Selasa, 30 Juni 2015

Menerka Walaupun Harus Menyapa

Pagi ini memasuki bulan juli. Menurutku juli ajaib, bisa ngerubah umurku. Udah hampir 18 tahun, horeee. Langit kelihatan cerah, bulan dan bintang menambah anggun penampilannya. Suasana hening melengkapi suasana menerung. Sebenarnya aku malas memikirkan soal ini. Aku pikir itu hanya hal yang biasa, tanpa perlu dikhawatirkan. Mimpi seakan tergesa untuk membuatnya menjadi nyata. Akupun kembali mengingat hal yang belum disepakati. Entah, mimpi hanya untuk menguatkan atau melemahkan, tapi buktinya aku masih takut untuk membayangkan. Barang kali ini hanya rasa takut untuk kehilangan.

Ingatan yang terlalu kuat untuk menampung berbagai kisah yang kini tersimpan. Mungkin itu alasan kenapa aku takut untuk menanyakan. Maaf, ini hanya hal bodoh yang membuat pikiran kalah terhadap keadaan. Mungkin kita hanya menyepakati sebagian hal, tanpa melihat berapa banyak hal yang belum kita sepakati. Aku tidak hanya menceritakan tentang diriku saja, ini tentang cerita seorang gadis perajut cinta. Aku bisa bahagia melalui banyak hal, hanya kadang sugesti membuatnya menjadi rumit.

Lelucon kadang membuat kita tahu bahwa hubungan tidak selamanya harus pacaran. Aku bukan tipe yang terlalu neko-neko. Aku lebih simpel dari penampilanku. Aku lebih suka menjadi orang yang baru untuk satu orang saja yang ditakdirkan untukku. Tidak ingin membawa semua kenangan dalam kehidupan sekarang, karena kenangan hanya singgah sementara dimasanya terdahulu. Biarkan kenangan tertinggal jauh tanpa harus menguliti seberapa luka yang membekas. Membuka lembaran penuh warna, tanpa harus membangkitkan luka.

Senyum kadang membawa luka. Air mata pun menghadirkan arti nyata. Tertawa tak selamanya tentang bahagia. Aku hanya ingin membawa senyum yang ikhlas walau luka tampak nyata. Aku mempunyai Tuhan yang Maha Menguatkan. Aku tak akan pernah melarikan diri dari cinta yang begitu nyata untukku. Yaitu dari Tuhanku. Jika aku sekarang merasakan cinta mungkin tak pernah melebihi cintaku pada-Mu. Itu alasan kenapa aku selalu ingin melihat orang-orang yang aku sayang hanya melihat senyumku tanpa harus melihat sedihku. Karena aku hanya ingin menjaga masalahku hanya dengan Tuhanku.

Lelucon juga kadang membuat orang lupa kalau bahagia tak selamanya tentang Jatuh Cinta. Aku hanya ingin membayangkan tanpa harus memikirkan. Hanya butuh menerka walau harus menyapa. Rasa rindu kerap kali menyapa dalam naungan kasih sayang dari-Nya. Sajadah yang tergelar indah menompang hamba-Nya yang ingin bercerita. Meresapi setiap tetesan air mata. Ya Allah, indahkan selalu rencanaMu untukku.

Langit tak selalu biru. Rumput pun tak selalu hijau. Hanya deretan kata yang menyimpan makna nyata. Hanya ingin didengarkan tanpa harus berkomentar. Kadang cukup menjadi pendengar yang baik untuk lawan bicaramu. Karena, sesungguhnya aku tau jawaban dari masalahku. Dan mendengarkan jauh lebih sulit dari pada mengomentari. Nasihat yang sering keluar dari mulut, entah ini hanya kata-kata belaka atau kalian juga merasakannya. Yang paling penting mendengarkan jauh lebih menenangkan. Air mengalir tak selamanya beraliran deras. Kadang tenang mengikuti alirannya, dan kadang pun deras seakan beradu kekuatan dengan alirannya.

Ini mungkin cerita yang terlalu lucu untuk dibaca. Tetapi kebanyakan dari kalian lupa, bahwa kenangan bukan untuk dihadirkan. Bukan untuk mengenang tetapi belajar menerima kenyataan. Cukup hanya mampir tanpa harus singgah.

Mengawetkan memang perlu perjuangan. Memaniskan memang perlu tambahan. Membuat pas kadang harus mengurangi dan menambahkan. Hidup harus seimbang, bukan hanya terus bermain drama tetapi ikut andillah menjadi sutradara. Karena bahagia kamu sendirilah yang membuatnya. Tetap libatkan Allah dalam berbagai urusanMu.

Selamat pagi juli. Bulan kelahiranku

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 01-07-15

Minggu, 28 Juni 2015

Impian Tak Mustahil Untuk Menjadi Nyata

Pikiran mungkin udah enggak dipenuhi jamur cinta. Hatipun juga tak seegois dulu. Tapi tetap mereka belum bisa berjalan selaras nan serasi. Ini mungkin sikap dewasa  yang ditunjukkan untuk tetap hidup bersama cinta. Buaian cinta yang kadang membutakan mata tak urung menjadi pelajaran yang memang patut untuk direnungkan. Seiring berjalannya jalan rasa itu tetap kokoh berdiri dengan argumen yang menguatkan, Ya untuk tetap diperjuangkan. Aku tidak akan mengejar dengan begitu capeknya berlarian, sampai akupun lupa untuk mencintai diriku sendiri. Cukup dengan merajut rindu menjadi kata sederhana yang penuh isyarat untuk Tuhanku. Biar rasa ini tersimpan manis, dan harapan kita dipertemukan dengan cara-Nya. Indah dan memang selalu indah.

Berkirim kabar lewat elektronik yang canggih bukan menjadi prioritas utamaku. Hanya doalah cara berkirim kabar yang paling nyaman dan rahasia. Aku selalu sejajarkan namamu diurutan orang-orang yang aku sayang. Biarkan rindu semakin berkembang, berlantun menjadi doa yang syahdu. Jika kamu tahu, aku selalu memelukmu, menenangkanmu, mengusap dengan penuh kasih sayang dalam doa yang memang paling ampuh untuk mengobati rindu yang terbengkalai. Antara sujud dan rukuk mempunyai makna tersendiri, kenapa dan mengapa aku harus melakukan itu. Itu bentuk baktiku terhadap Maha Segalanya. Dia sering menenangkanku ketika rindu sudah memuncak diubun-ubun.

Aku bersyukur atas jarak yang terbentang antara kita. Karena Allah memang masih menginginkanku untuk tetap menyubut nama-Nya dengan pelan. Mengucap nama yang Agung. Dia akan mempertemukan kita dengan cara yang tidak kita sadar. Ketika air mata menetes dengan penuh kebahagiaan. Berbinar menyaksikan senja bersama. Dan tanpa sadar kita menyebut nama Allah bersama. Karena kita menyadari pertemuan yang bukan mustahil bagi Allah. Tetap seperti itu, tetap menjadi pria terbaik. Jangan pernah bosan berkirim kabar lewat doa.

Aku ingin berlayar jauh dengan dayung yang terkayuh. Aku berlayar tidak sendiri. Aku bersama Sang Pemilik nafasku. Akupun berlayar tetap membawa namamu. Namamu tetap ikut serta dalam pelayaranku yang penuh arti. Tujuan telah terhampar nyata. Terus mendayung menuju pulau harapan. Berharap pada Tuhan untuk dipertemukan. Kembali merangkai mimpi bersama karena-Nya. Tetap harus mengikut sertakan Tuhanku untuk masalah ini. Dan akhirnya aku ingin kamu menjadi nakhoda untuk kapal kita, aku penjadi partner hidup yang setia mendampingimu kemana saja. Kita sama-sama berjuang. Mendayung perahu menuju impian—impian kita. Semoga Allah mengizinkan untuk sebuah alasan pasti bahwa memang mimpi itu tidak mustahil.

Aku percaya takdir Allah untuk ini selalu indah. Tinggal kita yang memantaskan menunggu dijodohkan. Selamat berjuang dijalan Allah. Tetap berkirim kabar lewat doa. Jika kamu sedang membaca. Inget pesan aku...
" Dirimu memang tahu kalau aku sayang kamu. Tapi diriku juga berhak tahu kalau Allah memang menjadi Prioritas utamaku." kamu cukup dewasa perihal ini.

Terimakasih untuk waktu yang tidak akan pernah terulang lagi :)

Ratna dyah dwi islamiati| 28-06-15

Sabtu, 20 Juni 2015

Curhat

Alhamdulillah, karena Allah memang adil. Buktinya Aku dekat dengan-Nya perasaan yang dulunya sering linglung tanpa tujuan kini sirna oleh kebesaran dari-Nya. Diberi ketenangan hati pun sudah cukup untuk membuatku jauh lebih mengerti apa itu bahagia. Dan ternyata memang sederhana. Aku sekarang bukan dan bahkan tidak mau lagi menjadi taulang yang pergi tanpa tujuan, karena aku sudah tahu tujuan yang sangat pasti yaitu kembali ke Allah. Dan itu pasti terjadi. Maka aku menapak di bumi dengan hati-hati, jangan sampai membuat-Nya cemburu padaku.

Terus bimbing wanitamu ini menjadi wanita yang pantas untuk diperjuangkan. Amin

Ratna dyah dwi islamiati| 21-06-15

Rabu, 17 Juni 2015

Puasa #1

Hari pertama puasa. Doanya semoga diberi kekuatan, ketabahan iman, dijaga pandangan, jaga hati, dan jaga lisan. Assalamualaikum Tuhan ku yang masih welas asih mempertemukanku dengan Ramadhan lagi. Nikmat yang sungguh luar biasa. Terimakasih masih mempersatukan dengan orang-orang yang aku sayang. Terimakasih atas kebersamaan dengan keluarga ya Rabb.

Teruntuk kamu yang sedang merantau. Selamat berpuasa, Allah masih setia bersamamu. Ibu pun selalu membawa rindu dalam setiap sujudnya. Untuk mu. Semoga kita bisa bertemu dihari yang indah.

Hey bidadari² Allah. Selamat berpuasa, selamat menjaga hati, lisan dan mata kita. Perbaiki diri lagi ukhti. Mulai belajar memakai hijab, mulai belajar menjadi wanita yang disukai Allah, mulai belajar. Ayoo belajar. Emm, ukhti orang-orang tak tau, bahwa muslimah yang memakai hijab panjang sekalipun itu masih sama. Kita sama² manusia biasa, ada rasa dan juga jiwa. Masih suka berbuat dosa. Hanya dengan bimbingan dari-Nya kita bisa memperbaiki. Semoga Allah selalu senantiasa melindungi dan membimbing kita. Mari selamat berjuang menjadi bidadari Allah.

Marhaban Yaa Ramadhan

Ratna Dyah Dwi Islamiati | 18-06-15

Senin, 15 Juni 2015

Hidup di dalam-Nya

Hey Maha Romantis. Tak jarang ku memberi sebutan istimewa untuk pemilik nafasku. Dia memang Maha Segalanya. Dunia tempat ku berpijak sekarang menanpakkan nuansa biru dongker dengan udara sanyup-sayup menusuk tulang. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Masih berusaha menjadi orang yang diinginkan-Nya. Menjalani hidup bersama-Nya. Untuk sekarang jauh lebih fokus bersama-Nya.

Kembali membicarakan perasaan. Haha. Tak bosan untuk menguliti mesti sakit yang terasa. Tapi kali ini sakit itu hanya wacana yang terucapkan bibir penuh dosa. Sakit hanya ilusi yang seakan dibuat nyata. Perasaanku sedang berbunga-bunga. Kau tahu kenapa? Ini karena aku selalu hidup di dalam-Nya. Sungguh nikmat yang aku terima ketika aku dan Dia bersungguh-sunggu menjadi teman dalam segalanya. Dia memang Tuhanku yang Maha Romantis, Maha Segalanya.

Memperbaiki diri tapi tidak merubahnya seratus persen. Memantaskan untuk mendapatkan. Surga yang kekal didalamnya. Karena Allah tak pernah ingkar akan janjinya. Buat apa kita bersedih cuma gara-gara hati yang tertolak, gara-gara hati tak terespont. Ahh, sungguh sia-sia untuk hidup yang Allah beri. Cinta mana yang lebih setia dibandingkan Allah? Silakan merenungkan untuk jawaban yang sangat mudah ini.

Lantunan surat rindu yang sering kutujukan pada kekasih yang saat ini masih sudi menjaga bahkan membimbingku. Ya, Dia memang Tuhanku yang Maha Oke. Tak jarang air mata menyertai perjalananku. Aku nyaman dengan keadaan seperti ini ya Rabb. Memandang langit tanpa beban. Merangkul bumi tanpa susah payah. Karena aku yakin diri-Mu selalu bersamaku.

Hati yang dulu sering mengeluh perihal perasaan kini hanya bisa menunduk menyaksikan keindahan drama yang disajikan-Nya. Memang 'memantaskan' menjadi kunci merauk sejuta perhatian. Kini aku merasakan saat perasaan mulai ditinggikan, bahkan yang meninggikan adalah pemilik hidupku, sutradara yang mahir dalam kehidupan.

Jilbab kini melengkapi perjalananku. Ternyata memang ajaib. Hanya sebuah jilbab tapi bisa mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Silahkan untuk wanita sholehah di dunia, rasakan keajaiban itu. Perintah Allah tak pernah sia-sia untuk dijalankan. Jilbab bukan pembawa panas, tapi pembawa kesejukan bagi pemakainya. Silakan berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalian adalah bidadari-bidadari Allah.

Aku hanya ingin berpulang dengan pakaian yang disukai Allah. Aku ingin Allah menyaksikanku dengan begitu anggun. Dan aku ingin dimuliakan oleh Allah. Amin. Hanya doa yang mewakili perasaanku sekarang. Jika aku mencintai kaum adam, biarkan Allah mengetahuinya terlebih dahulu. Aku tidak ingin membuat-Nya cemburu atas ulahku. Biarkan aku menjaga suci cinta dihadapan-Nya. Biarkan kita dipertemukan dengan jalan yang Allah ridoi.

Hey kaum adam mari kita sama-sama memantaskan. Siapa tau kita dijodohkan.

Merasakan nikmat Allah itu tak pernah ada habisnya. Mencintai Allah memang selalu menjadi cinta yang kekal antara umat dan penciptanya. Sungguh luar biasa masih diberi kesempatan untuk menjaga apa yang diberi dan apa yang dijanjikan. Untuk anda silakan memperjuangkan cinta dari Allah jika ingin bahagia dunia akhirat. Amin.

Ratna Dyah Dwi Islamiati|16-06-15