Senin, 27 April 2015

Pelakon Kehidupan

Malam ini aku kembali dengan rentetan aksara yang begitu menawan. Racikan kata-kata yang tercipta begitu menggambarkan keadaan sekarang. Malam tanpa hiasan bintang dan purnama sudah seminggu ini memperlihatkan diri.

"Kemana malam yang biasanya membuatku nyaman?"

Mungkin Sang Pencipta sedang menyimpannya menunggu waktu yang tepat dengan suasana yang tepat juga. Berbisik manis dengan langit menjadi pilihan ketika semua orang memilih kembali dengan semua rutinitas.

"Langit yang penuh kebingungan ceritakan padaku, apa yang membuatmu gelisah?" tanyaku pada langit.

"Aku menunggu teman, tidak...tidak dia lebih dari teman?" seru langit malam ini.

"Lantas siapa yang engkau tunggu? Spesialkah dia? Berharga kah dia? Apa dia bisa membuatmu nyaman? Dan apa dia juga mengharapkanmu?" jawabku lantang

"Ya, dia begitu spesial. Dia yang selalu membuat makhluk ciptaan-Nya tersenyum, kalau tidak bisa membuat nyaman mana mungkin aku tunggu. Bukankah itu hanya membuang waktu? Soal mengharapkan aku tidak tau pasti tapi ada kalanya dia datang dan dia pergi." langit begitu manis malam ini.
Aku menunggu bulan dan bintang wahai manusia.

"Kenapa harus dua wahai langitku? coba pilih salah satu dari mereka?"

"Tidak bisa, mereka sudah satu kesatuan yang utuh. Aku nyaman dengan keadaan yang telah dibuat oleh-Nya."

"Kenapa langit?"

Langit pun tidak menjawab. Rentetan riwayat rahasia alam sudah tegas menggambarkan ada takdir khusus untuk semua yang telah diciptakan-Nya. Di langit yang mengambang dan menempel begitu kokoh menciptakan sebuah pertanyaan retoris. Sedangkan di bumi yang  telanjang menunjukkan keadilan sang Pencipta alam.

Siklus waktu tak pernah diam. Begitupun dengan kehidupan, selagi kita masih ditempa dunia perubahan sudah menjadi takdir tegas dari-Nya.
Cahaya bintang yang begitu terang mengajarkan akan ada setiap jalan untuk berbagai kehidupan yang membutuhkan jawaban. Cahaya bulan yang tumbang menunjukkan bahwa pelakon hidup di dunia harus melibatkan-Nya dalam berbagai urusan.

Ini udah seadil-adilnya hidup. Hidup akan berjalan selaras jika pelakonnya pun patuh akan perintah-Nya.

Berjalanlah dengan semestinya, buatlah kenangan indah di bumi teka-teki ini. Kerikil kecil yang hadir. Sambutlah, bukankah itu tamu yang layak untuk dijamu? Jamu dia dengan baik.

Hidup akan terasa lebih mudah jika kita melibatkan Maha Penjaga untuk setiap langkah kita.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 27-04-15

Sabtu, 25 April 2015

Tuhanku yang Selalu Aku Rindu

Aku terperangkap pada kesunyian malam yang membuatku linglung pada keadaan. Earphone masih terpasang dengan baik di telinga, layaknya seorang permaisuri merindukan rajanya. Langit mulai hitam menandakan drama segera dimulai. Drama dari Sang Pencipta semesta. Langit nampak gelap kali ini mungkin drama akan sedikit sedih. Benar saja, hujan turun membasahi kota, hiruk pikuk yang tadinya terdengar telinga kini berganti suara hujan yang berbondong-bondong datang. Aku menyaksikannya, "Apa selanjutnya yang akan dipersembahkan untuk penikmat alam sepertiku?" Tuhan tidak pernah tidur. Kilat disertai dengan ledakan yang begitu dahsyat membangunkan pikiran ini untuk menggambarkan keadaan sekarang. Terbingung dengan keadaan badan menggigil kedinginan. "Itu tadi apa, apakah itu wujud dari kemarahan sang pencipta?Tidak...tidak, Tuhanku maha penyayang, Tuhan ku tidak mungkin seperti itu."

Penggambaran tentang Tuhanku, aku hentikan. Ini terlalu rumit untuk digambaran, aku kenal Tuhanku dengan baik, buktinya kita sering bercengkrama tengah malam. Aku sering merasakan Dia membangunkanku tengah malam hanya untuk bertemu denganku lewat sujud yang selalu Dia suka. Aku termasuk hambanya yang percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap cerita yang telah aku rancang. Aku hanya bisa merancangnya tapi tetap Tuhanku sebagai pembuat skenario yang paling baik. Tuhanku tau cerita mana yang memang pantas terjadi untukku.

Aku pencinta petualang. Puncak tertinggi dari tebing-tebing yang berdiri tegap membuatku semakin dekat akan Tuhanku. Kita sering berbisik dari hati ke hati. Perasaan yang tadi bimbang kini kembali teguh untuk memilih beberapa pilihan.

Tuhanku kali ini aku merindukanmu, kenapa Engkau sudah dua hari ini tidak membangunkanku tengah malam.
"Apa Engkau tidak merindukanku? atau aku yang tidak mendengar sapaan-Mu."
Tolong Tuhanku kali ini aku benar benar membutuhkan sebuah kepastian. Ayo kita bicara dari hati ke hati, aku harus melibatkan-Mu dalam urusan ini. Tuhanku aku merindukanmu selalu, berkunjung dengan wajah yang nyata bahagia menang selalu aku berikan untuk-Mu. Nyatanya aku sangat bahagia bila berada dekat dengan-Mu.

Kini pengembara dan penggambar cerita kehidupan tidak sanggup menerka bahkan menebak suatu yang sudah menjadi skenario-Mu. Tidak ada satu hambamu yang tau akan hal ini. Hanya kenyakinan dan kepastian dalam memilih jalanlah yang selalu Engkau berikan. Hamba-Mu menyakini sangat bahwa engkau sebaik-baiknya pemberi jawaban, termasuk aku yang mempercayainya. Sudah terbukti dari berbagai pengalaman yang aku lewati di dunia yang penuh sandiwara ini.

Dunia mu terlalu indah bila hanya untuk bersenang-senang ini tempat yang pas, tapi bukan tempat yng nyaman bagiku. Aku ingin duduk lebih dekat dengan-Mu. Aku selalu siap untuk itu. Wahai Tuhanku yang Agung aku hanya sebagian hambamu yang membutuhkan kepastian akan sebuah jawaban. Dan aku yakin Engkau sebaik- baiknya pendengar cerita dari semua umatmu yang ada di dunia. Aku bangga telah berlahir di dunia yang penuh mengajarkan banyak hal yang memang selalu penuh tanya, penuh keajaiban, penuh drama. Begitu lengkap Engkau menciptakannya.

Aku hanya pengembara dan penggambar cerita. Tetapi aku tidak bisa menggambarkan cerita yang akan terjadi esok. Bagiku esok adalah misteri yang penuh tanya.

Di dunia yang indah ini aku selalu mengucap nama-Mu berkali-kali, ini bentuk rasa syukur atas apa yang engkau berikan. Ini juga bentuk rasa takut untuk menghadapi hari esok. Merindukanmu memang menjadi hal wajib yang selalu aku rangkai dalam sebuah cerita teruntuk-Mu. Kembali dengan skenario yang penuh tanya. Aku merindukan-Mu. Ajak hati ini dalam sebuah keyakinan, ajak pikiran ini untuk selalu berpikir baik.

Di sini aku merindukan-Mu. Dampingi aku untuk berjalan lebih jauh di dunia yang penuh tanya.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 26-04-15

Mengartikan Cinta

Langit begitu merayu, menandakan sebuah ketidakpastian alam. Matahari begitu malas, dia belum menampakkan batang hidungnya. Lembaran kisah cinta yang selalu aku ceritakan kini terkuak kembali. Dengan suasana santai, langit yang tidak pasti, matahari yang belum bertamu.

Hey selamat pagi, suasana di jogja begitu merayuku untuk kembali bercerita tentangmu.  Karena cintalah, kupersembahkan kepadamu. Kamu sudah sangat mengerti apa yang ada dipikiran. Yap betul selalu tentangmu. Sajak panjang tentang cinta – sepanjang perjalanan yang masih setia menunggumu.

Cinta  yang lahir dari lautan kata-kata, perasaan, pikiran, dan hasratku yang sederhana. Menggambarkan betapa kuat hati ini untuk tetap tinggal. Entah ini diluar dari kemampuanku, tapi buktinya aku masih tetap setia menunggu. Bukankan menunggu adalah hal yang paling membosankan. Di luar perhitungan dan rekayasa yang tak bisa kuhindarkan. Aku masih tetap menunggu, aku masih berdiri kokoh dengan tangan yang selalu setia merangkulmu.

Seperti cahaya matahari melintasi cakrawala, menembus bayang- bayang rahasia. Cintaku memang seperti itu adanya yang selalu penuh tanya. "Sampai kapan aku menunggu?" pertanyaan yang kerap kali muncul tapi aku abaikan, karena aku belum tau pasti jawaban yang benar akan pertanyaan itu.

Seperti cahaya bulan, tiba-tiba padam. Ini cinta yang mempunyai batas menunggunya sendiri, suatu saat aku akan membawa pergi perasaan yang sudah lama basi akibat kamu diamkan terlalu lama. Hati ini akan mencoba berpijak ke tempat yang lebih bisa menghargai perasaan .

Seperti angin yang terus memainkan cuaca, menderu di tengah kegelapan semesta, berpusar di tengah abstraksi waktu, dan mengendap di kediaman batu. Ya, ini cinta yang hanya bisa menunggu dalam diam, perasaan yang lama-kelaman akan beku dengan sendirinya. Otak sudah mulai memberontak, menayangkan kejadian nyata yang memang berhak dilihat oleh hati. "Apa masih pantas untuk ditunggu?".

Gerimis pun berderai, kata-kata mengurai. Seperti air mata yang mengalir deras melewati gunungan pipi. Air mata yang selalu aku hadirkan dalam renungan, tentang cinta yang begitu egois menyita semua perhatianku. Pengembaraan hidup dan kehidupan akan segera mengakhiri bila memang pantas untuk diakhiri.

*****
Terinspirasi dari kutipan puisi (Kahlil Gibran)

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 26-04-15

Jumat, 24 April 2015

Sepenggal Kisah Tentangnya

Sebuah kafe yang aku kunjung ini cukup membuatku nyaman akan keadaan sekarang. Hujan yang biasanya membuatku nyaman kali ini terasa menyiksa, dingin yang begitu terasa sampai ketulang membuatku rindu pada sosok lelaki itu. Pikiranku entah kemana, mencoba menerawang akan sosok laki-laki itu. Sudah seminggu ini wajahnya selalu berputar-putar di kepala. Kenalkan dia Fajar, pria yang identik dengan kacamata. Daya tarik tersendiri, dan dia berhasil membuatku nyaman.

Aku nana, nama yang begitu menggambarkan seorang yang lugu, kalem, tapi aku bukan seorang gadis seperti itu. Yap, aku gadis blak-blakan, suka humor, suka petualang. Dan aku mencintai sosok yang menurutku si kutu buku. Aku masih menerawang, menatap hujan yang tak kunjung berhenti. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh laki-laki berbaju putih, celana jeas hitam dengan ikat kepala berwarna coklat tua.
"Mau pesan apa mbak?"
Emm aku terkejut setengah mati, wajah Fajar pun hilang seketika.
"Emm kopi hitam deh pesen satu ya mas"  balasku manis
Aku suka kopi hitam setelah kenal dan mendalami Fajar, lagi lagi aku kembali dengan sejuta kenangan yang pernah tercipta bersamanya. Hujan yang begitu deras memaksa ku untuk memeluk tubuh mungil ini. Suasana begitu romantis,

Hey pria berkacamata, apa kamu merasakan hal yang sama denganku, Aku rindu sosok sepertimu.

Selalu terbesit dalam pikiranku untuk berdoa berharap kamu mengamininya. Mungkin sudah berjuta-juta kali namamu selaluku sebut.  "Aku sedang menikmati hujan yang begitu romantis, kali ini aku menikmati sendiri tanpamu, kamu kemana?apa kamu baik-baik saja?semoga kamu selalu tau arah jalan pulang".

Dua menit berlalu, pelayan itu datang lagi untuk memberiku secangkir kopi hitam dan sepotong kue berhiasan cream lembut bertabur keju.
"Ini mbak silahkan dinikmati" laki-laki itu tersenyum manis dengan lesung pipi dibagian kanan pipinya.
"Terimakasih mas, tapi... Aku tadi tidak memesan roti cantik ini"
"Itu spesial buat anda" pelayan itu kembali tersenyum, menunjukkan gigi yang berjajar rapi.
Aku bingung soal ini, ahh sudahlah bukankah ini rizeki buatku. Perut begitu keroncongan, ku lahab roti ini, mulut ku bergoyang merasakan begitu manis dan lembut roti ini. Kopi masih sangat panas untuk dinikmati, kepulan asap dengan aroma khas dari kopi begitu merayu. Bisa-bisanya aku melukiskan wajahnya di dalam kopi ini. Terlalu gila akan sosok Fajar.

Hujan berganti gerimis manis, kuaduk kopiku, ku sruput perlahan, ku cium aroma khasnya. Aku menghadirkan mu lagi, membayangkan kamu duduk di depanku, kita menikmati kopi hitam ini bersama, canda tawa pasti ada. Semoga ini bukan hanya ilusi semata tapi sebuah rencana yang suatu saat akan terwujud.

Kafe yang tadinya sepi kini pun tampak orang silih berganti keluar masuk. Ternyata jam menunjukkan pukul 21:05. Sudah terlalu malam, gerimis ini menyisakan tanda untuk hari ini, bahwa aku masih saja merindukanmu. Kopi yang tadinya mengepul kini sudah hampir dingin. Aku masih ingin berlama-lama di sini, menunggu kamu datang menjemputku, memberikan jaketmu untuk kukenakan. Aku kedinginan, aku membutuhkanmu kali ini. Sudahlah aku hanya bisa mengucapkan tanpa bisa mewujudkan. Biarkan malam ini aku kembali dengan sederet cerita yang harus kembali aku renungi apakan masih pantas untuk aku perjungkan.

Kopi sudah tinggal ampas. Menyisakan sepenggal cerita tersendiri tentangmu, kamu yang saat ini sedang memperjuangkan orang lain. Aku cukup bahagia.

Menerawang menjadi hal wajib ketika sebuah pertemuan hanya terlihat semu dan tak pasti. Karena ini sudah cukup untuk membuatku nyaman akan keadaan seperti ini.

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 24-04-15

Rabu, 22 April 2015

Kawan :)

Kalian lebih dari apapun
Terimakasih untuk waktu yang tak akan terulang sama. 

Sukses untuk kalian ({})
Eni Lasmi Saputri
Ratih Tri Muliasih
Dian Rahmawati
Heni Ulfiatun
Septiani Wulandari

Ratna Dyah Dwi Islamiati |22-04-15

Selasa, 21 April 2015

Pilihan

Lama kelamaan, semakin lama rasa itu akan pudar dengan sendirinya. Tapi entah kapan, yang pasti ketika hati sudah lelah untuk berjuang. Berjuang, menunggu sesuatu yang semu dan tak pasti yang tak pernah ada ujungnya kapan akan berhenti. Dan disitulah hati mulai mengiyakan logika untuk memilih mengikhlaskan, tapi beda halnya dengan mundur. Karena mengikhlaskan jauh lebih bisa mengajarkan banyak hal.

Intinya rasa itu akan tetap ada tapi dengan kadar yang berbeda :)

Senin, 20 April 2015

Merindukan sosok itu lagi

Malam ini terasa hening, beda dari hari hari biasanya. Seperti biasa, hal yang sering kulakukan rebahan dikamar sederhana berukuran 3x3, dengan musik yang berputar dan masih setia menemaniku malam ini. Kali ini lagu yang kudengar Perahu Kertas-Maudy Ayunda

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Bukan kah ini lagu yang begitu menyayat hati, sekali dengar lagu ini pengen ngulang lagi. Alasannya dari awal intro sampek akhir lagunya galau badai...hehe
Temen ku pernah bilang ke aku, "jangan sekali-sakali dengerin lagu perahu kertas pas lagi sendiri apalagi pas malem-malem dijamin deh sungai di bawah mata lo langsung tercipta."

Aku si suka tantangan, ahh aku coba aja dengerin lagunya Maudy Ayunda. Dan bener aja air mata tiba tiba banjir dipipiku. Ini lirik menyayat hati banget broh, gak bisa nahan lagi. Aku relain deh air mata ini netes cuma gara gara lagu ini.

Lagu itu terluang sampai beberapa kali, telingaku udah apal banget sama liriknya. Kali ini aku sedang gelisah, enggak tau kenapa dari kemarin perasaan ada yang ngeganjel aja di hati. Mungkin ini soal merindukan seseorang yang jauh disana. Wajahnya yang selalu menggelitikku untuk terus memikirkan bahkan sudah menjadi rutinitas sebelum tidur untuk melukiskan wajahnya... Upss udahlah mungkin dia juga sudah tau.

Hay kamu iya kamu pria yang sudah membuat nyaman, sudah bisa membuat aku fokus pada satu titik itu. Ya, fokus padamu saja. Apa kamu tau itu? Seharusnya kamu sudah tau akan hal ini. Karena aku sudah terlampau sering memberi kode. Tiap orang yang sudah pernah ngalamin ini pasti hatinya gelisah, perasaan tak karuan. Itu yang sedang aku alami sekarang. Cuma gara-gara:
Rindu pada sesorang yang belum pernah bertemu sebelumnya?

Tadi abis baca blognya bang Falen Pratama, ternyata aku ngalami hal yang sama. Blog yang begitu menginspirasi.

Mungkin aku sudah terlalu nyaman pada sosok laki-laki ini. Aku sudah nyakin bahwa namaku nyaman saat diucapkan olehnya. Menuntut banyak darinya?? Ahh tidak mungkinlah, aku bukan siapa-siapanya. Aku tak mau terlalu menebak soal hati. Apalagi menebak soal hatimu, itu terlalu sulit. Kamu tau alasan yang lebih pasti "karena aku tidak mau kecewa bahwa kadar "Aku" di hati kamu masih dibawah 10%". Aku takut akan hal ini, sesuatu yang membuatku sakit, aku pun tak mau untuk mengetahuinya lebih jauh lagi. Itu hanya membuatku sesak.

Yang perlu kamu tau aku disini sedang merindukanmu, tapi aku bisa apa. Yang bisa aku lakuin hanya menyebut namamu berkali-kali dihadapan-Nya

Maaf lagi lagi aku menceritakan tentangmu :p

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 20-04-15

Minggu, 19 April 2015

Cinta Ibarat Benang Kusut

Hari ini terlalu panas untuk merenung, kegiatan yang sering kali kulakukan. Aku kembali dengan cerita tentang perasaan. Aku masih saja menghabiskan waktu untuk menantimu, duduk di teras rumah sedari menikmati segelas es teh manis. Kulihat awan yang bergulung-gulung dilangit begitu indah.

Tadi pagi pagi sekali ada seorang teman yang curhat akan perjalanan cintanya, yang menurutku si begitu rumit. Ahh, ibarat benang kusut. Ya, mungkin ungkapan itu yang mewakili untuk kondisi seperti ini. Bukankan setiap perjalanan terlalu sulit diterima oleh logika. Apalagi ini perihal cinta. Aku mencoba menerawang ke langit yang berhiasan awan. Bukankah awan itu juga terlihat rumit, bergulung-gulung dengan penuh tanya. "Apakah awan itu dibuat untuk satu tujuan yang pasti?" Entahlah aku tak ingin  menebak soal ini, terlalu rumit. Biarkan Sang Pencipta menyimpannya sendiri. Yang aku tau langit kali ini nampak begitu gagah.

Ketika benang dalam gulungan sudah kusut, banyak orang yang membuangnya, mereka tidak mau ribet untuk membenahi agar kembali seperti semula. Cinta pun sama seperti benang kusut, kisah kasih yang tak pernah ada habisnya. Canda tawa, sedih tangis kerap kali mewarni. Semisal kita ada permasalahan, pikiran terasa berat,  hati apalagi sudah tak kuruan rasanya. Ketika masalah itu datang pasti akan berbentuk seperti gulungan yang tidak tau ujung nya dimana, dia seperti benang kusut.

Tugas kalian hanya satu merangkai benang itu menjadi sebuah gulangan atau membiarkan benang itu tetap kusut. Diri andalah yang tau akan hal ini.

Setiap remaja kerap kali merasakan hal sama, bimbang akan pilihan bertahan atau mundur. Sikap dewasalah yang bisa membuat semua baik baik saja, benang kusut pun bisa menjadi gulungan yang rapi lagi jika kita memiliki kesabaran yang extra untuk hal ini. Ya, menyusunnya menjadi gulungan yang indah lagi. Posisi seperti ini lah yang kita harus pahami "kepada siapa kita harus kembali?" Bersujud diatas sajadah menjadi pilihan ketika hati dan logika tak sejalan. Kenapa kita harus bingung untuk menggulung benang kusut menjadi gulungan yang indah lagi jika jarak kemenangan hanya antara dahi dan sajadah.

Yang perlu kalian tau. Sekusut apa benang itu, pasti dapat dikembali seperti semula. Jika anda memiliki kenyakinan untuk mengembalikannya lagi. Libatkanlah Tuhanmu dalam urusan ini :)

Ratna dyah dwi islamiati | 19-04-15

Sabtu, 18 April 2015

Kenangan masa kecil

Malam ini ditemani anak kecil berbaju merah, dia menatapku dengan mata berbinar. Begitu cerewet nih anak. Tapi dia terlihat begitu cerdas untuk seorang anak seumurannya. Begitu polosnya dia bercerita. Ya Allah aku pernah merasakan posisi seperti anak ini. Bukankan masa kecilku begitu bahagia, yang aku tau hanya sekolah dan main. Anak yang bandel untuk seumuranku dulu. Sawah,sungai tak luput dari jamakan kaki kecilku. Dengan teman-teman yang begitu hebat dan kompak. Kenangan masa kecil yang begitu indah.

Teruntuk teman teman, ingatkan kalian saat bermain layang-layang, main bola disawah, nyari ikan di sungai dan masih banyak kenangan yang tercipta. Aku rindu masa-masa itu masa dimana sehabis pulang sekolah berkumpul selayaknya genk, hanya untuk tertawa lepas.

Ingatkah tentang sirkuit yang kita buat. Ingatkah tentang cerita pocong di rumah tua. Dan ingatkan ketika kita menari di tengah hujan? Masa kecilku yang terbilang bahagia. Cinta masa kecil yang masih melekat indah tapi dengan kadar yang rendah. Ahh begitu indah memang.

Secarik kertas untuk menulis surat cinta teruntuk orang yang begitu spesial dimasa itu. Hahaha... Udahlah aku sudah mengurangi kadarnya, kita sekarang bersahabat baik bukan, kita sudah memilih jalan kita masing-masing.

Terimakasih untuk waktu yang sudah kalian berikan, yang aku tau tak mungkin bisa terulang kembali

Ratna dyah | 18-04-15

Penikmat Senja :)

Senja yang selalu bertamu, yang menggerakkan tubuhku untuk slalu memandangnya. Lagi lagi aku memuji keindahan Sang Pembuat skenario hidup ini. Langit terlihat begitu serasi. Semilir angin ikut serta mengantar matahari ke tempat istirahatnya. Menandakan tugas hari ini sudah selesai. Daun daun bergoyang indah nan serasi penuh tanya. Tiupan angin dengan sayu menyapa raga. Burung-burung beterbangan untuk kembali kesangkarnya, mereka berteriak menandakan hari sudah semakin gelap.

Dibalik senja yang indah terlukis wajahmu dengan bias bias jingga, kali ini langit sebagai kamfas untuk melukiskan wajahmu. "Kenapa wajahmu terlihat sayup? Apa kamu lelah?" Aku tau kamu sedang sibuk-sibuknya bekerja ditanah orang. Maaf untuk kesekian kalinya aku memujimu. Kamu memang patut untuk dibanggakan, lelaki yang rela pergi jauh dari pangkuan sang ibu untuk membahagiakan orang yang berada disampingnya. Disini selain menikmati senja aku juga turut serta berdoa agar kamu selalu bahagia.

Aku hanya penikmat senja yang selalu menghadirkanmu dalam setiap lamunanku.

Ratna dyah dwi Islamiati| 18-04-15

Jumat, 17 April 2015

Wanita super dan putri kecilnya

Aku masih duduk di samping jendela kamarku. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua.  Bunyi yang terdengar sayup-sayup, gesekan lembut antara daun satu dengan yang lainnya , diikuti derap langkah dan gerakan kaki yang tak asing lagi didengar telinga. Dengan muka tua dan rambut yang hampir memutih mendekati ku, mengelus perlahan rambutku yang begerai sepunggung, Begitu menenangkan. Dia terus memberikan sentuhan lembut dengan tangan tuanya, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sebut saja dia wanita super dalam hidupku yang rela memperjuangkan hidup dan matinya hanya  untuk satu tujuan yang mulia, Ya, agar aku dapat melihat dunia.

"Gadis kecilku sekarang sudah besar, kelak kamu akan meninggalkan ibu untuk mengejar kehidupan yang lebih layak"
kata yang membuatku miris ketika mendengarnya, telinga yang begitu sensitif untuk hal ini.

"Aku tau jalan pulang ibu, sejauh apapun aku melangkah aku akan kembali pulang kepangkuanmu bu, aku ya tetap aku gadis kecil mu yang  selalu merindukan kasih sayangmu", Dengan mata berbinar aku berkata demikian untuk menguatkanmu ibu.

Entah berapa lama kita merunung, untuk membanyangkan ketika aku pergi dari pangkuanmu. Tiba-tiba, aku dibuat bersipu malu atas pertanyaannya, yang menanyakan tentang seorang yang sudah lama tak ku ceritakan lagi kepadanya.

"Apa dia masih ada sampai saat ini, dia kemana? kenapa cerita tentangnya jarang ku dengar lagi"
Sontak jantungku berdebar kencang, milihat senyum tipis sambil menggodaku untuk menceritakan tentang dia lagi dan lagi.
"Ibu dia masih tetap ada sampai saat ini, dia punya tempat tersendiri dihati ini sampai kapanpun. Tapi sekarang dia sedang berlayar bu, aku relakan dia berlayar asal dia selalu bahagia" Akhirnya air mata yang aku tahan untuk tidak menetes akhirnya mengalir deras dipipiku.
Ibu yang selalu menguatkan berkata " Rencana dari-Nya jauh lebih indah nak, biarkan dia berlayar. Jika dia memang ditakdirkan untukmu dia akan pulang, dia tau jalan mana yng harus dituju untuk kembali ketempat yang paling nyaman. Dia akan kembali kesisihmu."

Suara angin seakan mengiyakan kata kata yang telah diucapkan wanita hebat itu. Kupeluk erat tubuh yang begitu hangat akan perhatian yang luar biasa. Wajah mu masih terlihat cantik walaupun usia sudah tak lagi muda, terimakasih untuk kenyamanan yang telah engkau berikan untuk ku. Kelak aku akan merindukan mu sebagai rumah yang paling nyaman dan paling sejuk untuk tetap tinggal tanpa mau beranjak pergi.

Tetap menjadi wanita super ku. Tanpa pengorbananmu aku tidak pernah bisa melihat keindahan dari Sang Pencipta. Tunggu gadis kecilmu menjadi orang yang memang berhak untuk engkau banggakan. Kasihmu sepanjang masa ibu :)
Terimakasih untuk kesekian kalinya ibu...

Ratna dyah dwi islamiati | 17-04-15

Kamis, 16 April 2015

Tentang kopi dan kamu

Apa yang anda pikirkan tentang kopi hitam ?
Pahit sudah tentu.
Warna hitam pekat dengan aroma harum yang khas mengingatkan pada seseorang yang menyukainya. Sruputlah kopimu dengan perlahan, telanlah dengan hati-hati supaya kamu bisa merasakan kenikmatanya.

Malam ini aku menyedu secangkir kopi, dengan racikan kopi dan gula lalu disedu dengan air panas. Ini sudah cukup untuk menemani ku malam ini. Menikmati rintikan hujan, ditemani lagu yang tak bosan menemani ku. Tempat tidur menjadi tempat yang paling nyaman ketika pundak merasakan lelah menompang berbagai masalah yang ada. Kali ini aku kembali dengan rentetan aksara yang selalu menggambarkan suasana.

Menoleh kearah lampu kecil yang terletak dimeja belajarku, membayangkan jika aku menjadi kopimu. Sesuatu yang memiliki kekhasan tersendiri dan selalu setia menemani hari-harimu, begitu dekat bahkan selalu hadir walaupun tidak menjadi prioritas utamamu tapi setidaknya aku selalu kamu hadirkan saat kamu butuh teman untuk merenung. Sedu aku dengan tambahan butiran butiran gula. Dengan alasan agar kamu merasakan berbagai rasa tidak hanya pahit yang kamu rasa, tetapi ada manis yang akan hadir ketika kamu tambah gula. Warna hitam pekat yang sudah melekat pada kopi, menandakan rasa pahitnya begitu teramat jika tidak kamu beri gula, ini alasan kedua kenapa kamu harus menambahakan butiran putih yang manis. Bunyi yang selalu hadir dari cangkir cantik ketika kamu mengaduknya. Aduk aku dengan perlahan agar bunyi yang tercipta begitu syahdu didengar telinga. Nikmati kopimu secara perlahan, karena aku masih ingin berlama-lama dengan mu, menemani dalam sepi. Menyaksikan mata dengan hiasan kacamata sedang berbinar-binar menyaksikan keindahan sang pencipta kehidupan. Walaupun akhirnya aku akan kamu habiskan, tetapi aku masih meninggalkan ampas, karena aku ingin tetap ada walau kamu tidak membutuhkan aku lagi. Aku kopi yang kamu sedu akan menjadi ampas kopi ketika diakhir. Tapi aku tetap ada dan selalu hadir :)

Wahai penikmat kopi, hadirkan aku dalam setiap kesepianmu. Aku berjanji akan memanimu, membuatmu selalu nyaman dengan rasa dan aroma khasku. Dan aku akan tetap hadir walaupun kamu tak membutuhkan ku. Karena diakhir aku hadir sebagai ampas kopi :)

Ratna dyah dwi islamiati | 16-04-15

Selasa, 14 April 2015

Terlampau indah untuk dilupakan

Perasaan aku ini aneh, aku ingin marah ketika kamu masih memikirkan dia. Tapi enggak mungkin, aku cemburu sama kamu tapi aku tau aku bukan siapa-siapa. Dia yang begitu sempurna, dia yang selalu kamu kejar, dia yang menyita  perhatianmu, dan bahkan dia yang kamu tunggu. Apa dia yang ada dihati kamu?Mungkin iyaa.
Dia yang begitu sempurna sehingga menutup kemungkinan untuk kamu lupakan, walau aku tau kamu sedang berusaha keras untuk melupakan. Jangan dipaksa, karena aku tau semakin kamu memaksa semakin ingat, biarlah semua berjalan sesuai dengan Jalan-Nya. Aku pun tau dalam sujudmu, kamu tak lupa selipkan dia dalam doamu, berharap dia juga mengaminkan setiap doamu. Apa kamu tau akupun melakukan hal sama denganmu, aku sempat memutuskan untuk menanggalkan tapi tidak menghilangkan rasa ini. Aku juga mencuri-curi untuk menyelipkan namamu dalam setiap doaku, berharap kamu mengamininya. Kita ini sama, sama-sama sadang memperjuangkan yang tak pasti, dengan titik segitiga tepatnya. Kamu memperjungkan dia sedangkan aku memperjungkan kamu. Bukankan itu terlalu sakit untuk dilanjutkan. Apa kamu tau serapuh apa hati ini? Semoga kamu mengerti.

Hari demi hari aku lewati bareng kenangan yang pernah tercipta antara kita, aku pun belum berhasil mengurangi kadar itu. Masih tergambar jelas dengan kadar yang masih sama pula. Apa memiliki mu hanya sebuh ilusi, seakan kenyakinan ini semakin semu. Jika memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama, setidaknya kamu akan selalu ingat aku pernah hadir dihati mu sebagai penyemangat. Tapi aku lebih senang menyebut kehadiranku hanya untuk sebagai "katalis" yang hanya untuk mempercepat reaksi tapi akhirnya akan hilang. Karena kamu tidak mengiyakan untuk terus berjalan kontinyu. Ya, aku hanya mempercepat perubahkan, tapi akhirnya tetap kembali keawal. Walaupun aku datang hanya untuk itu tapi aku bahagia pernah menjadi bagian dari hidupmu, mengajarkan tentang berbagi macam kehidupan yang begitu nyata akan berbagai masalah.

Ketika lagu itu diputar berulang-ulang, seakan 1% nya memang lagu tapi 99%nya kenangan. Aku tau yang aku lakuin ini salah, masih mengingat kenangan denganmu termasuk suka mengulang lagu yang berhubungan denganmu. Memang ini bukan bagian dari melupakanmu. Biarkan saja aku menunggu, menunggu dalam dilema, menunggu kamu melupakannya.

Aku sudah terlampau sering memberi kode, mungkin kamu peka akan itu. Seakan aku terlalu berharap bahkan terlalu mengerjar, aku akan bersikap biasa berjalan dengan semestinya, tidak akan memaksa untuk sebuah penantian yang semu. Jika kamu sudah lelah berlari, ada aku dibelakang kamu yang masih setia berdiri dibelakangan entah untuk memberi semangat atau entah untuk melihat kamu bahagia dengannya. Karena aku sudah lelah berlari, aku memilih untuk berjalan dibelakangmu untuk menikmati perjalanan yang begitu mengajarkan banyak hal. Tapi aku tetap sini dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Semoga aku tetap akan ada, walau entah sebagai apapun itu buat kamu

Selamat berjuang untuk move on :)

Ratna dyah | 16-04-15

Sesuatu yang tak pasti!!!

Rintikan hujan yang bertamu seakan mengiyakan kalau aku sedang memikirkan suatu hal yang seharusnya memang sudah tidak pantas lagi untuk dipikirkan. Lagi lagi semua terpusat pada satu titik, dan menyita semua perhatian ku hanya untuk memikirkan satu hal yang pasti. Terkadang aku ingin membelokan arah agar aku tak memikirkannya, tapi nyatanya aku semakin sulit untuk membelok, ini malah tambah semakin menyakitkan waktu.

Masalah wanita hampir sama, terbukti dari kaum wanita yang selalu bingung akan dua pilihan, Ya... kedua-duanya seperti kesatuan utuh yang memang tidak bisa dipilih. Entahlah kenapa semesta selalu menghadirkan dua pilihan yang memang sulit untuk memilih salah satu.

Sekarang perasaan ku sedang berada pada fase itu. Tuhan, hati ini yang terlalu sensitif akan masalah cinta. Hampir setiap orang yang terjebak didalamnya sulit untuk menentukan yang terbaik untuk diri sendiri, ini alasan kenapa Engkau memang sebaik-baiknya kunci untuk berbagai masalah termasuk masalah hati. Memilih salah satu dari mereka bukan perkara gampang dan mereka memang memiliki alasan tersendiri untuk diperjuangkan. Satu sisi ada orang yang memang benar benar sayang tapi entah kenapa hati tak mengiyakan hal yang sama bahwa aku juga sayang dia, tapi untuk melepasnya pun terlalu sulit karena aku butuh sosok seperti ini. Pertanyaannya "Apakah ini cinta?" Sedangkan disisi lain orang yang tak memperdulikan mu tak merasa butuh untuk diberi kabar malah yang kita sayang, hati mengiyakannya. Untuk menghindar darinya pun terlalu sulit. Entahlah, aku tak mengerti akan definisi cinta yang sebenarnya.
Yang aku tau tentang cinta itu ketika aku nyaman, ketika aku tak pernah lupa memberi kabar, dan tentang cara ku yang selalu menyebut namanya dalam setiap doa.

Aku selalu mendoakan kalian, biarkan Allah yang akan menentukan yang terbaik untukku. Walaupun aku sudah mengerti akan takdir Tuhan itu benar adanya, apa salahnya aku meminta buat dipersatukan denganmu, ini hanya sebatas doa yang tanpa tau apa rencana yang telah dibuat oleh pemilik semesta ini. Berpusat pada satu titik yang tak pasti memang kadang membuat kita jatuh, dan lagi lagi hanya karena satu orang. Kepastian memang hanya milik Allah. Wajar jika manusia sering sekali memberikan harapkan lalu menjatuhkan. Manusia yang sering kali mengecewakan. Walaupun sudah tau rasa sakit akibat dikecawakan tapi masih saja kita kerap kali memberi kesempatan, alasannya mungkin dia bisa lebih baik :)

Yang aku butuhkan kali ini hanya gelap, tak perlu berhias purnama dan jutaan bintang. Membiarkan mulut ini bergetar seiring air yang terjatuh dipipi. Hati kecil tak pernah bisa berbohong kalau aku memang sayang dia, dia yang tak pernah memperdulikanku, dia yang tak pernah memberi kesempatan. Ya Aku menyayanginya. Bahkan kmu tak perlu tau dalamnya perasaanku. Yang bisa aku lakuin hanya bersujud dengan tangan tengadah menunggu waktu itu datang. Waktu dimana kamu dijatuhkan ditempat yang sama denganku setidaknya masih dalam jarak gapai ku atau tidak masih dalam jarak pandangku. Karena aku ingin mengenalkan betapa besar perasaan yang selama ini singgah hanya untuk mencintai orang yang tak pasti. Yaitu KAMU.

"Hay teruntuk mu yang ada disebrang pulau sana, hati ini masih mengiyakan anda sebagai pemilik sahnya."

Ratna dyah dwi islamiati | 14-04-15

Minggu, 12 April 2015

Doaku

Tuhan lancarkan lah selalu, tenangkan lah hati ini, mantapkanlah dalam memilih jawaban dalam setiap pertanyaan. Aku berserah diri hanya kepadamu ya Rabb
Terimakasih sudah menghadirkan orang yang selalu setia mendukung dalam setiap langkahku :)
Sukses UN

Tentang rindu yang selalu datang

Aku sudah terlampau jauh berjalan hanya untuk melupakan, rasa rindu yang kerap kali menggoyahkan hati kini akhirnya datang. Sebuah pesan tertulis teruntukmu, entah ini memang soal perasaan. Mendapat respon pun sudah cukup bahagia. Mungkin aku rindu dengan nya, Iya  memang aku selalu rindu, rindu yang kerap kali menyita perhatian ku. Mengetahui kabarmu dan memastikan kau baik- baik saja. Adalah salah satu cara yang membuatku tetap bahagia. Aku tidak pernah memaksa mu untuk jadi milik ku, karena aku tau aku hnya bisa menjadi salah satu bukan menjadi satu satunya bagimu.

Kali ini bukan perkara menjadi yang terpenting bagimu, bukan juga perihal menggenggammu. Ini lebih dari itu, ini tentang rindu yang kerap kali muncul tiba tiba padahal aku sudah kerap selali mengusirnya. Ini rindu yang masih sama, rindu yang begitu mengherankan, rindu ini memilik ki kadar nya sendiri dan kadarnya selalu bertambah. Entah kenapa aku pun tak mengerti. Rindu ini tidak pernah kurasakan kepada yang lain. Rindu ini hanya kurasakan saat bersamamu saja. 

Tentang hati yang hanya ingin menaruh segala tentangmu di sana. Tidak ada salah nya juga kalau kamu belum siap, aku tidak memaksa mu buat tetap tinggal. Bahkan jika kau ingin pergi untuk mencari kenyamanan dengan yang lain aku tak bisa menahannya, bahkan aku mempersilahkan mu, karena aku tau kalau aku tak berhak untuk mu.

Perihal perasaan yang selalu tumbuh semesta ikut serta didalam nya, semesta selalu menghadirkan sesuatu yang selalu berhubungan dengan mu, aku tak bisa menolak apa yang semesta hadirkan. Karena ini sudah skenario dari-Nya. Aku tak bisa memaksa pikiran ku buat menyingkirkan mu, kamu ya tetap kamu tak pernah bahkan tak bisa buat digantikan. Ini lah cinta. Cinta tumbuh segitu hebatnya bahkan aku tak dapat menebangnya. Cinta akan selalu ada walau kamu tak pernah membuka untuk memberi kesempatan, tapi sekali lagi aku tak memaksa. Kamu hebat, kamu bisa buat aku seperti ini, mencintai tanpa memilik ki.

Nama mu yang begitu jelas tertulis dipikiran ku, maaf kan aku yang masih berulang kali mencuri-curi buat menyebut nama mu dalam sujud ku lagi dan lagi. Hanya itu yang bisa kulakukan mencintai mu secara diam lebih mendewasakan. Biar Allah yang tau seberapa besar rindu yang selau datang. Cukuplah hanya menggenggam dalam angan, karena aku bisa kapan saja menggenggam mu.

Semoga perjalanan ku berakhir bahagia, walau pun tak pernah bersama aku cukup bahagia jika kamu berada pada tangan orng yang tepat. Terimakasih ya Rabb buat kesabaran yang tak pernah habis :)
Ini alasan aku masih tetap tinggal disini, jika kamu sudah capek berjalan tolong menoleh kebelakang, aku masih disini tetap disini.

Jumat, 10 April 2015

Masa putih abu abu

Hal yang paling aku suka saat malam hari adalah menerawang. Membayangkan kejadian demi kejadian yang pernah aku lewati bareng mereka. Ya, mereka yang tiga tahun ini selalu bersama. Mereka bukan hanya teman atau sahabat mereka adalah keluarga.

Mungkin aku yang terlalu menganggap bahwa waktu berjalan dengan perlahan tapi ternyata aku salah. Entah aku selalu bersikap biasa, dan akhirnya aku sadar. Sang waktu akan merubahnya, merubah saat-saat dimana kita berkumpul, ngobrol, tanda tawa yang selalu tergores indah, bahkan sedih tak luput dari kita. Tiga tahun ternyata begitu cepat berlalu, semua yang aku lewati bareng mereka akan menjadi semu, tanpa aku sadar masa putih abu-abu akan berakhir.
Bila aku bisa menghentikan waktu, aku ingin menghentikan waktu dimana kita sedang tertawa lepas, berbagai celotehan yang(ngawur) sudah biasa melengkapi obrolan kami, Ya aku ingin menghentikan saat itu juga. Aku bahagia berada dalam fase itu. Tetapi semesta mengiyakan sebuah kata "akan ada perpisahan indah dibalik pertemuan yang indah pula" dan aku pun memahami itu.

Hari ini banyak pesan yang masuk entah dari bbm,sms, whatsaap. Dan inti nya cuma sama, ya meminta maaf. Menceritakan kenangan demi kenangan yang begitu melekat. Ahh, enggak kerasa air mata ini menetes, aku masih menerawang. Begitu banyak hal yang sudah terlewati. Semua kenangan itu hanya akan menjadi kenangan yang tak kan pernah terlupakan.

H-2, ujian bentar lagi kami semua berjuang mati-matian untuk itu. Terlampau dari ini, perasaan cemas sudah wajar adanya, perasaan sedih tentu dirasa, perpisahan ini semakin nyata. Melepas gengam tangan dari teman teman yang selalu menguatkan memang semakin nyata, membiarkan mereka pergi, entah keluar kota , keluar negeri demi meraih cita-cita. Doa ku selalu mengikuti langkah orang orang yang aku sayangi. Semoga kalian sukses, kembali dan berkumpul bersama menjadi pilahan kita kelak. Entah untuk merenung atau menyimak, aku mohon kita bisa mengulang, mengulang masa yang begitu indah, walaupun aku tau kadar nya sudah akan berbeda. Tapi satu hal yang harus kalian tau "kita dipertemukan untuk mengenal, memahami dan mencintai"

Terimakasih sudah sudi hadir menjadi teman yang begitu hebat, terimakasih sudah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, tak memungkiri kalian termasuk dari orang yang ku perjuangkan, karena kalian memang pantas untuk mendapatkan itu. Aku bangga menjadi bagian dari hidup kalian. Sekolah kita adalah rumah bagi kita. Sekolah Menengah Kejuruan SMTI . Aku bangga akan hal ini, menjadi bagian dari keluarga besar SMTI.

Tetap berjuang dan sukses untuk kita semua :)

Kamis, 09 April 2015

Perihal perasaan :)

Pagi ini aku menoleh kebelakang, hanya untuk melihat kejadian yang pernah aku lewati, untuk merenung tentang pelajaran yang bisa diambil darinya... Tapi bukan untuk mengulang, karena aku sudah tau pasti rasa sakit yang akan aku terima bila mengulang ...
Aku yang terlalu mengindahkan semua, mengindahkan kata aku dan kamu menjadi kita, tanpa aku melihat begitu banyak hal yang membuat mu masih tinggal, tinggal dihati nya dan tanpa pernah kamu memberiku kesempatan untuk mengganti hari hari mu yang pernah bahagia dengan nya, tapi tanpa menghilangkan semua kenangan yang pernah terciptakan dengan nya, Dia yang sampai saat ini begitu berharga dihidupmu ... Entah siapa dia, aku pun tak mengerti
Perihal perasaan hati tak sejalan dengan logika, mungkin itu alasan kadang hati selalu menolak apa yang kita pikiran :) Entah siapa kamu, tapi kamu dulu pernah membuat nyaman, membuat semua nya menjadi lebih indah .
Menggenggam mu terlalu kuat itu menjadi pilihan ku dulu, tanpa aku melihat apa akibat dari menggenggam mu terlalu kuat. Waktu berjalan begitu cepat, waktu yang mengatakan bahwa kamu ada hanya untuk mengajarkan dan untuk belajar . Ya, belajar kasih sayang, belajar mengikhlaskan, belajar merelakan, bahkan belajar untuk melepaskan. Sekali itu sakit
Hidup ini terlalu indah bukan bila hanya untuk menggenggam nya terlaku kuat, dan aku sekarang mengerti bila melepaskan memang perjuangan yang sebenar-benarnya.
Menjadi dewasa perihal perasaan memang sulit, tapi seiring rasa sakit itu pergi kmu akan tau bagaimana mencintai seseorang secara tulus, Semesta seolah selalu berpihak kepada seseorang yang memang berpura pura kuat, bukan munafik tapi ini adalah proses untuk mendewasakan, dari pura pura kuat kemudian kalian akan terbiasa untuk menerima, Ya menerima sesuatu yang sakit :)
Aku hanya manusia lemah dan kamu adalah manusia yang paling egois, tapi manusia yang egois sepertimu dapat mengajarkan manusia lemah sepertiku

Ratna dyah dwi islamiati |7:23

Teruntuk-Mu

Engkau yang tau akan diri ini
Menyemai doa dalam setiap perih
Engkau mengerti ku. Sangat!!!
Tanpa aku berkata, Engkau sudah tau apa yang berbaik untuk ku..

Mengagum i mu menjadi hal mutlak yang harus ku lakukan
Berlutut dengan tangan tengadah menjadi pilihan ku
Sajak demi sajak bait demi bait menyimpan tanya yang begitu besar, tapi aku mengerti hanya
Engkaulah yang sebaik baiknya pemberi jawaban

Dewasakan hati ini ya Rabb,
Tuntunlah hati dan pikiran ini agar berjalan indah nan serasi ({})
Aku percaya sangat percaya, Kau pembuat garis tegas untuk hidup ini, Aku percaya Engkau akan memberiku takdir yang bahagia,
Mungkin sekarang engkau sedang menyimpan nya, menunggu saat yang tepat dengan waktu yang tepat
...
Tetap tuntun wanita mu ini menjadi wanita lebih anggun lagi ya Rabb :)