Selamat sore ku ucapkan pada dunia yang begitu welas asih menompang curahan setiap manusia. Keheningan membuaiku dalam angan. Pesona aroma tanah yang basah terbingkai apik dalam guratan yang begitu jelas. Gerimis menjelma menjadi surat rindu yang kian beringas menusuk dalam kalbu.
Aku bersandar pada ungkapan. Berbagai tekanan mulai menghimpit dalam sunyi. Langit kali ini tampak pucat pasi. Pengakuan hati tak sengaja terekam oleh pikiran. Mulai memandang langit penuh tanya. Merenung apa yang akan terjadi hari esok. Merencanakan berbagai pengharapan.
Riuh pun tak mau menepi. Suara anak ayam mencari induknya mulai bergeming ditelinga. Aku malu pada Tuhan, sudah kerap sekali mengeluh tanpa arti. Aku terlalu jauh mengurai dalam angan. Membayangkan kejadian kelak yang akanku alami, tanpa harus menyingkiran ketegasan dari takdir yang nyata.
Menguliti tiap helai perasaanku membuat sakit semakin terasa. Hanya bisa melakukan hal-hal bodoh. Meletup meracik nada emosi. Hati hanya bisa menjelma kuat. Hati sering sekali meneriaki dengan pelan "Aku sudah lelah".
Wahai hati kalau kamu sudah tau lelah kenapa masih berharap? Kenapa masih bertahan?
Pikiran menorehkan asa yang mulai redup. Bergeleng-geleng menandakan kekecewaan pada hati. Fakta sudah lelah tapi masih opini untuk mengakhiri. Pikiran sudah melewati masanya, masa dimana sudah mulai muak pada semua, berakhir pada ujung jenuh. Pikiran mulai menutup mulut, tidak mau menanggapi ini itu. Dia masih menunggu sebuah kesepakatan pasti dengan hati.
Mengernitkan dahi tanda belum siap dari hati untuk memberi sebuah kepastian pada pikiran. Rona yang biasanya indah menyinari, kini hanya hitam putih yang dia tunjukkan. Tertekan pada keadaan membuat permohonan untuk sebuah keadaan yang memang hati sebagai pengaturnya.
Sembari hati memohon pada perasaan untuk jalan keluar yang baik. Pikiran hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pelakon drama ini. Tenanglah wahai manusia pasti hati dan pikiran akan berjalan indah nan serasi. Biarkan drama yang kau mainkan sekarang adalah drama action. Kelak akan berganti menjadi nuansa romantik yang begitu syahdu.
Disini aku sebagai pikiran dan aku sebagi hati meminta waktu untuk menyelesaikan sebuah skenario yang indah dari-Nya. Semua butuh proses wahai manusia. Sabar menanti sebuah proses, yakini kelak proses ini akan mengurai kisah yang indah lebih dari yang kamu bayangkan.
Cintailah proses dari setiap kehidupan. Akan ada nuansa pecah dari-Nya. Yaitu nuansa gelak tangis dalam bahagia
Ratna dyah dwi islamiati | 13-05-15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar