-ubun.

Aku bersyukur atas jarak yang terbentang antara kita. Karena Allah memang masih menginginkanku untuk tetap menyubut nama-Nya dengan pelan. Mengucap nama yang Agung. Dia akan mempertemukan kita dengan cara yang tidak kita sadar. Ketika air mata menetes dengan penuh kebahagiaan. Berbinar menyaksikan senja bersama. Dan tanpa sadar kita menyebut nama Allah bersama. Karena kita menyadari pertemuan yang bukan mustahil bagi Allah. Tetap seperti itu, tetap menjadi pria terbaik. Jangan pernah bosan berkirim kabar lewat doa.

Aku ingin berlayar jauh dengan dayung yang terkayuh. Aku berlayar tidak sendiri. Aku bersama Sang Pemilik nafasku. Akupun berlayar tetap membawa namamu. Namamu tetap ikut serta dalam pelayaranku yang penuh arti. Tujuan telah terhampar nyata. Terus mendayung menuju pulau harapan. Berharap pada Tuhan untuk dipertemukan. Kembali merangkai mimpi bersama karena-Nya. Tetap harus mengikut sertakan Tuhanku untuk masalah ini. Dan akhirnya aku ingin kamu menjadi nakhoda untuk kapal kita, aku penjadi partner hidup yang setia mendampingimu kemana saja. Kita sama-sama berjuang. Mendayung perahu menuju impian—impian kita. Semoga Allah mengizinkan untuk sebuah alasan pasti bahwa memang mimpi itu tidak mustahil.

Aku percaya takdir Allah untuk ini selalu indah. Tinggal kita yang memantaskan menunggu dijodohkan. Selamat berjuang dijalan Allah. Tetap berkirim kabar lewat doa. Jika kamu sedang membaca. Inget pesan aku...
" Dirimu memang tahu kalau aku sayang kamu. Tapi diriku juga berhak tahu kalau Allah memang menjadi Prioritas utamaku." kamu cukup dewasa perihal ini.

Terimakasih untuk waktu yang tidak akan pernah terulang lagi :)

Ratna dyah dwi islamiati| 28-06-15

Sabtu, 20 Juni 2015

Curhat

Alhamdulillah, karena Allah memang adil. Buktinya Aku dekat dengan-Nya perasaan yang dulunya sering linglung tanpa tujuan kini sirna oleh kebesaran dari-Nya. Diberi ketenangan hati pun sudah cukup untuk membuatku jauh lebih mengerti apa itu bahagia. Dan ternyata memang sederhana. Aku sekarang bukan dan bahkan tidak mau lagi menjadi taulang yang pergi tanpa tujuan, karena aku sudah tahu tujuan yang sangat pasti yaitu kembali ke Allah. Dan itu pasti terjadi. Maka aku menapak di bumi dengan hati-hati, jangan sampai membuat-Nya cemburu padaku.

Terus bimbing wanitamu ini menjadi wanita yang pantas untuk diperjuangkan. Amin

Ratna dyah dwi islamiati| 21-06-15

Rabu, 17 Juni 2015

Puasa #1

Hari pertama puasa. Doanya semoga diberi kekuatan, ketabahan iman, dijaga pandangan, jaga hati, dan jaga lisan. Assalamualaikum Tuhan ku yang masih welas asih mempertemukanku dengan Ramadhan lagi. Nikmat yang sungguh luar biasa. Terimakasih masih mempersatukan dengan orang-orang yang aku sayang. Terimakasih atas kebersamaan dengan keluarga ya Rabb.

Teruntuk kamu yang sedang merantau. Selamat berpuasa, Allah masih setia bersamamu. Ibu pun selalu membawa rindu dalam setiap sujudnya. Untuk mu. Semoga kita bisa bertemu dihari yang indah.

Hey bidadari² Allah. Selamat berpuasa, selamat menjaga hati, lisan dan mata kita. Perbaiki diri lagi ukhti. Mulai belajar memakai hijab, mulai belajar menjadi wanita yang disukai Allah, mulai belajar. Ayoo belajar. Emm, ukhti orang-orang tak tau, bahwa muslimah yang memakai hijab panjang sekalipun itu masih sama. Kita sama² manusia biasa, ada rasa dan juga jiwa. Masih suka berbuat dosa. Hanya dengan bimbingan dari-Nya kita bisa memperbaiki. Semoga Allah selalu senantiasa melindungi dan membimbing kita. Mari selamat berjuang menjadi bidadari Allah.

Marhaban Yaa Ramadhan

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 18-06-15

Senin, 15 Juni 2015

Hidup di dalam-Nya

Hey Maha Romantis. Tak jarang ku memberi sebutan istimewa untuk pemilik nafasku. Dia memang Maha Segalanya. Dunia tempat ku berpijak sekarang menanpakkan nuansa biru dongker dengan udara sanyup-sayup menusuk tulang. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Masih berusaha menjadi orang yang diinginkan-Nya. Menjalani hidup bersama-Nya. Untuk sekarang jauh lebih fokus bersama-Nya.

Kembali membicarakan perasaan. Haha. Tak bosan untuk menguliti mesti sakit yang terasa. Tapi kali ini sakit itu hanya wacana yang terucapkan bibir penuh dosa. Sakit hanya ilusi yang seakan dibuat nyata. Perasaanku sedang berbunga-bunga. Kau tahu kenapa? Ini karena aku selalu hidup di dalam-Nya. Sungguh nikmat yang aku terima ketika aku dan Dia bersungguh-sunggu menjadi teman dalam segalanya. Dia memang Tuhanku yang Maha Romantis, Maha Segalanya.

Memperbaiki diri tapi tidak merubahnya seratus persen. Memantaskan untuk mendapatkan. Surga yang kekal didalamnya. Karena Allah tak pernah ingkar akan janjinya. Buat apa kita bersedih cuma gara-gara hati yang tertolak, gara-gara hati tak terespont. Ahh, sungguh sia-sia untuk hidup yang Allah beri. Cinta mana yang lebih setia dibandingkan Allah? Silakan merenungkan untuk jawaban yang sangat mudah ini.

Lantunan surat rindu yang sering kutujukan pada kekasih yang saat ini masih sudi menjaga bahkan membimbingku. Ya, Dia memang Tuhanku yang Maha Oke. Tak jarang air mata menyertai perjalananku. Aku nyaman dengan keadaan seperti ini ya Rabb. Memandang langit tanpa beban. Merangkul bumi tanpa susah payah. Karena aku yakin diri-Mu selalu bersamaku.

Hati yang dulu sering mengeluh perihal perasaan kini hanya bisa menunduk menyaksikan keindahan drama yang disajikan-Nya. Memang 'memantaskan' menjadi kunci merauk sejuta perhatian. Kini aku merasakan saat perasaan mulai ditinggikan, bahkan yang meninggikan adalah pemilik hidupku, sutradara yang mahir dalam kehidupan.

Jilbab kini melengkapi perjalananku. Ternyata memang ajaib. Hanya sebuah jilbab tapi bisa mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Silahkan untuk wanita sholehah di dunia, rasakan keajaiban itu. Perintah Allah tak pernah sia-sia untuk dijalankan. Jilbab bukan pembawa panas, tapi pembawa kesejukan bagi pemakainya. Silakan berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalian adalah bidadari-bidadari Allah.

Aku hanya ingin berpulang dengan pakaian yang disukai Allah. Aku ingin Allah menyaksikanku dengan begitu anggun. Dan aku ingin dimuliakan oleh Allah. Amin. Hanya doa yang mewakili perasaanku sekarang. Jika aku mencintai kaum adam, biarkan Allah mengetahuinya terlebih dahulu. Aku tidak ingin membuat-Nya cemburu atas ulahku. Biarkan aku menjaga suci cinta dihadapan-Nya. Biarkan kita dipertemukan dengan jalan yang Allah ridoi.

Hey kaum adam mari kita sama-sama memantaskan. Siapa tau kita dijodohkan.

Merasakan nikmat Allah itu tak pernah ada habisnya. Mencintai Allah memang selalu menjadi cinta yang kekal antara umat dan penciptanya. Sungguh luar biasa masih diberi kesempatan untuk menjaga apa yang diberi dan apa yang dijanjikan. Untuk anda silakan memperjuangkan cinta dari Allah jika ingin bahagia dunia akhirat. Amin.

Ratna Dyah Dwi Islamiati|16-06-15

Minggu, 31 Mei 2015

MOVE ON

"Move on adalah bukan perihal melupakan". Ya, memang begini adanya, semua yang pernah menyertakan hati memang sulit untuk dilupakan bahkan dihilangkan. Manusia lahirkan dibekali dengan hati dan pikiran. Itu alasan kenapa sulit move on dan mengapa harus move on juga. Mengenal semua proses kehidupan menjadikan kita larut dalam kebimbangan. Toh, kita pernah bahagia dimasanya.

"Semua yang dipaksakan memang sulit untuk diterima". Ya, memang benar, memaksakan melupakan memang sulit, karena fokus kita masih tentang dia. Sama halnya dengan mencari pengganti. Tak selamanya mencari pengganti itu membuat cepat move on. Banyak yang sudah punya pengganti tetap masih hidup dimasa lalu. Move on tentang menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi. Hidup mengajarkan untuk berjalan maju bukan berjalan mundur, menoleh boleh tetapi semua ada batas. Masa lalu tetap ikut andil dimasa sekarang, karena kita pernah hidup dengan masa itu. Mengubah persepsi,bahwa masa lalu memang sudah selasai. Hidup terus berjalan kedepan, dan kalian hidup dimasa sekarang.

"Tolong bantu aku buat melupakan dia". Ketika kata ini diucap oleh seseorang yang akan move on, biasanya dalam fase mencari pengganti. Aku tidak menyetujui kata itu "bantu aku untuk melupakan". Apa? Seperti menjadi tempat pelarian untuk melupakan. Fokusnya saja sudah untuk 'melupakan', dan lagi—lagi fokus ke dia. Bukan 'bantu melupakan' tetapi 'bantu untuk menikmati hidup'. Mengubah respon hati, dan percaya bahwa dirimu bisa bahagia. Ketika kalian larut dalam menikmati keindahan alam, menikmati hidup tentunya, kalian akan secara gak sadar sudah melewati fase move on, enjoy membuat kita lupa bahwa masa lalu bukan suatu hal yang mustahil untuk dihilangkan kadar fokusnya.

Ubah cara hidup kita. Bilamana kalian memang sudah menjalani hidup normal, tetapi jika hati kalian masih merespon kenangan sama halnya memaksakan untuk hidup normal. Hidupi mimpimu bukan kenanganmu. Menuruti keinginan merespon masa lalu tak beda dengan mengenang. Enjoy aja,— kalian akan larut dengan sendirinya. Larut hidup dimasa saat ini bukan saat dulu. Jangan maksain diri, jangan depresi mencari cara untuk melupakan, itu malah semakin mengembalikan. Move on bukan masalah bisa atau enggak tetapi mau atau tidak.

Butuh waktu tidak singkat untuk hal ini, tidak cukup satu hari bahkan bisa menaun. Beradaptasilah dengan keadaan sekarang, cintai proses kehidupan. Patah hati berlarut-larut tidak akan membuat semuanya lebih baik. Jangan terus larut dalam masa yang sudah berakhir. Kalian hanya patah hati, patah cinta—bukan mati. Tinggal memilih mau bergerak atau mati di tempat. Kamu jauh lebih mengerti bahagia untuk hidupmu.

Teruntuk yang hingga kini belum bisa membuka hati, tidak apa—apa, tidak ada yang salah dengan dirimu. Kamu cuma butuh sepi untuk merenung lebih banyak. Jika memang belum bisa membuka hati tetapi tetap ingin move on. Tenanglah, banyak aktivitas yang dapat membatu. Manjakan dirimu dengan segala aktivitas yang membuatmu nyaman. Move on bukan perkara mencari pengganti tetapi bagaimana bisa menikmati hidup. Teman, sahabat, dan keluarga cukup untuk mengenalkan hidup yang memang patut untuk dipuji. Berbahagialah bersama mereka.

Fase move on seperti keluar dari labirin, sulit memang tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Jangan banyak terdiam memikirkan, tetapi terdiam untuk merenungkan. Berdamailah dengan hati, beri semangat untuk memperbaiki dan membuat lebih baik.  Membuka kesempatan, bukan menutup kesempatan. Bukan cari cara melupakan yang justru semakin mengingatkan, tetapi belajar menikmati hidup. Membelokkan arah menjadi lebih baik apa salahnya. Toh, kita hidup untuk saling berhubungan, mengajarkan hal asing, menjadi hal yang kita suka.

Renungkanlah ini, "aku tetap mencintaimu tetapi aku jauh lebih mencintai diriku". Akan ada kejuatan disetiap tikungan yang menanti kita. Hidupi mimpimu bukan kenanganmu

***inspirasi dari banyak artikel***

Ratna dyah dwi islamiati | 31-05-15

Jumat, 29 Mei 2015

Pelajaran Tentang CINTA

Panasnya hari ini begitu menenggelamkan. Keringat tak henti—henti bercucuran. Kehilangan banyak cairan dalam tubuh. Tapi ada sehatnya juga. Ternyata kehilangan tak selamanya buruk. Derap langkah angin yang begitu hati-hati membuatku sedikit nyaman pada keadaan. Kembali mengusik tentang perjalanan pejuang cinta. Walaupun itu mengenai masalah setiap orang, tetapi itu menarik untuk direnungkan. Kembali dengan sebuah kata sederhana melahirkan makna yang begitu luas bahkan begitu dahsyat untuk dijalankan. Ya, dia adalah CINTA. Sebegitu sederhana tapi juga istimewa.

"Cinta adalah salah satu perilaku otak yang tidak Rasional. Otak menjadi *tidak logis* dan secara Harfiah BUTA akan kekurangan-kekurangan sang kekasih" ~Louanne Brizendine.
Bukankan ini definisi yang sangat cukup menggambarkan tentang cinta. Tak begitu heran, banyak orang yang stres cuma gara-gara cinta. Ini itu permasalahan selalu hadir dalam hubungan percintaan.

Dalam pengenalan yang berujung jatuh cinta pun memiliki rumus selayaknya pelajaran matematika. Bukankah sama rumitnya.
Mata + Hati + Tertarik + Dekat + Nyaman + Kontak batin = Jatuh Cinta
Setidaknya seperti itu kita merumuskannya. Jika salah satu unsur penting tidak terpenuhi. Bukan jadi cinta yang kalian mau, mungkin cinta dalam konteks lain semisal: Cinta dalam bentuk mengagumi (fans), cinta dalam bentuk rasa nyaman (teman dekat). Jika unsur yang diatas terpenuhi mungkin anda mengalami apa itu jatuh cinta. Tapi lagi-lagi jodoh ditangan Tuhan. Setidaknya usaha, kalau enggak usaha jodoh masih tetep aja ditangan Tuhan.

Ketika sudah sekian lama menjalani hubungan. Pasti akan ada konflik batin yang cukup menyita kewarasan kalian,bagi mereka yang tidak bisa bekerjasama dengan baik. Masalah kecil bisa merembet menjadi besar. Ini masanya dimana pikiran dan hati anda beradu argumen. Seakan keduanya saling membenarkan. Ketika salah satu dari kalian sudah mengalami yang namanya bosan, dan memilih untuk bermain-main dengan yang lain, maka salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Mengalah disini bukan dalam arti kalah, tapi mengalah untuk sesuatu yang baik. Berpikirlah dengan hati, setidaknya bisa mengiyakan sebuah tujuan. Merenunglah untuk ini, karena itu masalah perasaanmu.

Beda halnya jika kamu terlalu sayang dan sulit melepaskan. Kebisaan dari setiap pasangan ketika emang sudah 'mengstuck' bahwa hatiku sudah berhenti dikamu. Boleh—boleh saja mengucapkan, tetapi dengan syarat bisa menjalankan bukan hanya wacana belaka. Jika memang pasangan kalian sudah tidak bisa bersama. Jangan takut untuk kehilangan. Lepaskan!!!. Kamu jangan menjadi 'penjara' untuk pasanganmu. Sebenarnya dia tidak ingin dibatasi berbagai macam kebebasan. Kenapa harus takut melepaskan, toh ketika kita sudah 'mati' semua yang kita miliki akan hilang.

Biarkan yang mampir hanya mampir, biarkan yang ingin singgah untuk singgah, biarkan yang ingin tinggal tetap tinggal, biarkan yang ingin pergi biar pergi.

Lepaskan jika memang ingin pergi. Memeluk terlalu erat adalah sengsara. Jangan khuatir Allah masih punya rencana yang lebih oke dari yang kalian kira. Belajar menikmati kesendirian jauh lebih nyaman ketika yang dirasa bisa membuat bahagia hanya menyia—nyiakan.

Teruntuk kalian yang bingung perihal cinta. Tak payah kalian memaksakan. Jangan salahkan keadaan. Buktinya aku bisa menikmati kesendirian karena aku suka dan bahagia. Untuk saat ini aku nyaman dengan kondisiku. Karena aku tidak akan menyalahkan siapapun, termasuk keadaan.

Ratna dyah dwi islamiati | 29-05-15

Kamis, 28 Mei 2015

"Apa Aku Bahagia ?"

Harum aroma tanah yang terbasahi oleh rintikan air hujan masih terasa pagi ini. Embuh pagi masih terjaga oleh masanya. Langit tak selalu biru, kali ini langit tampak lungkrah merasakan begitu tuanya ia masih bersedia menjadi atap yang paling kokoh untuk umat-Nya diseluruh belahan dunia. Ayam meminta belas kasih pada pemilik rumah untuk memberinya beberapa butir beras. Udara terhirup lagi oleh hidung, kenikmatan yang luar biasa masih bisa merasakannya. Kembali dengan sejuta rutinitas membuatku lelah pada situasi yang mendesak. Kita memang tidak mampu kompromi pada kenyataan. Maka, sediakan waktu barang satu menit untuk merenung.

Kembali merenung tentang hati yang masih sesak. Entahlah, aku tak mengerti apa yang dimau oleh hati. Aku kembali menyelaraskan hati dan pikiran. Sudah aku coba berkali-kali, namun belum bisa. Terbesit sebuah pertanyaan "Apa aku sekarang bahagia?". Begitu tabu untuk kembali menjawabnya. Aku tidak ingin mencari tau jawaban itu, cukup berteman baik dengan ketenangan. Setidaknya aku sudah meraba soal jawab itu, dan memang seharusnya aku sendiri dari jawaban itu.

Untuk remaja seusiaku kerap sekali merasakan ditinggikan oleh perasaan. Dan akhirnya hanya dijatuhkan oleh perasaan. Itu sebenarnya usia kalian masih perlu beradaptasi soal perasaan. Aku tau kalian memang mempunyai hak untuk mencintai lawan jenis, tetapi mencintai diri sendiri adalah kewajiban yang mutlak kamu jalan untuk sebuah kebahagian.

Jika anda tau sebenarnya kebahagiaan itu tercipta dari dirimu terlebih dahulu. Bahagia adalah milikku, tanamkan dalam hati. Jangan gantungkan asa pada manusia, karena mereka kerap kali mengecewakan. Gantungkan sejuta harapan pada-Nya, pasti kamu tau bahagia yang sederhana itu seperti apa. Bilamana anda sedang jatuh karna perasaan berpikirlah untuk tidak menyalahan. Memang sulit, tapi nyakinilah kelak kita akan disatukan dengan seseorang yang sama-sama menghargai perasaan.

Pelajaran yang terambil dari hati yang dikecewakan begitu layak untuk direnungkan kembali. Tidak ada yang sia-sia dari cinta yang pernah dijalani, setidaknya kita bisa mengerti apa arti memiliki bahkan memberi. Mungkin ketika kita pernah merasakan dijatuhkan oleh perasaan ketika perasaan itu sedang tinggi-tingginya merajut harapan, disitulah kalian akan mengerti arti memiliki yang sebenarnya.

Kalian pernah dengar tentang argumen "Aku bahagia, jika kamu bahagia".  Argumen yang begitu memaksa menurutku, Ya, memaksa untuk bahagia. Itu menurutku merupakan bentuk kebohongan yang berwujud kata pasrah, hanya diperhalus sedikit. Setidaknya kalian pasti memiliki rasa cemburu ketika orang yang kita sayang bersama orang lain. Kerap kali ketika kalian melihat orang yang disayang bersendau gurau dengan pasangan barunya, hanya argumen tersebut yang dapat menenangkan kembali hati, tapi dalam jangka sesaat. Seharusnya kata itu pantas diucapkan ketika hati sudah berhasil mengikhlaskan, jangan hanya cuma dimulut tapi dihati. Jangan mengucapkan argumen itu, untuk orang yang belum bisa menata hati, sama halnya anda sedang berbohong pada diri sendiri. Anda perlu tau sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya berjalan dengan baik. 

Jangan paksakan jika dia tidak benar-benar mencintai. Kita memang mempunyai hak untuk mencintai seseorang, tapi kalian harus sadar bahwa orang itu juga memiliki hak yang sama dengan kita. Mamaksakan mencintai mungkin sama halnya dengan berpura-pura mencintai. Bukankah berpura-pura adalah hal yang menyakitkan ketika kamu mengetahuinya. Jika kalian pernah mengalami ini, terus berjalan kedapan memang menjadi hal mutlak yang harus dilakukan. Hidup memang terus berjalan, tanpa anda sapakati dengan kenyataan. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan, yang sebenarnya mereka semua datang untuk mengajarkan.

Caraku bahagia adalah ketika aku tersenyum dengan mata berbinar, dengan senyum lepas menandakan sudah ada kesepakatan dengan hati. Bahagia ku sederhana ketika kata tak terucap, tetapi teraminkan oleh hati. Bahagia ku adalah ciptaanku. Bahagia ku mampu membantu bertahan ketika rasa terabaikan. Karena aku yang membuat bahagia itu menjadi nyata.

Ratna dyah dwi islamiati | 28-05-15

Kamis, 21 Mei 2015

Tentang Rindu yang Terbengkalai

Udara pagi begitu terasa. Angin nampak bersetubuh dengan musimnya. Langit begitu nampak serasi dengan perpaduan warna biru muda, putih, dan biru tua. Awan nampak putih tulang bergulung- gulung di langit perpaduan. Inci demi inci menyimpan derap langkah yang berbeda. Dengan kadar rindu yang berbeda pula. Berlantun nada rindu yang kerap kali mewakili keadaan, ada yang lebih pantas untuk dipertanyakan. Tentang keadaan hati yang tak dapat dipungkiri bahwa dia rindu pada sosok itu.

Sudah terlampau sering saya mengatakan ini. Terlalu sulit untuk menggambarkan, mengungkapkan, bahkan untuk menuliskan tentang rindu yang kerap kali datang. Tembok yang sudah berdiri kokoh ketika kamu pergi kini mulai terkikis oleh rindu yang terbengkalai. Aku paham sangat paham, kita berada pada jarak yang tegas. Aku dengan sikapku dan kamu dengan sikapmu. Kita sama-sama sedang berjuang untuk menghidupi mimpi.

Aku bukan orang yang pandai berbicara, aku selalu kalah ketika beradu kata denganmu. Aku hanya sedikit pandai menulis, tapi tak ada bakat menggambar apalagi melukis. Aku hanya penulis yang menikmati bayang kerinduan yang terbengkalai. Entahlah, aku tidak mengerti kenapa aku masih mengetik tentangmu. Isi kepala saya sedang hitam putih, apalagi dengan hati. Rona warna yang masih monoton.

Jujur, aku terlalu mengkhawatirkan kamu. Apa kamu baik-baik saja? Aku tau pasti kamu baik, kamu selalu baik. Hanya saja aku yang terlalu khawatir. Rindu mengental pekat dalam bayang yang terbengkalai.
Kamu tak pernah salah menilaiku, hanya saja kamu belum tau persis tentangku, kamu belum seberapa mengetahuinya, sama halnya denganku, aku bahkan tak sedikitpun mengenalmu, hanya sekedar tau.

Aku ingin bisa memecah nalar tentang rindu yang terbengkalai. Meskipun tidak mudah, pasti akan ada jawaban pasti dari-Nya. Kisah lakon hidup yang begitu istimewa, selalu berhubungan satu dengan yang lainnya. Wajar saja rindu itu kerap hadir dalam lamunanku. Karena aku baru merasakan sebegitu hebatnya mencintai seseorang. Inilah saksi waktu dan usia.

Hanya sebatas hati yang ingin mencurahkan rasa padamu. Aku Rindu.

Rindu ini berputar perlahan dalam muara kecemasan. Aku takut rindu ini semakin terbengkalai. Semoga waktu masih sudi menghampiriku. Membawa sebuah jawaban pasti dari-Nya.

Ratna dyah dwi islamiati| 22-05-15

Selasa, 19 Mei 2015

Berjuanglah

Dinginnya pagi begitu sejukkan hati, hangatnya mentari memudarkan butiran embun pada daun yang terbengkalai. Gairahku bangga menyapa dari awal "selamat pagi dunia". Sepenggal kata pagi yang romantis terbaca oleh mulutku. Sebuah blog yang begitu menawan. Tertera nama dara prayoga. Uhh sebuah kata yang berjejer indah membentuk lukisan kalimat yang begitu menusuk hati, membuatku harus berpikir berulang-ulang untuk kata yang tertulis.

Kembali dengan sebuah tulisan back to you. Tentang cinta yang tak harus memiliki ternyata itu tidak sependapat dengan Oka. Ada kata yang begitu tersirat jelas bahwa dia tidak setuju dengan spekulasi tersebut.
Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”. Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.~dara prayoga
Untuk cerita lebih lanjut silakan membaca sendiri.

Disini ingin menuturkan sebuah pertanyaan dari hati seseorang.
"Mengapa harus diperjuangkan? Sedangkan dia memperjuangkan orang lain?"

Ini sebuah pertanyaan yang membuatku kembali terdiam. Cinta disini menjelma menjadi cinta pada seseorang makhluk ciptaan-Nya.

Didalam sebuah panggung drama yang dibuat olah manusia sekalipun kita memang dituntut untuk tampil bagus, memberikan yang terbaik dan akan ada jeda waktu untuk berhenti. Tapi kali ini kita sedang membicarakan tentang hidup. Panggung sedemikian megah yang sudah dirancang oleh Sang Maha Oke. Apa anda tidak ingin memberikan yang terbaik? Jawabanku: Aku ingin. Jika jawaban kita sama, berjuanglah tanpa harus berhenti. Akan ada waktu dimana kita harus berhenti. Ya, ketika kita sudah mati. Jika kita memikirkan dia memperjungkan orang lain, maka anda termasuk orang yang kalah sebelum bertanding.

Berjuanglah, raih mimpi itu. Biarkan kelak Allah yang menentukan waktu yang tepat agar kita mengetahui siapa yang sudi mendoakan kita disetiap sujudnya, siapa yang diam-diam meneteskan air matanya dalam setiap doanya. Sekarang kita memperjuangkan yang ada didepan mata kita, yang hati yakini. Untuk alasan lebih lanjut, misalnya berhenti atau mundur, akan ada masanya untuk itu. Ketika Allah memang benar-benar telah menunjukkan skenario yang begitu apiknya.

Berjuanglah, jangan melihat dia sedang memperjuangkan orang lain. Tunjukan padanya bahwa disini ada aku yang masih setia berdiri, dengan tangan hangat yang setia merangkul, dan ada pundak yang bisa membantu untuk menenangkanmu.

Teruntuk orang-orang yang takut berjuang. Ayo berjuang bersama, jangan sampai sesal yang engkau terima. Jangan hanya menunggu waktu itu datang. Tanpa kalian berusaha waktu pun enggan menghampirimu.

Rentangkan tanganmu sejenak, berfikirlah. Hirup udara pagi ini dalam-dalam agar kamu lebih percaya untuk melangkah. Biarpun dibuai dalam angan tapi yakini bahwa kita dapat menciptakan lembaran penuh warna.

Selamat berjuang

Ratna dyah dwi islamiati | 20-05-15

Minggu, 17 Mei 2015

:)

Belum tau persis kek gimana? Yang aku tau kamu masih tetap buatnya, perasaanmu masih segitu hebatnya buat dia. Aku tidak pergi kemana-mana aku masih di sini, menantaskan buat jadi yang terbaik.

Lambaikan tangan jika urusanmu dengannya memang telah berakhir, kalau masih ada perasaan itu wajar tetapi dengan kadar yang berbeda. Aku masih setia menunggu. Dengan siapa aku besok hanya Tuhanlah yang tau.

Rabu, 13 Mei 2015

Pengakuan Hati dan Pikiran

Selamat sore ku ucapkan pada dunia yang begitu welas asih menompang curahan setiap manusia. Keheningan membuaiku dalam angan. Pesona aroma tanah yang basah terbingkai apik dalam guratan yang begitu jelas. Gerimis menjelma menjadi surat rindu yang kian beringas menusuk dalam kalbu.

Aku bersandar pada ungkapan. Berbagai tekanan mulai menghimpit dalam sunyi. Langit kali ini tampak pucat pasi. Pengakuan hati tak sengaja terekam oleh pikiran. Mulai memandang langit penuh tanya. Merenung apa yang akan terjadi hari esok. Merencanakan berbagai pengharapan.

Riuh pun tak mau menepi. Suara anak ayam mencari induknya mulai bergeming ditelinga. Aku malu pada Tuhan, sudah kerap sekali mengeluh tanpa arti. Aku terlalu jauh mengurai dalam angan. Membayangkan kejadian kelak yang akanku alami, tanpa harus menyingkiran ketegasan dari takdir yang nyata.

Menguliti tiap helai perasaanku membuat sakit semakin terasa. Hanya bisa melakukan hal-hal bodoh. Meletup meracik nada emosi. Hati hanya bisa menjelma kuat. Hati sering sekali meneriaki dengan pelan "Aku sudah lelah".

Wahai hati kalau kamu sudah tau lelah kenapa masih berharap? Kenapa masih bertahan?

Pikiran menorehkan asa yang mulai redup. Bergeleng-geleng menandakan kekecewaan pada hati. Fakta sudah lelah tapi masih opini untuk mengakhiri. Pikiran sudah melewati masanya, masa dimana sudah mulai muak pada semua, berakhir pada ujung jenuh. Pikiran mulai menutup mulut, tidak mau menanggapi ini itu. Dia masih menunggu sebuah kesepakatan pasti dengan hati.

Mengernitkan dahi tanda belum siap dari hati untuk memberi sebuah kepastian pada pikiran. Rona yang biasanya indah menyinari, kini hanya hitam putih yang dia tunjukkan. Tertekan pada keadaan membuat permohonan untuk sebuah keadaan yang memang hati sebagai pengaturnya.

Sembari hati memohon pada perasaan untuk jalan keluar yang baik. Pikiran hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pelakon drama ini. Tenanglah wahai manusia pasti hati dan pikiran akan berjalan indah nan serasi. Biarkan drama yang kau mainkan sekarang adalah drama action. Kelak akan berganti menjadi nuansa romantik yang begitu syahdu.

Disini aku sebagai pikiran dan aku sebagi hati meminta waktu untuk menyelesaikan sebuah skenario yang indah dari-Nya. Semua butuh proses wahai manusia. Sabar menanti sebuah proses, yakini kelak proses ini akan mengurai kisah yang indah lebih dari yang kamu bayangkan. 

Cintailah proses dari setiap kehidupan. Akan ada nuansa pecah dari-Nya. Yaitu nuansa gelak tangis dalam bahagia

Ratna dyah dwi islamiati | 13-05-15

Selasa, 12 Mei 2015

Jawaban Untuk Sebuah Tulisan

Desah angin kembali menemani sepi. Teras rumah menjadi saksi bisu percakapanku dengan Tuhan. Nuansa kesunyian menyelimuti kembali, begitu setia hadir setiap renungan. Belajar merangkak perihal perasaan, masih seperti anak kecil yang butuh bimbingan untuk ini. Aku belum sanggup mengusaikan cerita tentang ini, karena hati yang begitu egois untuk bertahan. Ini sebuah tamparan keras bagi benalu yang hanya mengganggu.

Tak ada yang lebih bijak kecuali petunjuk yang Tuhan berikan. Kedipan manis dari Tuhan begitu mengisyaratkan bahwa aku harus lebih kuat soal perasaan. Aku teroyak oleh waktu yang mengalir dalam diam. Kembali memusatkan titik fokus untuk kehidupan tidak mudah. Semua butuh proses. Pembelajaran hidup tentang menyinari hari sendiri.

Begitu egois tak mampu menyamakan rasa cinta pada diri sendiri dan rasa cinta pada sosok ciptaan-Nya. Begitulah pengorbanan hati. Hal yang sering kali aku renungkan dalam diam. Rasa yang masih tertahan belum bisa beranjak pergi. Maaf.

Merahasiakan cinta yang selayaknya bahagia begitu menyiksa. Memenjarakan hati dalam kebingungan. Membiarkan terbelenggu dalam ketidakpastian. Mengalir begitu saja. Menghadirkan argumen kenapa dan mengapa aku masih tetap tinggal, selalu aku terka.

Rasa getir dari malam kali ini begitu terasa. Rasa dingin seperti es kembali hadir. Membuat tubuh beku tak bergerak. Membuat mulut beku tak berkata. Hanya mata yang berkaca-kaca begitu jelas berbinar terkena cahaya. Jika aku disuruh memilih aku tidak ingin membeku, terdiam tanpa gerak bebas begitu menyiksa.

Begitu halnya dengan 'hati'?

Berpikir ribuan kali untuk membekukan hati. Membutuhkan lebih dari mentari untuk mencairkannya. Yap, kamu sangat pandai dalam menerka. Itu alasan kenapa aku takut beku. Aku hanya khuatir pada hati yang semakin lama semakin tidak sensitif tentang perasaan. Kamu pasti tau, karena kamu pernah mengalaminya.

Aku mentari untuk kehidupanku

Sudah sejak lama aku menjadi mentari terhitung juga beberapa bulan yang lalu aku telah menjadi mentari untuk diriku sendiri. Kalau tidak begini mungkin sudah sejak dulu membeku. Kini kristal es itu datang lagi. Aku harap mentari ini dapat mengikis kristal itu agar tidak menebal menjadi es. Karena aku takut akan hal itu.

Aku cukup mengerti dengan kata yang kamu tekankan setiap berbicara perasaan denganku. Aku cukup paham. Aku merajut kata ini hanya sekedar kata yang tertuang dari hati yang rapuh. Maaf jika kata yang terajut ini membebani pikiranmu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Semoga aku tidak menjadi benalu yang selalu mengganggu setiap langkah kakimu.

Aku tidak ingin menjadi tualang yang pergi tanpa tujuan. Lalu lalang tanpa kepastian. Aku masih bisa memeluk tubuhku sendiri, aku masih bisa untuk mengikis kristal es ini sendiri. Tenanglah aku lebih kuat dari yang kamu bayangkan.

Suatu saat aku akan mengusaikan cerita aku dan kamu. Biarkan takdir dari-Nya mengindahkannya. Biarkan tulisan ini mengabadikanmu. Maaf, jika aku telah menjadi benalu untuk hidupmu.

Ratna dyah dwi islamiati | 12-05-15

Minggu, 10 Mei 2015

Penikmat Catur

Malam hari menjadi pilihan ketika rasa ingin tertuang dalam bentuk deret kata yang tak mempunyai ujung untuk mengakhirinya. Bayang-bayang kehidupan begitu tampak nyata dipandang mata. Hati yang selalu gelisah ketika memikirkan jalan keluar dari setiap masalah. Pikiran yang selalu mengolok-olok setiap kemampuan.

Hari-hari nampak biasa, masih terasa monoton untuk dijalankan. Sosok wanita dengan paras cantik, rambut sepunggung, memakai piama putih sangat mengejutkanku.
"Haii, sedang ngelamun ya?muka lo jelek banget." sontak lamunanku terhenti.
"Sialan ganggu aja jadi orang, kurang kerjaan ya mbak?'' tanyaku sinis.
Kenalkan sosok ini Anis namanya. Sahabat aku dari orok alias bayi. Kehidupan kita hampir sama, kita ngerasain hal yang sama. Ngerasain saat ditinggikan oleh perasaan dan merasakan saat dijatuhkan oleh perasaan. Cerita kita hampir sama hanya saja kita mencintai orang yang berbeda dengan karakter yang berbeda pula.

Hal yang sering kita lakuin bareng yaitu menatap nanar sambil menerawang. Langit-langit kamar yang semakin kusam menandakan sudah banyak cerita yang dia dengar tentang kita.
"Ehh, misalnya kamu jadi bidak catur, manakah yang paling kamu suka." pertanyaan yang sulit untuk diterka.
"Emm... Menurutku si lebih baik jadi pion."
Dia tak melanjutkan pertanyaannya, diapun tak menanyakan sebab akibat kenapa aku milih Pion.

Aku menerka akan sebuah jawaban yang terucap dari mulutku.
Kenapa aku pilih Pion?
Dia bidak catur yang paling kecil, dia hanya prajurit?
Sebuah pertanyaan berputar-putar menunggu sebuah jawaban pasti. Aku sama sekali tidak bisa memainkan permainan di papan hitam putih ini. Aku pun tak tau bagaimana cara menyusun bidak catur dalam papan. Tapi kenapa begitu spesial Pion bagiku. Sebuah pertanyaan lagi-lagi menerka pikiran untuk segera menjawab.

Jam memunjukkan pukul 22:00, kulirik kawan sebelah yang biasanya cerewet menceritakan ini itu. Dia sudah terlelap tidur, begitu cantik dengan balutan piama putihnya. Wajahnya memperlihatkan lelah, kali ini dia sedang tidak pura-pura. Bahunya yang tampak lungkrah merasakan begitu berat menompang kehidupan. Aku masih melihat wajah mungilnya. Ucapan terimakasih telah menjadi sosok sahabat yang baik selalu terucap dalam hati.

Suasana hening begitu menyelimuti malam ini, masih menerka jawaban pasti dari sebuah pertanyaan yang keluar dari mulutku beberapa jam tadi. Tiba-tiba sebuah kejadian terputar dengan sendirinya oleh pikiran. Kejadian yang pernah aku lewati bersama seseorang yang dulu begitu spesial. Sekarangpun masih terasa spesial. Kejadian yang begitu mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Ibarat permainan catur, aku telah disiapkan tempat untuk bermain yaitu papan hitam putih. Seperti hidup, Tuhan telah menciptakan semesta untuk menikmati permainan yang telah dirangkai begitu apik oleh Sang Pencipta. Aku hanya sebuah Pion yang disiapkan untuk menyerang dengan pasti, mencapai satu tujuan yang pasti pula. Tuhanpun menciptakan berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar umat di dunia untuk menjadi penikmat kehidupan yang penuh tanya.

Perihal perasaan pion pun menjadi wakil yang baik. Misal kita dihadapkan dalam sebuah pertandingan memilih sebuah pasangan hidup. Pion yang berdiri paling depan, pion tidak hanya satu. Pion yang dapat bertahan diakhirlah, dia yang pantas untuk dipilih. Cinta yang agunglah yang patut untuk diperjuangkan. Ketahuilah satu hal, kita dipertemukan pasti ada campur tangan dari-Nya. Pasti ada hal yang tersembunyi yang telah dipersiapkan oleh-Nya. Ibarat Pion, kita hanya memantaskan untuk jadi yang terbaik dan disitulah kita berdiri sebagai pemenang. Kita sepakati itu.

Dalam permainan di papan hitam putihpun pion tidak sendiri, dia bersama raja, ratu, mentri dan kuda. Tetapi pionlah yang mampu menyita perhatianku. Pion hanya dapat bergerak maju, Pion tak dapat kembali ke tempat asal dari langkahnya. Dia tetap berjalan kedepan tanpa mundur sekalipun. Dia dapat mengambil alih permainan ketika dia berada pada posisi paling akhir. Dan dia adalah Pion yang berhasil merangkap menjadi apapun. Dia keluar menjadi pemenang. Mungkin itu yang aku suka dari sebuah Pion kecil dan sekalipun dia hanya prajurit yang berdiri paling depan, membawa setiap langkahnya untuk menjadi yang terbaik.

Ini tentang kehidupan yang selalu mengajarkan banyak hal. Dari sebuah Pion caturlah dapat diambil segi positifnya. Pion yang kecillah dapat berubah menjadi Pion yang besar ketika dia berhasil mengalihkan permainan ketika diakhir.

Sama halnya penikmat catur, penikmat kehidupan pun sama. Masa sekarang adalah masa anda. Masa dulu anda adalah masa lalu anda. Dan masa yang akan datang adalah masa depan anda. Tinggal kitalah yang menuntukan jalan mana yang harus ditempuh.

Tunjukkan kalian adalah Pion yang hebat

Malam ini sayup-sayup terdengar suara angin sedang berbisik. Menyaksikan begitu lugunya sang daun bergoyang. Tembok terlihat serasi dengan cahaya lampu yang menyorot. Nampak romantis dipandang mata. Aku disini terlahir sebagai manusia yang berbeda. Kalianpun juga berbeda. Dibekali dengan kelebihan dan kekurangan dari-Nya mutlak menjadikan semangat untuk mencontoh Pion yang hebat.

Ratna dyah dwi islamiati | 10-05-15

Jumat, 08 Mei 2015

Mungkin BEKU

Bulan malam semakin menepi. Sebentar lagi pergi tanpa jejak. Hari ternyata sudah pagi. Kicau burung tampak menemami hati sepi. Angin dingin mengitari seluruh tubuhku. Jari-jariku mengepal kuat menandakan suasana kali ini terasa berbeda. Melihat hiasaan sang pencipta. Sinarnya mulai redup, walaupun begitu terimakasih atas usahamu untuk merayuku. Kamu berhasil bulan.

Bercerita tentang perasaan kepada semesta. Perasaan aku ini aneh, setelah kurasa ternyata aku tak bisa berbohong. Aku tak bisa merasakan hal yang sama. Hal yang membuat pikiran kemana-mana. Hati yang dulu begitu sensitif kini terasa biasa, aku tak bisa membenarkan namanya cinta. Apa ini yang dinamakan 'beku'.

Wahai hati kamu lebih tau mana yang pantas untukmu. Kamu lebih peka akan hal ini. Kamu berteman baik dengan perasaan. Kamu yang paling tau.

Sampan kecil yang aku dayung sendiri sudah begitu jauh berlayar. Aku mulai merasakan lelah. Hati mulai sulit diajak kompromi. Aku tidak tau siapa yang aku tuju, aku linglung.

Yang kurasa hanya bekas rasa yang pernah tinggal, tanpa pernah merasa perasaan yang baru. Mungkin aku masih tetap tinggal buatnya.

Hati ini masih mengiyakan kamu sebagai pemiliknya.

Ratna dyah dwi islamiati | 09-05-15

Kamis, 07 Mei 2015

Mengulang

Mengulang cinta kedua itu gak mudah. Semoga kamu mengerti, cukup malam sepi yang mengartikannya. Kali ini tampak begitu berat. Mungkin purnama masih meraba apakan pantas untuk diperjuangkan kembali.

Aku disini hanya bisa memantaskan, kelak Tuhanlah yang mempersatukan. Tapi entah dengan siapa. Semoga kamu adalah doaku yang Tuhan aminkan. Kita jalani, perjalanan yang pernah kita rangkai kini kita kuatkan lagi, kita beri garis yang tegas bahwa kamu untukku dan aku untukmu.

Bandul kehidupan yang berat semakin menantang buat ke depannya. Mengulangnya lagi cukup membuatku was-was. Perasaanpun ada yang berbeda. Tolong yakinkan lagi. Kamu sekarang telah menjadi orbitku, menjadi pusat putaranku, jangan pernah lelah ketika aku memusatkanmu.

Langit berhiasan gemerlap bintang cukup membuatku yakin untuk menjalani itu kembali. Kadar yang dulu semakin berkurang kini aku coba menambah sedikit demi sedikit. Tolong bantu aku.

Namamu kini menggantikan sederet nama yang pernah aku sebut dalam doa. Aku sekarang fokus pada satu titik yaitu kamu.

Aku akan berjuang untuk orang yang berhak diperjuangkan dan mau berjuang bersama. Kita sepakati itu.

Ratna dyah dwi islamiati | 7-05-15

Sabtu, 02 Mei 2015

Perancang Kehidupan

Lampu kamar menyorotkan cahaya begitu terangnya. Langit-langit kamar seakan seperti jejeran tulisan yang rapi. Ya ini seperti skenario. Benar-benar tampak nyata, kolaborasi antara jarum pendek dan panjang yang berputar serasi semakin menegaskannya.

Kata-kata dalam kalimat berjajar rapi, aku begitu puas membacanya. Ini sangat jelas.
"Apa ini kata dari mu ya Rabb, atau ini kata yang pernah aku rangkai menjadi kalimat".
Disatu sisi aku juga melihat kalimat yang begitu rapi, tetapi sayangnya kata-kata yang terkandung kali ini cukup berbeda. Kata itu semakin lama semakin pudar. Huruf konsonan seakan jatuh terlebih dahulu, membuat tulisan itu tak terbaca pikiran. Aku tak bisa menikmati kata demi kata dalam tulisan itu.
"Ini tulisan apa?"
Hati dan pikiran seakan menterjemahkan keadaan sekarang. Mungkin tulisan yang nyata itu sebagian dari rencana yang pernah aku tulis sedangkan tulisan yang tak terbaca itu mungkin suatu rencana yang telah di persiapkan oleh-Nya. Kita memang diizinkan untuk berencana, tetapi rencana yang paling benar dari-Nya lah masih menjadi rahasia, kita hanya pantas untuk menikmati, menunggu waktu itu datang. Mencocokan rencama kita dengan rencana darinya apakan masih dalam lingkaran yang sama atau bahkan sebaliknya. Dalam hal menyesuaikan rencana hidup memang Allah yang paling baik dalam urusan ini. Aku hanya seonggok tanah yang tidak ada apa-apanya.

Sepenggal isyarat yang selalu diberikan oleh-Nya semakin pasti, bahwa setiap perencanan haruslah melibatkan Ahlinya. Ya, dia Tuhan Sang Penguasa jagat raya ini.

Aku hanya bisa merancang, dan Allahpun juga merancang. Namun Allah adalah sebaik-baik perancang-Nya.

Kita hanya merancang dan Allah penentu segalanya. Yaikinilah, ada akhir yang bahagia yang akan Allah perlihatkan. Tetap bersikap dewasa dalam hal kehidupan. "Yang buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut-Nya, siapa tau hal tersebut sebagian dari kebahagian yang telah dirancang untuk kita". Berpikir positif itu perlu ketika rencana kita menemui kejanggalan. Karena rencana dari-Nya yang paling benar.

Ratna dyah dwi islamiati | 03-05-15

Aku Mengerti

Hujan gerimis mengantarkan aku pada sejuta kenyataan bahwa gerimis kali ini begitu romantis. Aku sekarang benar-benar mengerti ternyata Pemilik Hati ini mencemburuiku. Aku yang terlalu memusatkan perhatianku pada seorang makhluk ciptaan-Nya. Tuhan beribu-ribu maaf ku ucapkan, aku terlampau jauh mengharapkannya. Aku seharusnya percaya akan takdir indah yang sudah engkau siapkan untukku. Aku terlalu egois pada perasaanku sendiri.

Aku hanya bisa mencintai dia dalam diam Tuhan. Biarkan Engkau yang mengatur akhirnya bagaimana. Cukup Engkau yang tau perasaanku terhadapnya. Biarkan rasa ini tumbuh atau bahkan hilang dengan sendirinya. Kini aku semakin yakin akan langkahku untuk tetap berjalan. Sudah seharusnya aku semakin dewasa perihal perasaan. Dan aku sudah tau sekarang.

Simpan jodohku baik-baik Tuhan. Biarkan waktu yang indah mempersatukan kita.

Aku hanya bisa menunggu waktu itu datang sedari menguatkan atau bahkan menghilangkan rasa ini padanya.

Engkau Maha membolak-balikkan hati.

Selamat sore :)

Ratna dyah dwi islamiati | 02-05-15

Jumat, 01 Mei 2015

Pengeja Tulisan

Mengalir sederet cerita tentangmu, sepenggal kisah yang berceceran, tak mau hilang. Walau hanya sedetik dipelupuk mata ini. Buktinya, aku masih menghadirkanmu dalam setiap renunganku. Bertabur sejuta angan mengais mimpi semoga bisa menjadi sepenggal kisah nyata.

"Masih ada namamu di sini"

Mungkin kau tak pernah tahu apa yang kurasa saat ini. Sebuah tulisan yang kutulis terkadang tak tereja disetiap kalimatnya. Ini tentang rindu yang semakin melekat.
Tulisan yang mengibaratkan tentang semuanya. Yang takkan pernah selesai kurangkai untukmu. Ini juga tentang kesetian posisiku sebagai penikmat rindu yang tak pernah mendapat balasan. Tentangmu yang tak pernah lelah kugoreskan di tiap aksaranya. Hingga namamu yang kupintal menjadikan doa setiap sujudku.

Izinkan aku mencintai dalam diamku. Dalam sujud yang selalu aku lakukan setiap waktu. Dengan tangan tengadah yang selalu menghadirkan rangkaian kalimat indah yang aku sampaikan pada-Nya.

Izinkan aku mencintaimu meski dalam goresan pena. Tulisan dan aksara ini membentuk kalimat yang selalu setia mewakili perasaanku. Kamu dapat menebak keadaanku sekarang.

Mengisyaratkan tentang hati yang tertutup oleh pandangan wajahmu saja. Bukankan ini terlalu egois. Rindu kali ini terasa semakin nyata. Rindu yang tak terbaca yang tak kau
pahami maknanya. Ini rinduku untukmu. Biarkanlah aku simpan dan kurajut dalam doa yang selalu kupanjatkan, dalam hati yang paling luar bisa menampungmu.

Aku hanya pengeja tulisan yang menghabiskan waktu hanya untuk membuat goresan namamu menjadi nyata.

Semoga kamu selalu mengerti mengapa aku selalu menghadirkanmu dalam setiap tulisanku.

Maaf -___-

Ratna Dyah Dwi Islamiati| 01-05-15

Senin, 27 April 2015

Pelakon Kehidupan

Malam ini aku kembali dengan rentetan aksara yang begitu menawan. Racikan kata-kata yang tercipta begitu menggambarkan keadaan sekarang. Malam tanpa hiasan bintang dan purnama sudah seminggu ini memperlihatkan diri.

"Kemana malam yang biasanya membuatku nyaman?"

Mungkin Sang Pencipta sedang menyimpannya menunggu waktu yang tepat dengan suasana yang tepat juga. Berbisik manis dengan langit menjadi pilihan ketika semua orang memilih kembali dengan semua rutinitas.

"Langit yang penuh kebingungan ceritakan padaku, apa yang membuatmu gelisah?" tanyaku pada langit.

"Aku menunggu teman, tidak...tidak dia lebih dari teman?" seru langit malam ini.

"Lantas siapa yang engkau tunggu? Spesialkah dia? Berharga kah dia? Apa dia bisa membuatmu nyaman? Dan apa dia juga mengharapkanmu?" jawabku lantang

"Ya, dia begitu spesial. Dia yang selalu membuat makhluk ciptaan-Nya tersenyum, kalau tidak bisa membuat nyaman mana mungkin aku tunggu. Bukankah itu hanya membuang waktu? Soal mengharapkan aku tidak tau pasti tapi ada kalanya dia datang dan dia pergi." langit begitu manis malam ini.
Aku menunggu bulan dan bintang wahai manusia.

"Kenapa harus dua wahai langitku? coba pilih salah satu dari mereka?"

"Tidak bisa, mereka sudah satu kesatuan yang utuh. Aku nyaman dengan keadaan yang telah dibuat oleh-Nya."

"Kenapa langit?"

Langit pun tidak menjawab. Rentetan riwayat rahasia alam sudah tegas menggambarkan ada takdir khusus untuk semua yang telah diciptakan-Nya. Di langit yang mengambang dan menempel begitu kokoh menciptakan sebuah pertanyaan retoris. Sedangkan di bumi yang  telanjang menunjukkan keadilan sang Pencipta alam.

Siklus waktu tak pernah diam. Begitupun dengan kehidupan, selagi kita masih ditempa dunia perubahan sudah menjadi takdir tegas dari-Nya.
Cahaya bintang yang begitu terang mengajarkan akan ada setiap jalan untuk berbagai kehidupan yang membutuhkan jawaban. Cahaya bulan yang tumbang menunjukkan bahwa pelakon hidup di dunia harus melibatkan-Nya dalam berbagai urusan.

Ini udah seadil-adilnya hidup. Hidup akan berjalan selaras jika pelakonnya pun patuh akan perintah-Nya.

Berjalanlah dengan semestinya, buatlah kenangan indah di bumi teka-teki ini. Kerikil kecil yang hadir. Sambutlah, bukankah itu tamu yang layak untuk dijamu? Jamu dia dengan baik.

Hidup akan terasa lebih mudah jika kita melibatkan Maha Penjaga untuk setiap langkah kita.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 27-04-15

Sabtu, 25 April 2015

Tuhanku yang Selalu Aku Rindu

Aku terperangkap pada kesunyian malam yang membuatku linglung pada keadaan. Earphone masih terpasang dengan baik di telinga, layaknya seorang permaisuri merindukan rajanya. Langit mulai hitam menandakan drama segera dimulai. Drama dari Sang Pencipta semesta. Langit nampak gelap kali ini mungkin drama akan sedikit sedih. Benar saja, hujan turun membasahi kota, hiruk pikuk yang tadinya terdengar telinga kini berganti suara hujan yang berbondong-bondong datang. Aku menyaksikannya, "Apa selanjutnya yang akan dipersembahkan untuk penikmat alam sepertiku?" Tuhan tidak pernah tidur. Kilat disertai dengan ledakan yang begitu dahsyat membangunkan pikiran ini untuk menggambarkan keadaan sekarang. Terbingung dengan keadaan badan menggigil kedinginan. "Itu tadi apa, apakah itu wujud dari kemarahan sang pencipta?Tidak...tidak, Tuhanku maha penyayang, Tuhan ku tidak mungkin seperti itu."

Penggambaran tentang Tuhanku, aku hentikan. Ini terlalu rumit untuk digambaran, aku kenal Tuhanku dengan baik, buktinya kita sering bercengkrama tengah malam. Aku sering merasakan Dia membangunkanku tengah malam hanya untuk bertemu denganku lewat sujud yang selalu Dia suka. Aku termasuk hambanya yang percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap cerita yang telah aku rancang. Aku hanya bisa merancangnya tapi tetap Tuhanku sebagai pembuat skenario yang paling baik. Tuhanku tau cerita mana yang memang pantas terjadi untukku.

Aku pencinta petualang. Puncak tertinggi dari tebing-tebing yang berdiri tegap membuatku semakin dekat akan Tuhanku. Kita sering berbisik dari hati ke hati. Perasaan yang tadi bimbang kini kembali teguh untuk memilih beberapa pilihan.

Tuhanku kali ini aku merindukanmu, kenapa Engkau sudah dua hari ini tidak membangunkanku tengah malam.
"Apa Engkau tidak merindukanku? atau aku yang tidak mendengar sapaan-Mu."
Tolong Tuhanku kali ini aku benar benar membutuhkan sebuah kepastian. Ayo kita bicara dari hati ke hati, aku harus melibatkan-Mu dalam urusan ini. Tuhanku aku merindukanmu selalu, berkunjung dengan wajah yang nyata bahagia menang selalu aku berikan untuk-Mu. Nyatanya aku sangat bahagia bila berada dekat dengan-Mu.

Kini pengembara dan penggambar cerita kehidupan tidak sanggup menerka bahkan menebak suatu yang sudah menjadi skenario-Mu. Tidak ada satu hambamu yang tau akan hal ini. Hanya kenyakinan dan kepastian dalam memilih jalanlah yang selalu Engkau berikan. Hamba-Mu menyakini sangat bahwa engkau sebaik-baiknya pemberi jawaban, termasuk aku yang mempercayainya. Sudah terbukti dari berbagai pengalaman yang aku lewati di dunia yang penuh sandiwara ini.

Dunia mu terlalu indah bila hanya untuk bersenang-senang ini tempat yang pas, tapi bukan tempat yng nyaman bagiku. Aku ingin duduk lebih dekat dengan-Mu. Aku selalu siap untuk itu. Wahai Tuhanku yang Agung aku hanya sebagian hambamu yang membutuhkan kepastian akan sebuah jawaban. Dan aku yakin Engkau sebaik- baiknya pendengar cerita dari semua umatmu yang ada di dunia. Aku bangga telah berlahir di dunia yang penuh mengajarkan banyak hal yang memang selalu penuh tanya, penuh keajaiban, penuh drama. Begitu lengkap Engkau menciptakannya.

Aku hanya pengembara dan penggambar cerita. Tetapi aku tidak bisa menggambarkan cerita yang akan terjadi esok. Bagiku esok adalah misteri yang penuh tanya.

Di dunia yang indah ini aku selalu mengucap nama-Mu berkali-kali, ini bentuk rasa syukur atas apa yang engkau berikan. Ini juga bentuk rasa takut untuk menghadapi hari esok. Merindukanmu memang menjadi hal wajib yang selalu aku rangkai dalam sebuah cerita teruntuk-Mu. Kembali dengan skenario yang penuh tanya. Aku merindukan-Mu. Ajak hati ini dalam sebuah keyakinan, ajak pikiran ini untuk selalu berpikir baik.

Di sini aku merindukan-Mu. Dampingi aku untuk berjalan lebih jauh di dunia yang penuh tanya.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 26-04-15

Mengartikan Cinta

Langit begitu merayu, menandakan sebuah ketidakpastian alam. Matahari begitu malas, dia belum menampakkan batang hidungnya. Lembaran kisah cinta yang selalu aku ceritakan kini terkuak kembali. Dengan suasana santai, langit yang tidak pasti, matahari yang belum bertamu.

Hey selamat pagi, suasana di jogja begitu merayuku untuk kembali bercerita tentangmu.  Karena cintalah, kupersembahkan kepadamu. Kamu sudah sangat mengerti apa yang ada dipikiran. Yap betul selalu tentangmu. Sajak panjang tentang cinta – sepanjang perjalanan yang masih setia menunggumu.

Cinta  yang lahir dari lautan kata-kata, perasaan, pikiran, dan hasratku yang sederhana. Menggambarkan betapa kuat hati ini untuk tetap tinggal. Entah ini diluar dari kemampuanku, tapi buktinya aku masih tetap setia menunggu. Bukankan menunggu adalah hal yang paling membosankan. Di luar perhitungan dan rekayasa yang tak bisa kuhindarkan. Aku masih tetap menunggu, aku masih berdiri kokoh dengan tangan yang selalu setia merangkulmu.

Seperti cahaya matahari melintasi cakrawala, menembus bayang- bayang rahasia. Cintaku memang seperti itu adanya yang selalu penuh tanya. "Sampai kapan aku menunggu?" pertanyaan yang kerap kali muncul tapi aku abaikan, karena aku belum tau pasti jawaban yang benar akan pertanyaan itu.

Seperti cahaya bulan, tiba-tiba padam. Ini cinta yang mempunyai batas menunggunya sendiri, suatu saat aku akan membawa pergi perasaan yang sudah lama basi akibat kamu diamkan terlalu lama. Hati ini akan mencoba berpijak ke tempat yang lebih bisa menghargai perasaan .

Seperti angin yang terus memainkan cuaca, menderu di tengah kegelapan semesta, berpusar di tengah abstraksi waktu, dan mengendap di kediaman batu. Ya, ini cinta yang hanya bisa menunggu dalam diam, perasaan yang lama-kelaman akan beku dengan sendirinya. Otak sudah mulai memberontak, menayangkan kejadian nyata yang memang berhak dilihat oleh hati. "Apa masih pantas untuk ditunggu?".

Gerimis pun berderai, kata-kata mengurai. Seperti air mata yang mengalir deras melewati gunungan pipi. Air mata yang selalu aku hadirkan dalam renungan, tentang cinta yang begitu egois menyita semua perhatianku. Pengembaraan hidup dan kehidupan akan segera mengakhiri bila memang pantas untuk diakhiri.

*****
Terinspirasi dari kutipan puisi (Kahlil Gibran)

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 26-04-15

Jumat, 24 April 2015

Sepenggal Kisah Tentangnya

Sebuah kafe yang aku kunjung ini cukup membuatku nyaman akan keadaan sekarang. Hujan yang biasanya membuatku nyaman kali ini terasa menyiksa, dingin yang begitu terasa sampai ketulang membuatku rindu pada sosok lelaki itu. Pikiranku entah kemana, mencoba menerawang akan sosok laki-laki itu. Sudah seminggu ini wajahnya selalu berputar-putar di kepala. Kenalkan dia Fajar, pria yang identik dengan kacamata. Daya tarik tersendiri, dan dia berhasil membuatku nyaman.

Aku nana, nama yang begitu menggambarkan seorang yang lugu, kalem, tapi aku bukan seorang gadis seperti itu. Yap, aku gadis blak-blakan, suka humor, suka petualang. Dan aku mencintai sosok yang menurutku si kutu buku. Aku masih menerawang, menatap hujan yang tak kunjung berhenti. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh laki-laki berbaju putih, celana jeas hitam dengan ikat kepala berwarna coklat tua.
"Mau pesan apa mbak?"
Emm aku terkejut setengah mati, wajah Fajar pun hilang seketika.
"Emm kopi hitam deh pesen satu ya mas"  balasku manis
Aku suka kopi hitam setelah kenal dan mendalami Fajar, lagi lagi aku kembali dengan sejuta kenangan yang pernah tercipta bersamanya. Hujan yang begitu deras memaksa ku untuk memeluk tubuh mungil ini. Suasana begitu romantis,

Hey pria berkacamata, apa kamu merasakan hal yang sama denganku, Aku rindu sosok sepertimu.

Selalu terbesit dalam pikiranku untuk berdoa berharap kamu mengamininya. Mungkin sudah berjuta-juta kali namamu selaluku sebut.  "Aku sedang menikmati hujan yang begitu romantis, kali ini aku menikmati sendiri tanpamu, kamu kemana?apa kamu baik-baik saja?semoga kamu selalu tau arah jalan pulang".

Dua menit berlalu, pelayan itu datang lagi untuk memberiku secangkir kopi hitam dan sepotong kue berhiasan cream lembut bertabur keju.
"Ini mbak silahkan dinikmati" laki-laki itu tersenyum manis dengan lesung pipi dibagian kanan pipinya.
"Terimakasih mas, tapi... Aku tadi tidak memesan roti cantik ini"
"Itu spesial buat anda" pelayan itu kembali tersenyum, menunjukkan gigi yang berjajar rapi.
Aku bingung soal ini, ahh sudahlah bukankah ini rizeki buatku. Perut begitu keroncongan, ku lahab roti ini, mulut ku bergoyang merasakan begitu manis dan lembut roti ini. Kopi masih sangat panas untuk dinikmati, kepulan asap dengan aroma khas dari kopi begitu merayu. Bisa-bisanya aku melukiskan wajahnya di dalam kopi ini. Terlalu gila akan sosok Fajar.

Hujan berganti gerimis manis, kuaduk kopiku, ku sruput perlahan, ku cium aroma khasnya. Aku menghadirkan mu lagi, membayangkan kamu duduk di depanku, kita menikmati kopi hitam ini bersama, canda tawa pasti ada. Semoga ini bukan hanya ilusi semata tapi sebuah rencana yang suatu saat akan terwujud.

Kafe yang tadinya sepi kini pun tampak orang silih berganti keluar masuk. Ternyata jam menunjukkan pukul 21:05. Sudah terlalu malam, gerimis ini menyisakan tanda untuk hari ini, bahwa aku masih saja merindukanmu. Kopi yang tadinya mengepul kini sudah hampir dingin. Aku masih ingin berlama-lama di sini, menunggu kamu datang menjemputku, memberikan jaketmu untuk kukenakan. Aku kedinginan, aku membutuhkanmu kali ini. Sudahlah aku hanya bisa mengucapkan tanpa bisa mewujudkan. Biarkan malam ini aku kembali dengan sederet cerita yang harus kembali aku renungi apakan masih pantas untuk aku perjungkan.

Kopi sudah tinggal ampas. Menyisakan sepenggal cerita tersendiri tentangmu, kamu yang saat ini sedang memperjuangkan orang lain. Aku cukup bahagia.

Menerawang menjadi hal wajib ketika sebuah pertemuan hanya terlihat semu dan tak pasti. Karena ini sudah cukup untuk membuatku nyaman akan keadaan seperti ini.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 24-04-15

Rabu, 22 April 2015

Kawan :)

Kalian lebih dari apapun
Terimakasih untuk waktu yang tak akan terulang sama. 

Sukses untuk kalian ({})
Eni Lasmi Saputri
Ratih Tri Muliasih
Dian Rahmawati
Heni Ulfiatun
Septiani Wulandari

Ratna Dyah Dwi Islamiati |22-04-15

Selasa, 21 April 2015

Pilihan

Lama kelamaan, semakin lama rasa itu akan pudar dengan sendirinya. Tapi entah kapan, yang pasti ketika hati sudah lelah untuk berjuang. Berjuang, menunggu sesuatu yang semu dan tak pasti yang tak pernah ada ujungnya kapan akan berhenti. Dan disitulah hati mulai mengiyakan logika untuk memilih mengikhlaskan, tapi beda halnya dengan mundur. Karena mengikhlaskan jauh lebih bisa mengajarkan banyak hal.

Intinya rasa itu akan tetap ada tapi dengan kadar yang berbeda :)

Senin, 20 April 2015

Merindukan sosok itu lagi

Malam ini terasa hening, beda dari hari hari biasanya. Seperti biasa, hal yang sering kulakukan rebahan dikamar sederhana berukuran 3x3, dengan musik yang berputar dan masih setia menemaniku malam ini. Kali ini lagu yang kudengar Perahu Kertas-Maudy Ayunda

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Bukan kah ini lagu yang begitu menyayat hati, sekali dengar lagu ini pengen ngulang lagi. Alasannya dari awal intro sampek akhir lagunya galau badai...hehe
Temen ku pernah bilang ke aku, "jangan sekali-sakali dengerin lagu perahu kertas pas lagi sendiri apalagi pas malem-malem dijamin deh sungai di bawah mata lo langsung tercipta."

Aku si suka tantangan, ahh aku coba aja dengerin lagunya Maudy Ayunda. Dan bener aja air mata tiba tiba banjir dipipiku. Ini lirik menyayat hati banget broh, gak bisa nahan lagi. Aku relain deh air mata ini netes cuma gara gara lagu ini.

Lagu itu terluang sampai beberapa kali, telingaku udah apal banget sama liriknya. Kali ini aku sedang gelisah, enggak tau kenapa dari kemarin perasaan ada yang ngeganjel aja di hati. Mungkin ini soal merindukan seseorang yang jauh disana. Wajahnya yang selalu menggelitikku untuk terus memikirkan bahkan sudah menjadi rutinitas sebelum tidur untuk melukiskan wajahnya... Upss udahlah mungkin dia juga sudah tau.

Hay kamu iya kamu pria yang sudah membuat nyaman, sudah bisa membuat aku fokus pada satu titik itu. Ya, fokus padamu saja. Apa kamu tau itu? Seharusnya kamu sudah tau akan hal ini. Karena aku sudah terlampau sering memberi kode. Tiap orang yang sudah pernah ngalamin ini pasti hatinya gelisah, perasaan tak karuan. Itu yang sedang aku alami sekarang. Cuma gara-gara:
Rindu pada sesorang yang belum pernah bertemu sebelumnya?

Tadi abis baca blognya bang Falen Pratama, ternyata aku ngalami hal yang sama. Blog yang begitu menginspirasi.

Mungkin aku sudah terlalu nyaman pada sosok laki-laki ini. Aku sudah nyakin bahwa namaku nyaman saat diucapkan olehnya. Menuntut banyak darinya?? Ahh tidak mungkinlah, aku bukan siapa-siapanya. Aku tak mau terlalu menebak soal hati. Apalagi menebak soal hatimu, itu terlalu sulit. Kamu tau alasan yang lebih pasti "karena aku tidak mau kecewa bahwa kadar "Aku" di hati kamu masih dibawah 10%". Aku takut akan hal ini, sesuatu yang membuatku sakit, aku pun tak mau untuk mengetahuinya lebih jauh lagi. Itu hanya membuatku sesak.

Yang perlu kamu tau aku disini sedang merindukanmu, tapi aku bisa apa. Yang bisa aku lakuin hanya menyebut namamu berkali-kali dihadapan-Nya

Maaf lagi lagi aku menceritakan tentangmu :p

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 20-04-15

Minggu, 19 April 2015

Cinta Ibarat Benang Kusut

Hari ini terlalu panas untuk merenung, kegiatan yang sering kali kulakukan. Aku kembali dengan cerita tentang perasaan. Aku masih saja menghabiskan waktu untuk menantimu, duduk di teras rumah sedari menikmati segelas es teh manis. Kulihat awan yang bergulung-gulung dilangit begitu indah.

Tadi pagi pagi sekali ada seorang teman yang curhat akan perjalanan cintanya, yang menurutku si begitu rumit. Ahh, ibarat benang kusut. Ya, mungkin ungkapan itu yang mewakili untuk kondisi seperti ini. Bukankan setiap perjalanan terlalu sulit diterima oleh logika. Apalagi ini perihal cinta. Aku mencoba menerawang ke langit yang berhiasan awan. Bukankah awan itu juga terlihat rumit, bergulung-gulung dengan penuh tanya. "Apakah awan itu dibuat untuk satu tujuan yang pasti?" Entahlah aku tak ingin  menebak soal ini, terlalu rumit. Biarkan Sang Pencipta menyimpannya sendiri. Yang aku tau langit kali ini nampak begitu gagah.

Ketika benang dalam gulungan sudah kusut, banyak orang yang membuangnya, mereka tidak mau ribet untuk membenahi agar kembali seperti semula. Cinta pun sama seperti benang kusut, kisah kasih yang tak pernah ada habisnya. Canda tawa, sedih tangis kerap kali mewarni. Semisal kita ada permasalahan, pikiran terasa berat,  hati apalagi sudah tak kuruan rasanya. Ketika masalah itu datang pasti akan berbentuk seperti gulungan yang tidak tau ujung nya dimana, dia seperti benang kusut.

Tugas kalian hanya satu merangkai benang itu menjadi sebuah gulangan atau membiarkan benang itu tetap kusut. Diri andalah yang tau akan hal ini.

Setiap remaja kerap kali merasakan hal sama, bimbang akan pilihan bertahan atau mundur. Sikap dewasalah yang bisa membuat semua baik baik saja, benang kusut pun bisa menjadi gulungan yang rapi lagi jika kita memiliki kesabaran yang extra untuk hal ini. Ya, menyusunnya menjadi gulungan yang indah lagi. Posisi seperti ini lah yang kita harus pahami "kepada siapa kita harus kembali?" Bersujud diatas sajadah menjadi pilihan ketika hati dan logika tak sejalan. Kenapa kita harus bingung untuk menggulung benang kusut menjadi gulungan yang indah lagi jika jarak kemenangan hanya antara dahi dan sajadah.

Yang perlu kalian tau. Sekusut apa benang itu, pasti dapat dikembali seperti semula. Jika anda memiliki kenyakinan untuk mengembalikannya lagi. Libatkanlah Tuhanmu dalam urusan ini :)

Ratna dyah dwi islamiati | 19-04-15

Sabtu, 18 April 2015

Kenangan masa kecil

Malam ini ditemani anak kecil berbaju merah, dia menatapku dengan mata berbinar. Begitu cerewet nih anak. Tapi dia terlihat begitu cerdas untuk seorang anak seumurannya. Begitu polosnya dia bercerita. Ya Allah aku pernah merasakan posisi seperti anak ini. Bukankan masa kecilku begitu bahagia, yang aku tau hanya sekolah dan main. Anak yang bandel untuk seumuranku dulu. Sawah,sungai tak luput dari jamakan kaki kecilku. Dengan teman-teman yang begitu hebat dan kompak. Kenangan masa kecil yang begitu indah.

Teruntuk teman teman, ingatkan kalian saat bermain layang-layang, main bola disawah, nyari ikan di sungai dan masih banyak kenangan yang tercipta. Aku rindu masa-masa itu masa dimana sehabis pulang sekolah berkumpul selayaknya genk, hanya untuk tertawa lepas.

Ingatkah tentang sirkuit yang kita buat. Ingatkah tentang cerita pocong di rumah tua. Dan ingatkan ketika kita menari di tengah hujan? Masa kecilku yang terbilang bahagia. Cinta masa kecil yang masih melekat indah tapi dengan kadar yang rendah. Ahh begitu indah memang.

Secarik kertas untuk menulis surat cinta teruntuk orang yang begitu spesial dimasa itu. Hahaha... Udahlah aku sudah mengurangi kadarnya, kita sekarang bersahabat baik bukan, kita sudah memilih jalan kita masing-masing.

Terimakasih untuk waktu yang sudah kalian berikan, yang aku tau tak mungkin bisa terulang kembali

Ratna dyah | 18-04-15

Penikmat Senja :)

Senja yang selalu bertamu, yang menggerakkan tubuhku untuk slalu memandangnya. Lagi lagi aku memuji keindahan Sang Pembuat skenario hidup ini. Langit terlihat begitu serasi. Semilir angin ikut serta mengantar matahari ke tempat istirahatnya. Menandakan tugas hari ini sudah selesai. Daun daun bergoyang indah nan serasi penuh tanya. Tiupan angin dengan sayu menyapa raga. Burung-burung beterbangan untuk kembali kesangkarnya, mereka berteriak menandakan hari sudah semakin gelap.

Dibalik senja yang indah terlukis wajahmu dengan bias bias jingga, kali ini langit sebagai kamfas untuk melukiskan wajahmu. "Kenapa wajahmu terlihat sayup? Apa kamu lelah?" Aku tau kamu sedang sibuk-sibuknya bekerja ditanah orang. Maaf untuk kesekian kalinya aku memujimu. Kamu memang patut untuk dibanggakan, lelaki yang rela pergi jauh dari pangkuan sang ibu untuk membahagiakan orang yang berada disampingnya. Disini selain menikmati senja aku juga turut serta berdoa agar kamu selalu bahagia.

Aku hanya penikmat senja yang selalu menghadirkanmu dalam setiap lamunanku.

Ratna dyah dwi Islamiati| 18-04-15

Jumat, 17 April 2015

Wanita super dan putri kecilnya

Aku masih duduk di samping jendela kamarku. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua.  Bunyi yang terdengar sayup-sayup, gesekan lembut antara daun satu dengan yang lainnya , diikuti derap langkah dan gerakan kaki yang tak asing lagi didengar telinga. Dengan muka tua dan rambut yang hampir memutih mendekati ku, mengelus perlahan rambutku yang begerai sepunggung, Begitu menenangkan. Dia terus memberikan sentuhan lembut dengan tangan tuanya, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sebut saja dia wanita super dalam hidupku yang rela memperjuangkan hidup dan matinya hanya  untuk satu tujuan yang mulia, Ya, agar aku dapat melihat dunia.

"Gadis kecilku sekarang sudah besar, kelak kamu akan meninggalkan ibu untuk mengejar kehidupan yang lebih layak"
kata yang membuatku miris ketika mendengarnya, telinga yang begitu sensitif untuk hal ini.

"Aku tau jalan pulang ibu, sejauh apapun aku melangkah aku akan kembali pulang kepangkuanmu bu, aku ya tetap aku gadis kecil mu yang  selalu merindukan kasih sayangmu", Dengan mata berbinar aku berkata demikian untuk menguatkanmu ibu.

Entah berapa lama kita merunung, untuk membanyangkan ketika aku pergi dari pangkuanmu. Tiba-tiba, aku dibuat bersipu malu atas pertanyaannya, yang menanyakan tentang seorang yang sudah lama tak ku ceritakan lagi kepadanya.

"Apa dia masih ada sampai saat ini, dia kemana? kenapa cerita tentangnya jarang ku dengar lagi"
Sontak jantungku berdebar kencang, milihat senyum tipis sambil menggodaku untuk menceritakan tentang dia lagi dan lagi.
"Ibu dia masih tetap ada sampai saat ini, dia punya tempat tersendiri dihati ini sampai kapanpun. Tapi sekarang dia sedang berlayar bu, aku relakan dia berlayar asal dia selalu bahagia" Akhirnya air mata yang aku tahan untuk tidak menetes akhirnya mengalir deras dipipiku.
Ibu yang selalu menguatkan berkata " Rencana dari-Nya jauh lebih indah nak, biarkan dia berlayar. Jika dia memang ditakdirkan untukmu dia akan pulang, dia tau jalan mana yng harus dituju untuk kembali ketempat yang paling nyaman. Dia akan kembali kesisihmu."

Suara angin seakan mengiyakan kata kata yang telah diucapkan wanita hebat itu. Kupeluk erat tubuh yang begitu hangat akan perhatian yang luar biasa. Wajah mu masih terlihat cantik walaupun usia sudah tak lagi muda, terimakasih untuk kenyamanan yang telah engkau berikan untuk ku. Kelak aku akan merindukan mu sebagai rumah yang paling nyaman dan paling sejuk untuk tetap tinggal tanpa mau beranjak pergi.

Tetap menjadi wanita super ku. Tanpa pengorbananmu aku tidak pernah bisa melihat keindahan dari Sang Pencipta. Tunggu gadis kecilmu menjadi orang yang memang berhak untuk engkau banggakan. Kasihmu sepanjang masa ibu :)
Terimakasih untuk kesekian kalinya ibu...

Ratna dyah dwi islamiati | 17-04-15

Kamis, 16 April 2015

Tentang kopi dan kamu

Apa yang anda pikirkan tentang kopi hitam ?
Pahit sudah tentu.
Warna hitam pekat dengan aroma harum yang khas mengingatkan pada seseorang yang menyukainya. Sruputlah kopimu dengan perlahan, telanlah dengan hati-hati supaya kamu bisa merasakan kenikmatanya.

Malam ini aku menyedu secangkir kopi, dengan racikan kopi dan gula lalu disedu dengan air panas. Ini sudah cukup untuk menemani ku malam ini. Menikmati rintikan hujan, ditemani lagu yang tak bosan menemani ku. Tempat tidur menjadi tempat yang paling nyaman ketika pundak merasakan lelah menompang berbagai masalah yang ada. Kali ini aku kembali dengan rentetan aksara yang selalu menggambarkan suasana.

Menoleh kearah lampu kecil yang terletak dimeja belajarku, membayangkan jika aku menjadi kopimu. Sesuatu yang memiliki kekhasan tersendiri dan selalu setia menemani hari-harimu, begitu dekat bahkan selalu hadir walaupun tidak menjadi prioritas utamamu tapi setidaknya aku selalu kamu hadirkan saat kamu butuh teman untuk merenung. Sedu aku dengan tambahan butiran butiran gula. Dengan alasan agar kamu merasakan berbagai rasa tidak hanya pahit yang kamu rasa, tetapi ada manis yang akan hadir ketika kamu tambah gula. Warna hitam pekat yang sudah melekat pada kopi, menandakan rasa pahitnya begitu teramat jika tidak kamu beri gula, ini alasan kedua kenapa kamu harus menambahakan butiran putih yang manis. Bunyi yang selalu hadir dari cangkir cantik ketika kamu mengaduknya. Aduk aku dengan perlahan agar bunyi yang tercipta begitu syahdu didengar telinga. Nikmati kopimu secara perlahan, karena aku masih ingin berlama-lama dengan mu, menemani dalam sepi. Menyaksikan mata dengan hiasan kacamata sedang berbinar-binar menyaksikan keindahan sang pencipta kehidupan. Walaupun akhirnya aku akan kamu habiskan, tetapi aku masih meninggalkan ampas, karena aku ingin tetap ada walau kamu tidak membutuhkan aku lagi. Aku kopi yang kamu sedu akan menjadi ampas kopi ketika diakhir. Tapi aku tetap ada dan selalu hadir :)

Wahai penikmat kopi, hadirkan aku dalam setiap kesepianmu. Aku berjanji akan memanimu, membuatmu selalu nyaman dengan rasa dan aroma khasku. Dan aku akan tetap hadir walaupun kamu tak membutuhkan ku. Karena diakhir aku hadir sebagai ampas kopi :)

Ratna dyah dwi islamiati | 16-04-15

Selasa, 14 April 2015

Terlampau indah untuk dilupakan

Perasaan aku ini aneh, aku ingin marah ketika kamu masih memikirkan dia. Tapi enggak mungkin, aku cemburu sama kamu tapi aku tau aku bukan siapa-siapa. Dia yang begitu sempurna, dia yang selalu kamu kejar, dia yang menyita  perhatianmu, dan bahkan dia yang kamu tunggu. Apa dia yang ada dihati kamu?Mungkin iyaa.
Dia yang begitu sempurna sehingga menutup kemungkinan untuk kamu lupakan, walau aku tau kamu sedang berusaha keras untuk melupakan. Jangan dipaksa, karena aku tau semakin kamu memaksa semakin ingat, biarlah semua berjalan sesuai dengan Jalan-Nya. Aku pun tau dalam sujudmu, kamu tak lupa selipkan dia dalam doamu, berharap dia juga mengaminkan setiap doamu. Apa kamu tau akupun melakukan hal sama denganmu, aku sempat memutuskan untuk menanggalkan tapi tidak menghilangkan rasa ini. Aku juga mencuri-curi untuk menyelipkan namamu dalam setiap doaku, berharap kamu mengamininya. Kita ini sama, sama-sama sadang memperjuangkan yang tak pasti, dengan titik segitiga tepatnya. Kamu memperjungkan dia sedangkan aku memperjungkan kamu. Bukankan itu terlalu sakit untuk dilanjutkan. Apa kamu tau serapuh apa hati ini? Semoga kamu mengerti.

Hari demi hari aku lewati bareng kenangan yang pernah tercipta antara kita, aku pun belum berhasil mengurangi kadar itu. Masih tergambar jelas dengan kadar yang masih sama pula. Apa memiliki mu hanya sebuh ilusi, seakan kenyakinan ini semakin semu. Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya kamu akan selalu ingat aku pernah hadir dihati mu sebagai penyemangat. Tapi aku lebih senang menyebut kehadiranku hanya untuk sebagai "katalis" yang hanya untuk mempercepat reaksi tapi akhirnya akan hilang. Karena kamu tidak mengiyakan untuk terus berjalan kontinyu. Ya, aku hanya mempercepat perubahkan, tapi akhirnya tetap kembali keawal. Walaupun aku datang hanya untuk itu tapi aku bahagia pernah menjadi bagian dari hidupmu, mengajarkan tentang berbagi macam kehidupan yang begitu nyata akan berbagai masalah.

Ketika lagu itu diputar berulang-ulang, seakan 1% nya memang lagu tapi 99%nya kenangan. Aku tau yang aku lakuin ini salah, masih mengingat kenangan denganmu termasuk suka mengulang lagu yang berhubungan denganmu. Memang ini bukan bagian dari melupakanmu. Biarkan saja aku menunggu, menunggu dalam dilema, menunggu kamu melupakannya.

Aku sudah terlampau sering memberi kode, mungkin kamu peka akan itu. Seakan aku terlalu berharap bahkan terlalu mengerjar, aku akan bersikap biasa berjalan dengan semestinya, tidak akan memaksa untuk sebuah penantian yang semu. Jika kamu sudah lelah berlari, ada aku dibelakang kamu yang masih setia berdiri dibelakangan entah untuk memberi semangat atau entah untuk melihat kamu bahagia dengannya. Karena aku sudah lelah berlari, aku memilih untuk berjalan dibelakangmu untuk menikmati perjalanan yang begitu mengajarkan banyak hal. Tapi aku tetap sini dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Semoga aku tetap akan ada, walau entah sebagai apapun itu buat kamu

Selamat berjuang untuk move on :)

Ratna dyah | 16-04-15

Sesuatu yang tak pasti!!!

Rintikan hujan yang bertamu seakan mengiyakan kalau aku sedang memikirkan suatu hal yang seharusnya memang sudah tidak pantas lagi untuk dipikirkan. Lagi lagi semua terpusat pada satu titik, dan menyita semua perhatian ku hanya untuk memikirkan satu hal yang pasti. Terkadang aku ingin membelokan arah agar aku tak memikirkannya, tapi nyatanya aku semakin sulit untuk membelok, ini malah tambah semakin menyakitkan waktu.

Masalah wanita hampir sama, terbukti dari kaum wanita yang selalu bingung akan dua pilihan, Ya... kedua-duanya seperti kesatuan utuh yang memang tidak bisa dipilih. Entahlah kenapa semesta selalu menghadirkan dua pilihan yang memang sulit untuk memilih salah satu.

Sekarang perasaan ku sedang berada pada fase itu. Tuhan, hati ini yang terlalu sensitif akan masalah cinta. Hampir setiap orang yang terjebak didalamnya sulit untuk menentukan yang terbaik untuk diri sendiri, ini alasan kenapa Engkau memang sebaik-baiknya kunci untuk berbagai masalah termasuk masalah hati. Memilih salah satu dari mereka bukan perkara gampang dan mereka memang memiliki alasan tersendiri untuk diperjuangkan. Satu sisi ada orang yang memang benar benar sayang tapi entah kenapa hati tak mengiyakan hal yang sama bahwa aku juga sayang dia, tapi untuk melepasnya pun terlalu sulit karena aku butuh sosok seperti ini. Pertanyaannya "Apakah ini cinta?" Sedangkan disisi lain orang yang tak memperdulikan mu tak merasa butuh untuk diberi kabar malah yang kita sayang, hati mengiyakannya. Untuk menghindar darinya pun terlalu sulit. Entahlah, aku tak mengerti akan definisi cinta yang sebenarnya.
Yang aku tau tentang cinta itu ketika aku nyaman, ketika aku tak pernah lupa memberi kabar, dan tentang cara ku yang selalu menyebut namanya dalam setiap doa.

Aku selalu mendoakan kalian, biarkan Allah yang akan menentukan yang terbaik untukku. Walaupun aku sudah mengerti akan takdir Tuhan itu benar adanya, apa salahnya aku meminta buat dipersatukan denganmu, ini hanya sebatas doa yang tanpa tau apa rencana yang telah dibuat oleh pemilik semesta ini. Berpusat pada satu titik yang tak pasti memang kadang membuat kita jatuh, dan lagi lagi hanya karena satu orang. Kepastian memang hanya milik Allah. Wajar jika manusia sering sekali memberikan harapkan lalu menjatuhkan. Manusia yang sering kali mengecewakan. Walaupun sudah tau rasa sakit akibat dikecawakan tapi masih saja kita kerap kali memberi kesempatan, alasannya mungkin dia bisa lebih baik :)

Yang aku butuhkan kali ini hanya gelap, tak perlu berhias purnama dan jutaan bintang. Membiarkan mulut ini bergetar seiring air yang terjatuh dipipi. Hati kecil tak pernah bisa berbohong kalau aku memang sayang dia, dia yang tak pernah memperdulikanku, dia yang tak pernah memberi kesempatan. Ya Aku menyayanginya. Bahkan kmu tak perlu tau dalamnya perasaanku. Yang bisa aku lakuin hanya bersujud dengan tangan tengadah menunggu waktu itu datang. Waktu dimana kamu dijatuhkan ditempat yang sama denganku setidaknya masih dalam jarak gapai ku atau tidak masih dalam jarak pandangku. Karena aku ingin mengenalkan betapa besar perasaan yang selama ini singgah hanya untuk mencintai orang yang tak pasti. Yaitu KAMU.

"Hay teruntuk mu yang ada disebrang pulau sana, hati ini masih mengiyakan anda sebagai pemilik sahnya."

Ratna dyah dwi islamiati | 14-04-15

Minggu, 12 April 2015

Doaku

Tuhan lancarkan lah selalu, tenangkan lah hati ini, mantapkanlah dalam memilih jawaban dalam setiap pertanyaan. Aku berserah diri hanya kepadamu ya Rabb
Terimakasih sudah menghadirkan orang yang selalu setia mendukung dalam setiap langkahku :)
Sukses UN

Tentang rindu yang selalu datang

Aku sudah terlampau jauh berjalan hanya untuk melupakan, rasa rindu yang kerap kali menggoyahkan hati kini akhirnya datang. Sebuah pesan tertulis teruntukmu, entah ini memang soal perasaan. Mendapat respon pun sudah cukup bahagia. Mungkin aku rindu dengan nya, Iya  memang aku selalu rindu, rindu yang kerap kali menyita perhatian ku. Mengetahui kabarmu dan memastikan kau baik- baik saja. Adalah salah satu cara yang membuatku tetap bahagia. Aku tidak pernah memaksa mu untuk jadi milik ku, karena aku tau aku hnya bisa menjadi salah satu bukan menjadi satu satunya bagimu.

Kali ini bukan perkara menjadi yang terpenting bagimu, bukan juga perihal menggenggammu. Ini lebih dari itu, ini tentang rindu yang kerap kali muncul tiba tiba padahal aku sudah kerap selali mengusirnya. Ini rindu yang masih sama, rindu yang begitu mengherankan, rindu ini memilik ki kadar nya sendiri dan kadarnya selalu bertambah. Entah kenapa aku pun tak mengerti. Rindu ini tidak pernah kurasakan kepada yang lain. Rindu ini hanya kurasakan saat bersamamu saja. 

Tentang hati yang hanya ingin menaruh segala tentangmu di sana. Tidak ada salah nya juga kalau kamu belum siap, aku tidak memaksa mu buat tetap tinggal. Bahkan jika kau ingin pergi untuk mencari kenyamanan dengan yang lain aku tak bisa menahannya, bahkan aku mempersilahkan mu, karena aku tau kalau aku tak berhak untuk mu.

Perihal perasaan yang selalu tumbuh semesta ikut serta didalam nya, semesta selalu menghadirkan sesuatu yang selalu berhubungan dengan mu, aku tak bisa menolak apa yang semesta hadirkan. Karena ini sudah skenario dari-Nya. Aku tak bisa memaksa pikiran ku buat menyingkirkan mu, kamu ya tetap kamu tak pernah bahkan tak bisa buat digantikan. Ini lah cinta. Cinta tumbuh segitu hebatnya bahkan aku tak dapat menebangnya. Cinta akan selalu ada walau kamu tak pernah membuka untuk memberi kesempatan, tapi sekali lagi aku tak memaksa. Kamu hebat, kamu bisa buat aku seperti ini, mencintai tanpa memilik ki.

Nama mu yang begitu jelas tertulis dipikiran ku, maaf kan aku yang masih berulang kali mencuri-curi buat menyebut nama mu dalam sujud ku lagi dan lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan mencintai mu secara diam lebih mendewasakan. Biar Allah yang tau seberapa besar rindu yang selau datang. Cukuplah hanya menggenggam dalam angan, karena aku bisa kapan saja menggenggam mu.

Semoga perjalanan ku berakhir bahagia, walau pun tak pernah bersama aku cukup bahagia jika kamu berada pada tangan orng yang tepat. Terimakasih ya Rabb buat kesabaran yang tak pernah habis :)
Ini alasan aku masih tetap tinggal disini, jika kamu sudah capek berjalan tolong menoleh kebelakang, aku masih disini tetap disini.