Minggu, 31 Mei 2015

MOVE ON

"Move on adalah bukan perihal melupakan". Ya, memang begini adanya, semua yang pernah menyertakan hati memang sulit untuk dilupakan bahkan dihilangkan. Manusia lahirkan dibekali dengan hati dan pikiran. Itu alasan kenapa sulit move on dan mengapa harus move on juga. Mengenal semua proses kehidupan menjadikan kita larut dalam kebimbangan. Toh, kita pernah bahagia dimasanya.

"Semua yang dipaksakan memang sulit untuk diterima". Ya, memang benar, memaksakan melupakan memang sulit, karena fokus kita masih tentang dia. Sama halnya dengan mencari pengganti. Tak selamanya mencari pengganti itu membuat cepat move on. Banyak yang sudah punya pengganti tetap masih hidup dimasa lalu. Move on tentang menerima kenyataan bahwa dia sudah pergi. Hidup mengajarkan untuk berjalan maju bukan berjalan mundur, menoleh boleh tetapi semua ada batas. Masa lalu tetap ikut andil dimasa sekarang, karena kita pernah hidup dengan masa itu. Mengubah persepsi,bahwa masa lalu memang sudah selasai. Hidup terus berjalan kedepan, dan kalian hidup dimasa sekarang.

"Tolong bantu aku buat melupakan dia". Ketika kata ini diucap oleh seseorang yang akan move on, biasanya dalam fase mencari pengganti. Aku tidak menyetujui kata itu "bantu aku untuk melupakan". Apa? Seperti menjadi tempat pelarian untuk melupakan. Fokusnya saja sudah untuk 'melupakan', dan lagi—lagi fokus ke dia. Bukan 'bantu melupakan' tetapi 'bantu untuk menikmati hidup'. Mengubah respon hati, dan percaya bahwa dirimu bisa bahagia. Ketika kalian larut dalam menikmati keindahan alam, menikmati hidup tentunya, kalian akan secara gak sadar sudah melewati fase move on, enjoy membuat kita lupa bahwa masa lalu bukan suatu hal yang mustahil untuk dihilangkan kadar fokusnya.

Ubah cara hidup kita. Bilamana kalian memang sudah menjalani hidup normal, tetapi jika hati kalian masih merespon kenangan sama halnya memaksakan untuk hidup normal. Hidupi mimpimu bukan kenanganmu. Menuruti keinginan merespon masa lalu tak beda dengan mengenang. Enjoy aja,— kalian akan larut dengan sendirinya. Larut hidup dimasa saat ini bukan saat dulu. Jangan maksain diri, jangan depresi mencari cara untuk melupakan, itu malah semakin mengembalikan. Move on bukan masalah bisa atau enggak tetapi mau atau tidak.

Butuh waktu tidak singkat untuk hal ini, tidak cukup satu hari bahkan bisa menaun. Beradaptasilah dengan keadaan sekarang, cintai proses kehidupan. Patah hati berlarut-larut tidak akan membuat semuanya lebih baik. Jangan terus larut dalam masa yang sudah berakhir. Kalian hanya patah hati, patah cinta—bukan mati. Tinggal memilih mau bergerak atau mati di tempat. Kamu jauh lebih mengerti bahagia untuk hidupmu.

Teruntuk yang hingga kini belum bisa membuka hati, tidak apa—apa, tidak ada yang salah dengan dirimu. Kamu cuma butuh sepi untuk merenung lebih banyak. Jika memang belum bisa membuka hati tetapi tetap ingin move on. Tenanglah, banyak aktivitas yang dapat membatu. Manjakan dirimu dengan segala aktivitas yang membuatmu nyaman. Move on bukan perkara mencari pengganti tetapi bagaimana bisa menikmati hidup. Teman, sahabat, dan keluarga cukup untuk mengenalkan hidup yang memang patut untuk dipuji. Berbahagialah bersama mereka.

Fase move on seperti keluar dari labirin, sulit memang tetapi tidak ada yang tidak mungkin. Jangan banyak terdiam memikirkan, tetapi terdiam untuk merenungkan. Berdamailah dengan hati, beri semangat untuk memperbaiki dan membuat lebih baik.  Membuka kesempatan, bukan menutup kesempatan. Bukan cari cara melupakan yang justru semakin mengingatkan, tetapi belajar menikmati hidup. Membelokkan arah menjadi lebih baik apa salahnya. Toh, kita hidup untuk saling berhubungan, mengajarkan hal asing, menjadi hal yang kita suka.

Renungkanlah ini, "aku tetap mencintaimu tetapi aku jauh lebih mencintai diriku". Akan ada kejuatan disetiap tikungan yang menanti kita. Hidupi mimpimu bukan kenanganmu

***inspirasi dari banyak artikel***

Ratna dyah dwi islamiati | 31-05-15

Jumat, 29 Mei 2015

Pelajaran Tentang CINTA

Panasnya hari ini begitu menenggelamkan. Keringat tak henti—henti bercucuran. Kehilangan banyak cairan dalam tubuh. Tapi ada sehatnya juga. Ternyata kehilangan tak selamanya buruk. Derap langkah angin yang begitu hati-hati membuatku sedikit nyaman pada keadaan. Kembali mengusik tentang perjalanan pejuang cinta. Walaupun itu mengenai masalah setiap orang, tetapi itu menarik untuk direnungkan. Kembali dengan sebuah kata sederhana melahirkan makna yang begitu luas bahkan begitu dahsyat untuk dijalankan. Ya, dia adalah CINTA. Sebegitu sederhana tapi juga istimewa.

"Cinta adalah salah satu perilaku otak yang tidak Rasional. Otak menjadi *tidak logis* dan secara Harfiah BUTA akan kekurangan-kekurangan sang kekasih" ~Louanne Brizendine.
Bukankan ini definisi yang sangat cukup menggambarkan tentang cinta. Tak begitu heran, banyak orang yang stres cuma gara-gara cinta. Ini itu permasalahan selalu hadir dalam hubungan percintaan.

Dalam pengenalan yang berujung jatuh cinta pun memiliki rumus selayaknya pelajaran matematika. Bukankah sama rumitnya.
Mata + Hati + Tertarik + Dekat + Nyaman + Kontak batin = Jatuh Cinta
Setidaknya seperti itu kita merumuskannya. Jika salah satu unsur penting tidak terpenuhi. Bukan jadi cinta yang kalian mau, mungkin cinta dalam konteks lain semisal: Cinta dalam bentuk mengagumi (fans), cinta dalam bentuk rasa nyaman (teman dekat). Jika unsur yang diatas terpenuhi mungkin anda mengalami apa itu jatuh cinta. Tapi lagi-lagi jodoh ditangan Tuhan. Setidaknya usaha, kalau enggak usaha jodoh masih tetep aja ditangan Tuhan.

Ketika sudah sekian lama menjalani hubungan. Pasti akan ada konflik batin yang cukup menyita kewarasan kalian,bagi mereka yang tidak bisa bekerjasama dengan baik. Masalah kecil bisa merembet menjadi besar. Ini masanya dimana pikiran dan hati anda beradu argumen. Seakan keduanya saling membenarkan. Ketika salah satu dari kalian sudah mengalami yang namanya bosan, dan memilih untuk bermain-main dengan yang lain, maka salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Mengalah disini bukan dalam arti kalah, tapi mengalah untuk sesuatu yang baik. Berpikirlah dengan hati, setidaknya bisa mengiyakan sebuah tujuan. Merenunglah untuk ini, karena itu masalah perasaanmu.

Beda halnya jika kamu terlalu sayang dan sulit melepaskan. Kebisaan dari setiap pasangan ketika emang sudah 'mengstuck' bahwa hatiku sudah berhenti dikamu. Boleh—boleh saja mengucapkan, tetapi dengan syarat bisa menjalankan bukan hanya wacana belaka. Jika memang pasangan kalian sudah tidak bisa bersama. Jangan takut untuk kehilangan. Lepaskan!!!. Kamu jangan menjadi 'penjara' untuk pasanganmu. Sebenarnya dia tidak ingin dibatasi berbagai macam kebebasan. Kenapa harus takut melepaskan, toh ketika kita sudah 'mati' semua yang kita miliki akan hilang.

Biarkan yang mampir hanya mampir, biarkan yang ingin singgah untuk singgah, biarkan yang ingin tinggal tetap tinggal, biarkan yang ingin pergi biar pergi.

Lepaskan jika memang ingin pergi. Memeluk terlalu erat adalah sengsara. Jangan khuatir Allah masih punya rencana yang lebih oke dari yang kalian kira. Belajar menikmati kesendirian jauh lebih nyaman ketika yang dirasa bisa membuat bahagia hanya menyia—nyiakan.

Teruntuk kalian yang bingung perihal cinta. Tak payah kalian memaksakan. Jangan salahkan keadaan. Buktinya aku bisa menikmati kesendirian karena aku suka dan bahagia. Untuk saat ini aku nyaman dengan kondisiku. Karena aku tidak akan menyalahkan siapapun, termasuk keadaan.

Ratna dyah dwi islamiati | 29-05-15

Kamis, 28 Mei 2015

"Apa Aku Bahagia ?"

Harum aroma tanah yang terbasahi oleh rintikan air hujan masih terasa pagi ini. Embuh pagi masih terjaga oleh masanya. Langit tak selalu biru, kali ini langit tampak lungkrah merasakan begitu tuanya ia masih bersedia menjadi atap yang paling kokoh untuk umat-Nya diseluruh belahan dunia. Ayam meminta belas kasih pada pemilik rumah untuk memberinya beberapa butir beras. Udara terhirup lagi oleh hidung, kenikmatan yang luar biasa masih bisa merasakannya. Kembali dengan sejuta rutinitas membuatku lelah pada situasi yang mendesak. Kita memang tidak mampu kompromi pada kenyataan. Maka, sediakan waktu barang satu menit untuk merenung.

Kembali merenung tentang hati yang masih sesak. Entahlah, aku tak mengerti apa yang dimau oleh hati. Aku kembali menyelaraskan hati dan pikiran. Sudah aku coba berkali-kali, namun belum bisa. Terbesit sebuah pertanyaan "Apa aku sekarang bahagia?". Begitu tabu untuk kembali menjawabnya. Aku tidak ingin mencari tau jawaban itu, cukup berteman baik dengan ketenangan. Setidaknya aku sudah meraba soal jawab itu, dan memang seharusnya aku sendiri dari jawaban itu.

Untuk remaja seusiaku kerap sekali merasakan ditinggikan oleh perasaan. Dan akhirnya hanya dijatuhkan oleh perasaan. Itu sebenarnya usia kalian masih perlu beradaptasi soal perasaan. Aku tau kalian memang mempunyai hak untuk mencintai lawan jenis, tetapi mencintai diri sendiri adalah kewajiban yang mutlak kamu jalan untuk sebuah kebahagian.

Jika anda tau sebenarnya kebahagiaan itu tercipta dari dirimu terlebih dahulu. Bahagia adalah milikku, tanamkan dalam hati. Jangan gantungkan asa pada manusia, karena mereka kerap kali mengecewakan. Gantungkan sejuta harapan pada-Nya, pasti kamu tau bahagia yang sederhana itu seperti apa. Bilamana anda sedang jatuh karna perasaan berpikirlah untuk tidak menyalahan. Memang sulit, tapi nyakinilah kelak kita akan disatukan dengan seseorang yang sama-sama menghargai perasaan.

Pelajaran yang terambil dari hati yang dikecewakan begitu layak untuk direnungkan kembali. Tidak ada yang sia-sia dari cinta yang pernah dijalani, setidaknya kita bisa mengerti apa arti memiliki bahkan memberi. Mungkin ketika kita pernah merasakan dijatuhkan oleh perasaan ketika perasaan itu sedang tinggi-tingginya merajut harapan, disitulah kalian akan mengerti arti memiliki yang sebenarnya.

Kalian pernah dengar tentang argumen "Aku bahagia, jika kamu bahagia".  Argumen yang begitu memaksa menurutku, Ya, memaksa untuk bahagia. Itu menurutku merupakan bentuk kebohongan yang berwujud kata pasrah, hanya diperhalus sedikit. Setidaknya kalian pasti memiliki rasa cemburu ketika orang yang kita sayang bersama orang lain. Kerap kali ketika kalian melihat orang yang disayang bersendau gurau dengan pasangan barunya, hanya argumen tersebut yang dapat menenangkan kembali hati, tapi dalam jangka sesaat. Seharusnya kata itu pantas diucapkan ketika hati sudah berhasil mengikhlaskan, jangan hanya cuma dimulut tapi dihati. Jangan mengucapkan argumen itu, untuk orang yang belum bisa menata hati, sama halnya anda sedang berbohong pada diri sendiri. Anda perlu tau sesuatu yang dipaksakan tidak selamanya berjalan dengan baik. 

Jangan paksakan jika dia tidak benar-benar mencintai. Kita memang mempunyai hak untuk mencintai seseorang, tapi kalian harus sadar bahwa orang itu juga memiliki hak yang sama dengan kita. Mamaksakan mencintai mungkin sama halnya dengan berpura-pura mencintai. Bukankah berpura-pura adalah hal yang menyakitkan ketika kamu mengetahuinya. Jika kalian pernah mengalami ini, terus berjalan kedapan memang menjadi hal mutlak yang harus dilakukan. Hidup memang terus berjalan, tanpa anda sapakati dengan kenyataan. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan, yang sebenarnya mereka semua datang untuk mengajarkan.

Caraku bahagia adalah ketika aku tersenyum dengan mata berbinar, dengan senyum lepas menandakan sudah ada kesepakatan dengan hati. Bahagia ku sederhana ketika kata tak terucap, tetapi teraminkan oleh hati. Bahagia ku adalah ciptaanku. Bahagia ku mampu membantu bertahan ketika rasa terabaikan. Karena aku yang membuat bahagia itu menjadi nyata.

Ratna dyah dwi islamiati | 28-05-15

Kamis, 21 Mei 2015

Tentang Rindu yang Terbengkalai

Udara pagi begitu terasa. Angin nampak bersetubuh dengan musimnya. Langit begitu nampak serasi dengan perpaduan warna biru muda, putih, dan biru tua. Awan nampak putih tulang bergulung- gulung di langit perpaduan. Inci demi inci menyimpan derap langkah yang berbeda. Dengan kadar rindu yang berbeda pula. Berlantun nada rindu yang kerap kali mewakili keadaan, ada yang lebih pantas untuk dipertanyakan. Tentang keadaan hati yang tak dapat dipungkiri bahwa dia rindu pada sosok itu.

Sudah terlampau sering saya mengatakan ini. Terlalu sulit untuk menggambarkan, mengungkapkan, bahkan untuk menuliskan tentang rindu yang kerap kali datang. Tembok yang sudah berdiri kokoh ketika kamu pergi kini mulai terkikis oleh rindu yang terbengkalai. Aku paham sangat paham, kita berada pada jarak yang tegas. Aku dengan sikapku dan kamu dengan sikapmu. Kita sama-sama sedang berjuang untuk menghidupi mimpi.

Aku bukan orang yang pandai berbicara, aku selalu kalah ketika beradu kata denganmu. Aku hanya sedikit pandai menulis, tapi tak ada bakat menggambar apalagi melukis. Aku hanya penulis yang menikmati bayang kerinduan yang terbengkalai. Entahlah, aku tidak mengerti kenapa aku masih mengetik tentangmu. Isi kepala saya sedang hitam putih, apalagi dengan hati. Rona warna yang masih monoton.

Jujur, aku terlalu mengkhawatirkan kamu. Apa kamu baik-baik saja? Aku tau pasti kamu baik, kamu selalu baik. Hanya saja aku yang terlalu khawatir. Rindu mengental pekat dalam bayang yang terbengkalai.
Kamu tak pernah salah menilaiku, hanya saja kamu belum tau persis tentangku, kamu belum seberapa mengetahuinya, sama halnya denganku, aku bahkan tak sedikitpun mengenalmu, hanya sekedar tau.

Aku ingin bisa memecah nalar tentang rindu yang terbengkalai. Meskipun tidak mudah, pasti akan ada jawaban pasti dari-Nya. Kisah lakon hidup yang begitu istimewa, selalu berhubungan satu dengan yang lainnya. Wajar saja rindu itu kerap hadir dalam lamunanku. Karena aku baru merasakan sebegitu hebatnya mencintai seseorang. Inilah saksi waktu dan usia.

Hanya sebatas hati yang ingin mencurahkan rasa padamu. Aku Rindu.

Rindu ini berputar perlahan dalam muara kecemasan. Aku takut rindu ini semakin terbengkalai. Semoga waktu masih sudi menghampiriku. Membawa sebuah jawaban pasti dari-Nya.

Ratna dyah dwi islamiati| 22-05-15

Selasa, 19 Mei 2015

Berjuanglah

Dinginnya pagi begitu sejukkan hati, hangatnya mentari memudarkan butiran embun pada daun yang terbengkalai. Gairahku bangga menyapa dari awal "selamat pagi dunia". Sepenggal kata pagi yang romantis terbaca oleh mulutku. Sebuah blog yang begitu menawan. Tertera nama dara prayoga. Uhh sebuah kata yang berjejer indah membentuk lukisan kalimat yang begitu menusuk hati, membuatku harus berpikir berulang-ulang untuk kata yang tertulis.

Kembali dengan sebuah tulisan back to you. Tentang cinta yang tak harus memiliki ternyata itu tidak sependapat dengan Oka. Ada kata yang begitu tersirat jelas bahwa dia tidak setuju dengan spekulasi tersebut.
Aku tidak akan menuruti perkataan “cinta tak harus memiliki”. Aku mau memiliki cintaku, itulah mengapa aku memperjuangkan kamu.~dara prayoga
Untuk cerita lebih lanjut silakan membaca sendiri.

Disini ingin menuturkan sebuah pertanyaan dari hati seseorang.
"Mengapa harus diperjuangkan? Sedangkan dia memperjuangkan orang lain?"

Ini sebuah pertanyaan yang membuatku kembali terdiam. Cinta disini menjelma menjadi cinta pada seseorang makhluk ciptaan-Nya.

Didalam sebuah panggung drama yang dibuat olah manusia sekalipun kita memang dituntut untuk tampil bagus, memberikan yang terbaik dan akan ada jeda waktu untuk berhenti. Tapi kali ini kita sedang membicarakan tentang hidup. Panggung sedemikian megah yang sudah dirancang oleh Sang Maha Oke. Apa anda tidak ingin memberikan yang terbaik? Jawabanku: Aku ingin. Jika jawaban kita sama, berjuanglah tanpa harus berhenti. Akan ada waktu dimana kita harus berhenti. Ya, ketika kita sudah mati. Jika kita memikirkan dia memperjungkan orang lain, maka anda termasuk orang yang kalah sebelum bertanding.

Berjuanglah, raih mimpi itu. Biarkan kelak Allah yang menentukan waktu yang tepat agar kita mengetahui siapa yang sudi mendoakan kita disetiap sujudnya, siapa yang diam-diam meneteskan air matanya dalam setiap doanya. Sekarang kita memperjuangkan yang ada didepan mata kita, yang hati yakini. Untuk alasan lebih lanjut, misalnya berhenti atau mundur, akan ada masanya untuk itu. Ketika Allah memang benar-benar telah menunjukkan skenario yang begitu apiknya.

Berjuanglah, jangan melihat dia sedang memperjuangkan orang lain. Tunjukan padanya bahwa disini ada aku yang masih setia berdiri, dengan tangan hangat yang setia merangkul, dan ada pundak yang bisa membantu untuk menenangkanmu.

Teruntuk orang-orang yang takut berjuang. Ayo berjuang bersama, jangan sampai sesal yang engkau terima. Jangan hanya menunggu waktu itu datang. Tanpa kalian berusaha waktu pun enggan menghampirimu.

Rentangkan tanganmu sejenak, berfikirlah. Hirup udara pagi ini dalam-dalam agar kamu lebih percaya untuk melangkah. Biarpun dibuai dalam angan tapi yakini bahwa kita dapat menciptakan lembaran penuh warna.

Selamat berjuang

Ratna dyah dwi islamiati | 20-05-15

Minggu, 17 Mei 2015

:)

Belum tau persis kek gimana? Yang aku tau kamu masih tetap buatnya, perasaanmu masih segitu hebatnya buat dia. Aku tidak pergi kemana-mana aku masih di sini, menantaskan buat jadi yang terbaik.

Lambaikan tangan jika urusanmu dengannya memang telah berakhir, kalau masih ada perasaan itu wajar tetapi dengan kadar yang berbeda. Aku masih setia menunggu. Dengan siapa aku besok hanya Tuhanlah yang tau.

Rabu, 13 Mei 2015

Pengakuan Hati dan Pikiran

Selamat sore ku ucapkan pada dunia yang begitu welas asih menompang curahan setiap manusia. Keheningan membuaiku dalam angan. Pesona aroma tanah yang basah terbingkai apik dalam guratan yang begitu jelas. Gerimis menjelma menjadi surat rindu yang kian beringas menusuk dalam kalbu.

Aku bersandar pada ungkapan. Berbagai tekanan mulai menghimpit dalam sunyi. Langit kali ini tampak pucat pasi. Pengakuan hati tak sengaja terekam oleh pikiran. Mulai memandang langit penuh tanya. Merenung apa yang akan terjadi hari esok. Merencanakan berbagai pengharapan.

Riuh pun tak mau menepi. Suara anak ayam mencari induknya mulai bergeming ditelinga. Aku malu pada Tuhan, sudah kerap sekali mengeluh tanpa arti. Aku terlalu jauh mengurai dalam angan. Membayangkan kejadian kelak yang akanku alami, tanpa harus menyingkiran ketegasan dari takdir yang nyata.

Menguliti tiap helai perasaanku membuat sakit semakin terasa. Hanya bisa melakukan hal-hal bodoh. Meletup meracik nada emosi. Hati hanya bisa menjelma kuat. Hati sering sekali meneriaki dengan pelan "Aku sudah lelah".

Wahai hati kalau kamu sudah tau lelah kenapa masih berharap? Kenapa masih bertahan?

Pikiran menorehkan asa yang mulai redup. Bergeleng-geleng menandakan kekecewaan pada hati. Fakta sudah lelah tapi masih opini untuk mengakhiri. Pikiran sudah melewati masanya, masa dimana sudah mulai muak pada semua, berakhir pada ujung jenuh. Pikiran mulai menutup mulut, tidak mau menanggapi ini itu. Dia masih menunggu sebuah kesepakatan pasti dengan hati.

Mengernitkan dahi tanda belum siap dari hati untuk memberi sebuah kepastian pada pikiran. Rona yang biasanya indah menyinari, kini hanya hitam putih yang dia tunjukkan. Tertekan pada keadaan membuat permohonan untuk sebuah keadaan yang memang hati sebagai pengaturnya.

Sembari hati memohon pada perasaan untuk jalan keluar yang baik. Pikiran hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pelakon drama ini. Tenanglah wahai manusia pasti hati dan pikiran akan berjalan indah nan serasi. Biarkan drama yang kau mainkan sekarang adalah drama action. Kelak akan berganti menjadi nuansa romantik yang begitu syahdu.

Disini aku sebagai pikiran dan aku sebagi hati meminta waktu untuk menyelesaikan sebuah skenario yang indah dari-Nya. Semua butuh proses wahai manusia. Sabar menanti sebuah proses, yakini kelak proses ini akan mengurai kisah yang indah lebih dari yang kamu bayangkan. 

Cintailah proses dari setiap kehidupan. Akan ada nuansa pecah dari-Nya. Yaitu nuansa gelak tangis dalam bahagia

Ratna dyah dwi islamiati | 13-05-15

Selasa, 12 Mei 2015

Jawaban Untuk Sebuah Tulisan

Desah angin kembali menemani sepi. Teras rumah menjadi saksi bisu percakapanku dengan Tuhan. Nuansa kesunyian menyelimuti kembali, begitu setia hadir setiap renungan. Belajar merangkak perihal perasaan, masih seperti anak kecil yang butuh bimbingan untuk ini. Aku belum sanggup mengusaikan cerita tentang ini, karena hati yang begitu egois untuk bertahan. Ini sebuah tamparan keras bagi benalu yang hanya mengganggu.

Tak ada yang lebih bijak kecuali petunjuk yang Tuhan berikan. Kedipan manis dari Tuhan begitu mengisyaratkan bahwa aku harus lebih kuat soal perasaan. Aku teroyak oleh waktu yang mengalir dalam diam. Kembali memusatkan titik fokus untuk kehidupan tidak mudah. Semua butuh proses. Pembelajaran hidup tentang menyinari hari sendiri.

Begitu egois tak mampu menyamakan rasa cinta pada diri sendiri dan rasa cinta pada sosok ciptaan-Nya. Begitulah pengorbanan hati. Hal yang sering kali aku renungkan dalam diam. Rasa yang masih tertahan belum bisa beranjak pergi. Maaf.

Merahasiakan cinta yang selayaknya bahagia begitu menyiksa. Memenjarakan hati dalam kebingungan. Membiarkan terbelenggu dalam ketidakpastian. Mengalir begitu saja. Menghadirkan argumen kenapa dan mengapa aku masih tetap tinggal, selalu aku terka.

Rasa getir dari malam kali ini begitu terasa. Rasa dingin seperti es kembali hadir. Membuat tubuh beku tak bergerak. Membuat mulut beku tak berkata. Hanya mata yang berkaca-kaca begitu jelas berbinar terkena cahaya. Jika aku disuruh memilih aku tidak ingin membeku, terdiam tanpa gerak bebas begitu menyiksa.

Begitu halnya dengan 'hati'?

Berpikir ribuan kali untuk membekukan hati. Membutuhkan lebih dari mentari untuk mencairkannya. Yap, kamu sangat pandai dalam menerka. Itu alasan kenapa aku takut beku. Aku hanya khuatir pada hati yang semakin lama semakin tidak sensitif tentang perasaan. Kamu pasti tau, karena kamu pernah mengalaminya.

Aku mentari untuk kehidupanku

Sudah sejak lama aku menjadi mentari terhitung juga beberapa bulan yang lalu aku telah menjadi mentari untuk diriku sendiri. Kalau tidak begini mungkin sudah sejak dulu membeku. Kini kristal es itu datang lagi. Aku harap mentari ini dapat mengikis kristal itu agar tidak menebal menjadi es. Karena aku takut akan hal itu.

Aku cukup mengerti dengan kata yang kamu tekankan setiap berbicara perasaan denganku. Aku cukup paham. Aku merajut kata ini hanya sekedar kata yang tertuang dari hati yang rapuh. Maaf jika kata yang terajut ini membebani pikiranmu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Semoga aku tidak menjadi benalu yang selalu mengganggu setiap langkah kakimu.

Aku tidak ingin menjadi tualang yang pergi tanpa tujuan. Lalu lalang tanpa kepastian. Aku masih bisa memeluk tubuhku sendiri, aku masih bisa untuk mengikis kristal es ini sendiri. Tenanglah aku lebih kuat dari yang kamu bayangkan.

Suatu saat aku akan mengusaikan cerita aku dan kamu. Biarkan takdir dari-Nya mengindahkannya. Biarkan tulisan ini mengabadikanmu. Maaf, jika aku telah menjadi benalu untuk hidupmu.

Ratna dyah dwi islamiati | 12-05-15

Minggu, 10 Mei 2015

Penikmat Catur

Malam hari menjadi pilihan ketika rasa ingin tertuang dalam bentuk deret kata yang tak mempunyai ujung untuk mengakhirinya. Bayang-bayang kehidupan begitu tampak nyata dipandang mata. Hati yang selalu gelisah ketika memikirkan jalan keluar dari setiap masalah. Pikiran yang selalu mengolok-olok setiap kemampuan.

Hari-hari nampak biasa, masih terasa monoton untuk dijalankan. Sosok wanita dengan paras cantik, rambut sepunggung, memakai piama putih sangat mengejutkanku.
"Haii, sedang ngelamun ya?muka lo jelek banget." sontak lamunanku terhenti.
"Sialan ganggu aja jadi orang, kurang kerjaan ya mbak?'' tanyaku sinis.
Kenalkan sosok ini Anis namanya. Sahabat aku dari orok alias bayi. Kehidupan kita hampir sama, kita ngerasain hal yang sama. Ngerasain saat ditinggikan oleh perasaan dan merasakan saat dijatuhkan oleh perasaan. Cerita kita hampir sama hanya saja kita mencintai orang yang berbeda dengan karakter yang berbeda pula.

Hal yang sering kita lakuin bareng yaitu menatap nanar sambil menerawang. Langit-langit kamar yang semakin kusam menandakan sudah banyak cerita yang dia dengar tentang kita.
"Ehh, misalnya kamu jadi bidak catur, manakah yang paling kamu suka." pertanyaan yang sulit untuk diterka.
"Emm... Menurutku si lebih baik jadi pion."
Dia tak melanjutkan pertanyaannya, diapun tak menanyakan sebab akibat kenapa aku milih Pion.

Aku menerka akan sebuah jawaban yang terucap dari mulutku.
Kenapa aku pilih Pion?
Dia bidak catur yang paling kecil, dia hanya prajurit?
Sebuah pertanyaan berputar-putar menunggu sebuah jawaban pasti. Aku sama sekali tidak bisa memainkan permainan di papan hitam putih ini. Aku pun tak tau bagaimana cara menyusun bidak catur dalam papan. Tapi kenapa begitu spesial Pion bagiku. Sebuah pertanyaan lagi-lagi menerka pikiran untuk segera menjawab.

Jam memunjukkan pukul 22:00, kulirik kawan sebelah yang biasanya cerewet menceritakan ini itu. Dia sudah terlelap tidur, begitu cantik dengan balutan piama putihnya. Wajahnya memperlihatkan lelah, kali ini dia sedang tidak pura-pura. Bahunya yang tampak lungkrah merasakan begitu berat menompang kehidupan. Aku masih melihat wajah mungilnya. Ucapan terimakasih telah menjadi sosok sahabat yang baik selalu terucap dalam hati.

Suasana hening begitu menyelimuti malam ini, masih menerka jawaban pasti dari sebuah pertanyaan yang keluar dari mulutku beberapa jam tadi. Tiba-tiba sebuah kejadian terputar dengan sendirinya oleh pikiran. Kejadian yang pernah aku lewati bersama seseorang yang dulu begitu spesial. Sekarangpun masih terasa spesial. Kejadian yang begitu mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Ibarat permainan catur, aku telah disiapkan tempat untuk bermain yaitu papan hitam putih. Seperti hidup, Tuhan telah menciptakan semesta untuk menikmati permainan yang telah dirangkai begitu apik oleh Sang Pencipta. Aku hanya sebuah Pion yang disiapkan untuk menyerang dengan pasti, mencapai satu tujuan yang pasti pula. Tuhanpun menciptakan berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar umat di dunia untuk menjadi penikmat kehidupan yang penuh tanya.

Perihal perasaan pion pun menjadi wakil yang baik. Misal kita dihadapkan dalam sebuah pertandingan memilih sebuah pasangan hidup. Pion yang berdiri paling depan, pion tidak hanya satu. Pion yang dapat bertahan diakhirlah, dia yang pantas untuk dipilih. Cinta yang agunglah yang patut untuk diperjuangkan. Ketahuilah satu hal, kita dipertemukan pasti ada campur tangan dari-Nya. Pasti ada hal yang tersembunyi yang telah dipersiapkan oleh-Nya. Ibarat Pion, kita hanya memantaskan untuk jadi yang terbaik dan disitulah kita berdiri sebagai pemenang. Kita sepakati itu.

Dalam permainan di papan hitam putihpun pion tidak sendiri, dia bersama raja, ratu, mentri dan kuda. Tetapi pionlah yang mampu menyita perhatianku. Pion hanya dapat bergerak maju, Pion tak dapat kembali ke tempat asal dari langkahnya. Dia tetap berjalan kedepan tanpa mundur sekalipun. Dia dapat mengambil alih permainan ketika dia berada pada posisi paling akhir. Dan dia adalah Pion yang berhasil merangkap menjadi apapun. Dia keluar menjadi pemenang. Mungkin itu yang aku suka dari sebuah Pion kecil dan sekalipun dia hanya prajurit yang berdiri paling depan, membawa setiap langkahnya untuk menjadi yang terbaik.

Ini tentang kehidupan yang selalu mengajarkan banyak hal. Dari sebuah Pion caturlah dapat diambil segi positifnya. Pion yang kecillah dapat berubah menjadi Pion yang besar ketika dia berhasil mengalihkan permainan ketika diakhir.

Sama halnya penikmat catur, penikmat kehidupan pun sama. Masa sekarang adalah masa anda. Masa dulu anda adalah masa lalu anda. Dan masa yang akan datang adalah masa depan anda. Tinggal kitalah yang menuntukan jalan mana yang harus ditempuh.

Tunjukkan kalian adalah Pion yang hebat

Malam ini sayup-sayup terdengar suara angin sedang berbisik. Menyaksikan begitu lugunya sang daun bergoyang. Tembok terlihat serasi dengan cahaya lampu yang menyorot. Nampak romantis dipandang mata. Aku disini terlahir sebagai manusia yang berbeda. Kalianpun juga berbeda. Dibekali dengan kelebihan dan kekurangan dari-Nya mutlak menjadikan semangat untuk mencontoh Pion yang hebat.

Ratna dyah dwi islamiati | 10-05-15

Jumat, 08 Mei 2015

Mungkin BEKU

Bulan malam semakin menepi. Sebentar lagi pergi tanpa jejak. Hari ternyata sudah pagi. Kicau burung tampak menemami hati sepi. Angin dingin mengitari seluruh tubuhku. Jari-jariku mengepal kuat menandakan suasana kali ini terasa berbeda. Melihat hiasaan sang pencipta. Sinarnya mulai redup, walaupun begitu terimakasih atas usahamu untuk merayuku. Kamu berhasil bulan.

Bercerita tentang perasaan kepada semesta. Perasaan aku ini aneh, setelah kurasa ternyata aku tak bisa berbohong. Aku tak bisa merasakan hal yang sama. Hal yang membuat pikiran kemana-mana. Hati yang dulu begitu sensitif kini terasa biasa, aku tak bisa membenarkan namanya cinta. Apa ini yang dinamakan 'beku'.

Wahai hati kamu lebih tau mana yang pantas untukmu. Kamu lebih peka akan hal ini. Kamu berteman baik dengan perasaan. Kamu yang paling tau.

Sampan kecil yang aku dayung sendiri sudah begitu jauh berlayar. Aku mulai merasakan lelah. Hati mulai sulit diajak kompromi. Aku tidak tau siapa yang aku tuju, aku linglung.

Yang kurasa hanya bekas rasa yang pernah tinggal, tanpa pernah merasa perasaan yang baru. Mungkin aku masih tetap tinggal buatnya.

Hati ini masih mengiyakan kamu sebagai pemiliknya.

Ratna dyah dwi islamiati | 09-05-15

Kamis, 07 Mei 2015

Mengulang

Mengulang cinta kedua itu gak mudah. Semoga kamu mengerti, cukup malam sepi yang mengartikannya. Kali ini tampak begitu berat. Mungkin purnama masih meraba apakan pantas untuk diperjuangkan kembali.

Aku disini hanya bisa memantaskan, kelak Tuhanlah yang mempersatukan. Tapi entah dengan siapa. Semoga kamu adalah doaku yang Tuhan aminkan. Kita jalani, perjalanan yang pernah kita rangkai kini kita kuatkan lagi, kita beri garis yang tegas bahwa kamu untukku dan aku untukmu.

Bandul kehidupan yang berat semakin menantang buat ke depannya. Mengulangnya lagi cukup membuatku was-was. Perasaanpun ada yang berbeda. Tolong yakinkan lagi. Kamu sekarang telah menjadi orbitku, menjadi pusat putaranku, jangan pernah lelah ketika aku memusatkanmu.

Langit berhiasan gemerlap bintang cukup membuatku yakin untuk menjalani itu kembali. Kadar yang dulu semakin berkurang kini aku coba menambah sedikit demi sedikit. Tolong bantu aku.

Namamu kini menggantikan sederet nama yang pernah aku sebut dalam doa. Aku sekarang fokus pada satu titik yaitu kamu.

Aku akan berjuang untuk orang yang berhak diperjuangkan dan mau berjuang bersama. Kita sepakati itu.

Ratna dyah dwi islamiati | 7-05-15

Sabtu, 02 Mei 2015

Perancang Kehidupan

Lampu kamar menyorotkan cahaya begitu terangnya. Langit-langit kamar seakan seperti jejeran tulisan yang rapi. Ya ini seperti skenario. Benar-benar tampak nyata, kolaborasi antara jarum pendek dan panjang yang berputar serasi semakin menegaskannya.

Kata-kata dalam kalimat berjajar rapi, aku begitu puas membacanya. Ini sangat jelas.
"Apa ini kata dari mu ya Rabb, atau ini kata yang pernah aku rangkai menjadi kalimat".
Disatu sisi aku juga melihat kalimat yang begitu rapi, tetapi sayangnya kata-kata yang terkandung kali ini cukup berbeda. Kata itu semakin lama semakin pudar. Huruf konsonan seakan jatuh terlebih dahulu, membuat tulisan itu tak terbaca pikiran. Aku tak bisa menikmati kata demi kata dalam tulisan itu.
"Ini tulisan apa?"
Hati dan pikiran seakan menterjemahkan keadaan sekarang. Mungkin tulisan yang nyata itu sebagian dari rencana yang pernah aku tulis sedangkan tulisan yang tak terbaca itu mungkin suatu rencana yang telah di persiapkan oleh-Nya. Kita memang diizinkan untuk berencana, tetapi rencana yang paling benar dari-Nya lah masih menjadi rahasia, kita hanya pantas untuk menikmati, menunggu waktu itu datang. Mencocokan rencama kita dengan rencana darinya apakan masih dalam lingkaran yang sama atau bahkan sebaliknya. Dalam hal menyesuaikan rencana hidup memang Allah yang paling baik dalam urusan ini. Aku hanya seonggok tanah yang tidak ada apa-apanya.

Sepenggal isyarat yang selalu diberikan oleh-Nya semakin pasti, bahwa setiap perencanan haruslah melibatkan Ahlinya. Ya, dia Tuhan Sang Penguasa jagat raya ini.

Aku hanya bisa merancang, dan Allahpun juga merancang. Namun Allah adalah sebaik-baik perancang-Nya.

Kita hanya merancang dan Allah penentu segalanya. Yaikinilah, ada akhir yang bahagia yang akan Allah perlihatkan. Tetap bersikap dewasa dalam hal kehidupan. "Yang buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut-Nya, siapa tau hal tersebut sebagian dari kebahagian yang telah dirancang untuk kita". Berpikir positif itu perlu ketika rencana kita menemui kejanggalan. Karena rencana dari-Nya yang paling benar.

Ratna dyah dwi islamiati | 03-05-15

Aku Mengerti

Hujan gerimis mengantarkan aku pada sejuta kenyataan bahwa gerimis kali ini begitu romantis. Aku sekarang benar-benar mengerti ternyata Pemilik Hati ini mencemburuiku. Aku yang terlalu memusatkan perhatianku pada seorang makhluk ciptaan-Nya. Tuhan beribu-ribu maaf ku ucapkan, aku terlampau jauh mengharapkannya. Aku seharusnya percaya akan takdir indah yang sudah engkau siapkan untukku. Aku terlalu egois pada perasaanku sendiri.

Aku hanya bisa mencintai dia dalam diam Tuhan. Biarkan Engkau yang mengatur akhirnya bagaimana. Cukup Engkau yang tau perasaanku terhadapnya. Biarkan rasa ini tumbuh atau bahkan hilang dengan sendirinya. Kini aku semakin yakin akan langkahku untuk tetap berjalan. Sudah seharusnya aku semakin dewasa perihal perasaan. Dan aku sudah tau sekarang.

Simpan jodohku baik-baik Tuhan. Biarkan waktu yang indah mempersatukan kita.

Aku hanya bisa menunggu waktu itu datang sedari menguatkan atau bahkan menghilangkan rasa ini padanya.

Engkau Maha membolak-balikkan hati.

Selamat sore :)

Ratna dyah dwi islamiati | 02-05-15

Jumat, 01 Mei 2015

Pengeja Tulisan

Mengalir sederet cerita tentangmu, sepenggal kisah yang berceceran, tak mau hilang. Walau hanya sedetik dipelupuk mata ini. Buktinya, aku masih menghadirkanmu dalam setiap renunganku. Bertabur sejuta angan mengais mimpi semoga bisa menjadi sepenggal kisah nyata.

"Masih ada namamu di sini"

Mungkin kau tak pernah tahu apa yang kurasa saat ini. Sebuah tulisan yang kutulis terkadang tak tereja disetiap kalimatnya. Ini tentang rindu yang semakin melekat.
Tulisan yang mengibaratkan tentang semuanya. Yang takkan pernah selesai kurangkai untukmu. Ini juga tentang kesetian posisiku sebagai penikmat rindu yang tak pernah mendapat balasan. Tentangmu yang tak pernah lelah kugoreskan di tiap aksaranya. Hingga namamu yang kupintal menjadikan doa setiap sujudku.

Izinkan aku mencintai dalam diamku. Dalam sujud yang selalu aku lakukan setiap waktu. Dengan tangan tengadah yang selalu menghadirkan rangkaian kalimat indah yang aku sampaikan pada-Nya.

Izinkan aku mencintaimu meski dalam goresan pena. Tulisan dan aksara ini membentuk kalimat yang selalu setia mewakili perasaanku. Kamu dapat menebak keadaanku sekarang.

Mengisyaratkan tentang hati yang tertutup oleh pandangan wajahmu saja. Bukankan ini terlalu egois. Rindu kali ini terasa semakin nyata. Rindu yang tak terbaca yang tak kau
pahami maknanya. Ini rinduku untukmu. Biarkanlah aku simpan dan kurajut dalam doa yang selalu kupanjatkan, dalam hati yang paling luar bisa menampungmu.

Aku hanya pengeja tulisan yang menghabiskan waktu hanya untuk membuat goresan namamu menjadi nyata.

Semoga kamu selalu mengerti mengapa aku selalu menghadirkanmu dalam setiap tulisanku.

Maaf -___-

Ratna Dyah Dwi Islamiati| 01-05-15